detikNews
Kamis 14 November 2019, 16:06 WIB

Calon Hakim Agung Ini Janji Tak Akan Terpengaruh Publik Adili Penistaan Agama

Yulida Medistiara - detikNews
Calon Hakim Agung Ini Janji Tak Akan Terpengaruh Publik Adili Penistaan Agama Soesilo
Jakarta - Calon hakim agung Soesilo berbicara tentang penanganan kasus penistaan agama. Ia berjanji, jika terpilih menjadi hakim agung, ia tidak akan terpengaruh tekanan publik.

Hal itu dia sampaikan dalam sesi wawancara calon hakim agung di gedung Komisi Yudisial (KY). Soesilo mengatakan seseorang harus diproses hukum jika perbuatannya terbukti melanggar kasus penistaan agama.

"Kalau memang deliknya masih diatur dan memang melakukan perbuatan seperti yang dirumuskan, ya, tentunya harus diadili, diproses dia, dan tidak serta-merta nanti ada permintaan dibebaskan begitu saja, tidak," kata Soesilo di Komisi Yudisial, Jl Kramat, Jakarta Pusat, Kamis (14/11/2019).

Soesilo kemudian dicecar terkait makalahnya yang menyinggung perlunya hakim mempertimbangkan keadaan sosial. Komisioner KY, Aidul Fitria Azhari, meminta pendapat Soesilo terkait pertimbangan keadaan sosial dengan kasus penistaan agama.


Menjawab hal itu, Soesilo mencontohkan kasus penistaan agama yang pernah dia alami di Atambua. Menurutnya, meskipun ada tekanan publik, orang yang diduga melakukan perbuatan terkait penistaan agama itu tetap diproses hukum.

"Delik penistaan agama yang pernah kami lakukan ketika kami di Atambua memang demikian pressure-nya. Pressure dalam arti untuk melakukan penghukuman. Dengan demikian, ketika kita hukum, ya, masyarakatnya itu biasa yang penting itu nggak bermasalah," kata Soesilo.

Kemudian, Soesilo kembali dicecar mengenai tekanan publik di tingkat nasional ataupun internasional dikaitkan dengan kebebasan beragama. Merespons hal itu, Soesilo mengaku tetap akan memberi hukuman bila memang orang yang bersangkutan bersalah meskipun ada tekanan.

"Saya akan melihat secara kasusnya, pressure-nya yang bagaimana. Kalau yang pressure-nya itu hanya sebatas pressure saja dan tidak membahayakan bagi kantor, keluarga, saya akan tetap putus perkara itu sesuai hukum yang saya yakini bahwa dia bersalah," kata Soesilo.

Tak hanya itu, KY juga menguji terkait komitmen kemandirian hakim dalam mengadili kasus penistaan agama apabila Soesilo menjadi hakim agung di Mahkamah Agung, disertai adanya perhatian dunia internasional. Menanggapi hal itu, Soesilo berjanji tetap akan mengadili orang tersebut jika terbukti bersalah.

"Saya ingin memperluas Pak, seandainya menjadi perhatian internasional. Lalu di tingkat nasional pemerintah dipertanyakan komitmennya tentang kebebasan beragama. Bapak kan nanti di Mahkamah Agung posisinya, MA tidak akan berhitung pada tingkat lokal, tapi Mahkamah Agung berhitung pada tingkat global bagaimana bapak menyikapi kasus ini apabila muncul bukan tekanan, tapi masalah masalah di tingkat internasional terkait penistaan agama ini?" tanya Aidul.


Menurut Soesilo tekanan publik akan hilang dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Soesilo menyebut, jika keberatan oleh putusan hakim kasasi, pihak yang bersangkutan bisa melakukan opsi lain, yaitu meminta grasi ke presiden.

"Kalau memang nanti sudah sampai tingkat MA kalau memang hukumnya seperti itu, saya kira enggak. Tekanan tekanan seperti itu kan akan hilang dengan sendirinya. Dalam arti kenapa kita harus takut gitu loh pada tekanan luar. Kalau memang hukumnya seperti itu mau diapakan. Kalau memang dia nggak terima kan ada, kalau memang dihukum dia bisa grasi atau minta kepada presiden sehingga putusan kita bisa dialihkan menjadi apa silakan itu urusan presiden," ujarnya.
(yld/asp)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com