Anies Baswedan Bilang 'Poya Mothig Poya Haha', Bahasa Apa Itu?

Danu Damarjati - detikNews
Sabtu, 16 Nov 2019 06:14 WIB
Karangan bunga Anies Baswedan untuk Kagama, Poya Mothig Poya Haha. (Aditya Mardiastuti/detikcom)
Karangan bunga Anies Baswedan untuk Kagama, Poya Mothig Poya Haha. (Aditya Mardiastuti/detikcom)

Konon, pengguna awal bahasa walikan ini adalah para gentho, gali, garong, alias preman. Copet, maling, dan rampok menggunakan bahasa ini supaya percakapan mereka tidak diketahui otoritas Orde Baru kala itu. Namun lama kelamaan, bahasa ini mulai dipahami orang non-kriminil.

Ada pula versi sejarah heroiknya yang juga populer, bahasa walikan digunakan oleh pejuang-pejuang zaman dulu supaya percakapan mereka tidak dipahami penjajah Belanda. Entah mana versi sejarah yang benar, belum ada yang cukup meyakinkan sejauh ini.



Yang jelas, pada dekade '80-an di Jogja, bahasa walikan mulai menjadi bahasa gaul. Anak-anak muda Kota Pelajar mulai sering menggunakan 'boso walikan' ini.

Sebenarnya ini bukan sepenuhnya 'bahasa' dalam artian formal, melainkan hanya ragam bahasa yang tidak resmi dan tidak baku, alias bahasa slang. Pemakaiannya pun bukan diterjemahan dalam satu kalimat penuh, melainkan hanya sepotong-sepotong, atau kata-kata tertentu saja yang dibalik.

Sejauh pemahaman penulis, bahasa walikan Jogja lain dengan bahasa walikan Malang yang caranya langsung dibalik lewat cara bacanya. Misalnya, bila di Malang, kata sapaan 'mas' menjadi 'sam'. Tapi di bahasa walikan Jogja, kata sapaan 'mas' menjadi 'dab'. Versi Jogja sedikit lebih memusingkan.

Anies Baswedan Bilang 'Poya Mothig Poya Haha', Bahasa Apa Itu?Foto: Ristu Hanafi/detikcom

Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4 5