detikNews
2019/11/17 13:12:39 WIB

Menyoal Radikal

Menyoal Ganti Diksi Radikalisme, dari Jokowi hingga Sekjen PBB

Tim detikcom - detikNews
Halaman 1 dari 4
Menyoal Ganti Diksi Radikalisme, dari Jokowi hingga Sekjen PBB Ilustrasi Presiden Jokowi (Dok. Kris/Biro Pers Sekretariat Presiden)
Jakarta - Istilah radikalisme kerap digunakan di Indonesia untuk menyebut ideologi teroris. Belakangan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) seolah mengajak semua pihak berpikir ulang mengenai pilihan kata itu. Ternyata Sekjen PBB juga pernah menyoalnya.

Awalnya, Jokowi menegaskan soal pentingnya upaya serius untuk menangkal radikalisme. Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud Md diperintahkannya untuk mengkoordinasi penanganan tersebut. Kemudian Jokowi mewacanakan penggantian diksi radikalisme.

"Apakah ada istilah lain yang bisa kita gunakan, misalnya manipulator agama. Saya serahkan kepada Pak Menko Polhukam untuk mengkoordinasikan masalah ini," kata Jokowi dalam rapat terbatas di Istana Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Kamis (31/10/2019) lalu.

Sejak saat itu, wacana penggantian diksi 'radikalisme' menjadi 'manipulator agama' menggelinding. Ada yang setuju, ada pula yang tidak.

Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis menyatakan tak setuju dengan usul Jokowi itu. Cholil menilai kedua istilah tersebut sebagai dua hal yang berbeda.

"Saya melihat antara manipulator agama dan radikalisme itu dua hal berbeda. Manipulator itu orang yang tahu kebenaran kemudian dia memanipulasi, membohongi. Sementara radikalisme itu paham yang mendalam tentang sesuatu dan paham itu jadi ekstrem," kata Cholil saat dihubungi, Kamis (31/10).


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com