Penyuap Eks Aspidum Kejati DKI Dituntut 4,5 Tahun Penjara

Faiq Hidayat - detikNews
Senin, 18 Nov 2019 18:43 WIB
Suasana persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta (Foto: Faiq Hidayat/detikcom)
Suasana persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta (Foto: Faiq Hidayat/detikcom)
Jakarta - Direktur PT Java Indoland, Sendy Pericho, dituntut 4 tahun 6 bulan penjara dan denda Rp 250 juta subsider 6 bulan kurungan. Sendy Pericho diyakini bersalah menyuap mantan Aspidum Kejati DKI Agus Winoto dan jaksa Kejati DKI Arih Wira Suranta.

"Menuntut supaya majelis hakim yang mengadili dan memeriksa perkara ini, menyatakan terdakwa Sendy Pericho dan Alfin Suherman terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi," kata jaksa KPK Wawan saat membacakan surat tuntutan dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (18/11/2019).

Perbuatan Sendy dilakukan bersama-sama dengan advokat Alfin Suherman. Sendy menunjuk Alfin Suherman sebagai pengacaranya dalam kasus dugaan penipuan dan penggelapan dana yang diduga dilakukan Hary Suwanda dan Raymond Rawung.




Perkara ini, Alfin Suherman dituntut 3 tahun penjara, denda Rp 250 juta subsider 6 bulan kurungan. Sendy dan Alfin diyakini bersalah melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a UU Pemberantasan Tipikor juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 juncto Pasal 65 ayat (1) KUHP.

Jaksa mengatakan Sendy, Hary dan Raymond mendirikan perusahaan Chaze Trade Ltd yang berlokasi di apartemen Sahid Sudirman, Jakarta Pusat. Namun, perusahaan tersebut mengalami kerugian dan tutup karena Raymond terjerat masalah hukum. Sendy pun melaporkan Hary dan Raymond ke Polda Metro Jaya.

Arih Wira kemudian ditunjuk jaksa penuntut umum untuk mengikuti perkembangan perkara tersebut. Selanjutnya, Sendy dan Alfin menemui Arih Wira di gedung Kejati DKI untuk berkenalan dan berkoordinasi perkara Hary Suwanda dkk.

Alfin Suherman pun disebut jaksa meminta bantuan kepada Tjhin Tje Ming alias Aming agar dikenalkan Agus Winoto dengan maksud berkas perkara Hary Suwanda dkk mendapat perhatian khusus. Menindaklanjuti permintaan tersebut, jaksa mengatakan Aming meminta Alfin Suherman menemui Yuniar Sinar Pamungkas selaku Kasi Keamanan Negara Ketertiban Umum dan Tindak Pindana Umum Lain Kejati DKI Jakarta.

Atas pertemuan itu, jaksa mengatakan, Sendy dan Alfin memberikan uang Rp 150 juta kepada Arih Wira agar berkas perkara tersebut dinyatakan lengkap dan dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Jakarta Barat serta memperberat tuntutan pidana Hary dkk.

Tapi Hary dkk bersepakat dengan Sendy untuk membayar kerugian sekitar Rp 11 miliar dan dibuatkan akta perdamaian. Pada tahap penuntutan Hary, Alfin menemui Aming untuk menghubungi Agus Winoto agar tidak dituntut 2 tahun penjara.

Alfin kembali menyerahkan uang Rp 200 juta kepada Arif Wira agar diberikan keringanan tuntutan Hary dkk karena sudah berdamai.

Pada akhirnya, Alfin Suherman menyerahkan uang Rp 200 juta serta dokumen perdamaian kepada Yadi Herdianto yang disuruh Yuniar Sinar di Mall Of Indonesia, Jakarta. Uang tersebut untuk diserahkan kepada Agus Winoto di kantornya agar meringanhkan tuntutan Hary dkk.

"Berdasarkan uraian diatas, maka unsur memberikan hadiah atau janji terpenuhi secara hukum," kata jaksa.

Selain itu, Alfin Suherman diyakni bersalah memberikan suap kepada empat pejabat Kejati Jawa Tengah. Uang tersebut agar pejabat Kejati Jateng mengurus perkara pemilik PT Suryasemarang Sukses Jayatama, Surya Soedharma.




Empat pejabat tersebut adalah Kusnin selaku Aspidsus Kejati Jawa Tengah, M Rustam Efendy selaku Kasi Penuntutan Tindak Pidana Khusus Jateng, Adi Wicaksana selaku Kasi Eksekusi, dan Eksaminasi Tindak Pidana Khusus Kejati Jateng serta Benny Chrisnawan selaku Staf Tata Usaha Kejati Jateng.

Kusnin menerima Rp 1 miliar, SGD 325 ribu dan USD 20 ribu. Selain itu, Alfin memberikan amplop berisi uang dengan inisial nama kepada Benny (USD 10 ribu), Adi Wicaksana (USD 10 ribu), Musriyono (USD 7 ribu) dan Dyah Purnamaningsih (USD 7 ribu), serta Rustam Efendy (USD 10 ribu).

Perbuatan Alfin Suherman dilakukan bersama-sama dengan Surya Soedharma dan Hendra Setiawan. Saat itu Surya disangka penyidik Dirjen Bea-Cukai Kanwil Jateng melakukan pidana di bidang kepabeanan yang merugikan negara sekitar Rp 33 miliar.

Jaksa juga mengabulkan permohonan justice collaborator (JC) yang diajukan Alfin Suherman karena memenuhi persyaratan Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA). Keterangan Alfin sejak penyidikan hingga penuntutan juga mengungkap adanya pelaku lain.

"Disamping itu sikap terdakwa Alfin Suherman sangat kooperatif dalam memberikan keterangan di persidangan ini haruslah diapresiasi dan selayaknya menjadi alasan yang meringankan tuntutan pidana sehingga melahirkan tuntutan pidana adil," papar jaksa. (fai/dhn)