'Radikal' Bermula dari Perjuangan HAM hingga Hak Pilih di Inggris

Menyoal Radikal

'Radikal' Bermula dari Perjuangan HAM hingga Hak Pilih di Inggris

Danu Damarjati - detikNews
Minggu, 17 Nov 2019 16:52 WIB
Ilustrasi (detikINET/Rachmatunnisa)
Ilustrasi (detikINET/Rachmatunnisa)
Jakarta - Penggunaan istilah radikal di Indonesia tengah dibahas. Sebenarnya, awal kemunculan istilah problematis ini lekat dengan kaum yang memperjuangkan hak asasi manusia (HAM) di Inggris.

Dilansir dari Encyclopaedia Britannica, Minggu (17/11/2019), istilah radikal pertama kali diperkenalkan oleh Charles Jamex Fox saat dia mendeklarasikan 'reformasi radikal' pada 1797, alias akhir abad ke-18.


Saat itu, Fox memperjuangkan perluasan hak pilih dari warga negara pria yang sudah dewasa. Istilah 'radikal' mulai digunakan secara umum untuk menyebut pendukung gerakan reformasi parlementer itu.

Dilansir dari buku 'The Liberal Awakening 1815-1830' karya Elie Halevy, kaum radikal muncul di akhir abad ke-18 dan mengubah kaum Whig menjadi partai liberal.

Awalnya, istilah 'radikal' populer karena digunakan kaum Tory (konservatif) untuk menyebut kaum revolusioner dengan nada mengejek. Pada 1819, kaum radikal bukan hanya berjuang untuk penegakan hak pilih, melainkan juga untuk mengembalikan lahan ke masyarakat dan menghapus kepemilikan pribadi.


Undang-Undang Reformasi Parlemen Tahun 1832 lahir berkat aksi-aksi yang berlandaskan Magna Carta. UU itu, di Inggris, juga disebut sebagai 'Magna Carta Kedua'. Tahun itu adalah momentum awal reformasi legislatif di Inggris sebelum akhirnya Inggris menerapkan 'hak pilih universal' pada 1928.

Hak pilih universal berarti semua orang tanpa memandang jenis kelamin ataupun kelas, asalkan sudah dewasa, maka boleh menyalurkan aspirasinya dalam pemilu. Sebelumnya, hanya laki-laki dewasa saja yang mempunyai hak pilih.
Selanjutnya
Halaman
1 2 3