detikNews
2019/11/17 10:25:46 WIB

Medsos Disorot Jadi Inkubator Terorisme yang Sasar Anak Muda

Pasti Liberti Mappapa, Deden Gunawan - detikNews
Halaman 1 dari 4
Medsos Disorot Jadi Inkubator Terorisme yang Sasar Anak Muda Ilustrasi teroris (Luthfy Syahban/detikcom)
Jakarta - Terduga terorisme AT dibekuk Detasemen Khusus 88 Antiteror di Jembrana, Bali, empat pekan lalu. AT disebut intens berkomunikasi dengan Syahrial Alamsyah alias Abu Rara, pelaku penikaman mantan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto di Pandeglang, Banten.

AT tak ditangkap sendirian. Putranya, ZAI, yang baru berusia 14 tahun turut disergap polisi. Keduanya diduga merencanakan aksi teror di wilayah Bali. Dari tangan bapak dan anak ini, polisi menyita busur panah, mur, baut, dan komponen lainnya yang diduga dijadikan bahan bom.


ZAI bukan satu-satunya anak remaja yang terpapar radikalisme. Setengah tahun sebelumnya, polisi mencokok YM alias Kautsar, remaja berumur 18 tahun di Rawalumbu, Bekasi. Kautsar, yang juga atlet karate, direkrut oleh amir Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Bekasi, EY alias Rafli, sejak masih bersekolah di sebuah SMA negeri.

Penangkapan demi penangkapan itu menambah panjang deretan remaja yang terlibat aksi teror. Peristiwa pengeboman di Surabaya pada Mei 2018 ataupun bom Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur, pada November 2016 juga melibatkan anak remaja. Dua pelaku di Samarinda masih berumur 16 dan 17 tahun. Mereka punya peran sebagai pembuat bom.

Peneliti terorisme Hasibullah Satrawi menyebut aksi anak-anak muda tersebut beberapa karena mengikuti orang tua yang lebih dulu terpapar paham ekstremisme. Ini terjadi dalam kasus bom dua gereja di Surabaya. "Namun ada juga anak-anak yang secara aktif melakukan tindakan teror," ujar Hasibullah.


Anak-anak aktif ikut melakukan aksi terorisme tersebut, ujar Hasibullah bisa terjadi karena kelompok teroris saat ini mengalami 'milenialisasi'. Kelompok teroris dengan mudah menyusupkan beragam propaganda yang mampu memikat pengguna internet dan media sosial.

"Tren media sosial berpengaruh juga di dalam jaringan ini. Mereka mampu memanfaatkan media sosial untuk menggalang, merekrut, mempengaruhi, dan mengajak, terutama anak-anak remaja," ujar Hasibullah. "Tak hanya itu, pemberian materi pengeboman juga dilakukan lewat jalur media sosial."


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com