detikNews
2019/11/14 22:02:46 WIB

Asrorun Niam Paparkan Standar Hewan Halal di Forum Pangan Halal Dunia

Jabbar Ramdhani - detikNews
Halaman 1 dari 2
Asrorun Niam Paparkan Standar Hewan Halal di Forum Pangan Halal Dunia Ketua Komite Syariah World Halal Food Council (WHFC) Asrorun Niam Sholeh (Foto: Istimewa)
Jakarta - Ketua Komite Syariah World Halal Food Council (WHFC) Asrorun Niam Sholeh memaparkan standar hewan halal untuk dijadikan pedoman bagi lembaga sertifikasi halal dunia. Dia memaparkan tentang standardisasi hewan halal yang bisa dikonsumsi dan dijadikan bahan dalam produk pangan.

"Pembahasan standar ini penting untuk menjadi pedoman dalam proses sertifikasi halal, dan pengakuan sertifikat halal dari lembaga halal dunia. Pertemuan ini sangat strategis, terlebih ini momentum pertama pasca-berlakunya efektif kewajiban sertifikasi halal sesuai UU Jaminan Produk Halal," kata Asrorun dalam keterangannya, Kamis (14/11/2019).

Hal ini disampaikan dalam sidang pleno yang digelar di Hotel Sheraton Jakarta, Kamis (14/11). Annual General Meeting WHFC yang diikuti 48 lembaga halal dunia dari 26 negara ini digelar Rabu-Kamis (13-15/11).


Pembahasan hewan halal ini merupakan rekomendasi tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya yang dilaksanakan di Australia, Italia, dan Indonesia. Penetapan standar hewan halal diangkat seiring makin berkembangnya teknologi pangan, terutama yang menggunakan bahan hewani.

Niam, yang juga menjabat Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), menjelaskan, hewan halal itu ada yang disebutkan secara eksplisit dalam Alquran dan ada yang disebutkan indikasinya.

"Setidaknya ada enam indikasi yang membuat hewan itu haram dimakan, yaitu karena masuk kategori kotor (khabits), membahayakan (dlaarrah), diperintahkan untuk dibunuh, dilarang untuk dibunuh, sebagai hewan buas yang memiliki taring, memiliki kuku tajam untuk memangsa, serta hewan yang mayoritas makannya barang najis dan kotor," ujar doktor bidang hukum Islam ini.


Setelah itu, jika sudah teridentifikasi jenis hewannya apakah masuk kategori boleh dimakan (ma'kul al-lahm), harus dipastikan persyaratan berikutnya, yaitu proses penyembelihan dan pengolahannya.

"Kaedahnya, daging hewan yang halal dikonsumsi itu belum boleh dikonsumsi selama belum ada kejelasan tentang proses penyembelihan dan pengolahannya. Dalam konteks bisnis produk pangan, di sinilah urgensi pemeriksaan, auditing, dan sertifikasi halal, guna memberikan jaminan kepada konsumen akan kehalalan produk," ujarnya.



Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com