Tukar Uang Cash Rp 23 M Wiranto, Bambang 100 Minggu Bolak-balik Singapura

Andi Saputra - detikNews
Rabu, 13 Nov 2019 14:53 WIB
Foto: Bambang Sujagad Susanto (ist.)
Foto: Bambang Sujagad Susanto (ist.)
Jakarta - Bambang Sujagad Susanto dengan tenang menceritakan perjalanan sengketa dengan Wiranto terkait uang SGD 2,3 juta atau setara Rp 23 miliar. Kadang diselingi tawa, ia menyatakan menyerahkan kepercayaan kepada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus) untuk menyelesaikan sengketa dengan mantan Menko Polhukam itu.

Uang cash itu dalam bentuk uang lembar pecahan SGD 10 ribu atau setara Rp 100 juta per lembarnya diterima Bambang pada 2009. Masa edar uang kertas itu tahun 1997 hingga 2002. Karena sudah kedaluwarsa, uang itu tidak bisa dipakai lagi di pasaran.
Tukar Uang Cash Rp 23 M Wiranto, Bambang 100 Minggu Bolak-balik SingapuraFoto: ANTARA FOTO

Untuk mencairkan uang itu agar bisa dipakai lagi, Bambang Sujagad Susanto harus puluhan kali ke Singapura untuk menukarnya uang kedaluwarsa itu. Sebab, WNA yang masuk ke Singapura dibatasi membawa uang cash, yaitu maksimal membawa uang cash SGD 38 ribu atau 4 lembar pecahan SGD 10 ribu.

"Saya bolak balik Singapura. Saya memerlukan banyak waktu untuk menukarkan menjadi 231 lembar, kurang lebih 100 minggu ( 2 tahun)," ujar Bambang saat berbincang dengan detikcom, Rabu (13/11/2019).

Setelah uang itu cair, kemudian diperuntukkan dalam bisnis trading baru bara. Pada 2015, Wiranto meminta uang yang dititipkannya dikembalikan. Pesan itu disampaikan oleh orang kepercayaan Wiranto.

Bambang yang saat itu juga sebagai Bendahara Umum Partai Hanura langsung menyanggupi. Apalagi Wiranto kala itu sebagai Ketua Umum Partai Hanura.

Bambang kemudian mengembalikan SGD 675 ribu lewat Bank BNI Menteng. Uang itu ditransfer ke orang kepercayaan Wiranto di sebuah Bank di Singapura.

"Tidak (ke rekening atas nama Wiranto)," kata Bambang yang menjadi Bendahara Umum Partai Hanura selama 2 periode itu.

Karena bisnis batu bara lesu dan bangkrut, uang titipan Wiranto yang dipakai untuk bisnis batu bara juga menjadi seret. Bambang berjanji akan mengembalikan bila bisnis udah pulih lagi. Ia kaget karena tiba-tiba muncul gugatan di PN Jakpus.

"Sebagai warga negara, kami mempercayakan kepada putra-putri kita di dalam pengadilan. Saya yakin masih banyak yang berani menegakan keadilan. Kita harus percayakaan kepada mereka," ujar Bambang.


Pria kelahiran Purworejo, 16 Februari 1954 merupakan salah satu pengusaha sukses di Indonesia. Dengan bendera Repindo Group, ia menggarap berbagai industri vital di berbagai sektor. Seperti jasa pelayaran hingga bisnis galangan kapal. Bambang juga sempat menjadi Wakil Ketua Kadin dua periode.

"Bukannya sombong, saya bukan pengusaha kaki lima," tutur Bambang.

Lalu apa versi Wiranto? Melalui kuasa hukumnya, Adi Warman, ia menyatakan uang itu adalah uang pribadi Wiranto.

"Jadi itu sumber uang, uang pribadi, uang Pak Wiranto klien kami. Saya tegaskan itu tidak ada uang partai, itu uang pribadi," kata Adi Warman.

Adi menjelaskan, uang Rp 23 miliar itu hendak disetor Wiranto ke rekening pribadinya, namun melalui perantara Bambang Sujagad. Saat penyerahan uang itu, ada kesepakatan antara Wiranto dan Bambang untuk tidak boleh memakai uang itu tanpa sepengetahuan Wiranto.

"Jadi uang itu dititip ke Pak Bambang untuk disetorkan ke bank, dititip untuk disetor ke bank, dan di situ sepakat kedua-keduanya dilarang Pak Bambang pakai uang tersebut tanpa seizin Pak Wiranto. Apabila Pak Wiranto memerlukan, ya, boleh diambil kembali, nah faktanya saat Pak Wiranto minta, itu Pak Bambang nggak ngasih," kata Adi menjelaskan.

Dia mengatakan Wiranto sudah beberapa kali mencoba menagih ke Bambang. Namun selalu ada alasan Bambang untuk menghindar.

"Faktanya waktu klien kami minta secara, baik banyak sekali alasan, alasannya sudah digunakan untuk usaha," ucapnya.

Dalam gugatannya, Wiranto meminta uang dikembalikan utuh plus bunga dan kerugian. Selain itu, Wiranto juga meminta uang paksa (dwangsom) sebesar Rp 5 juta per hari apabila tidak melaksanakan putusan pengadilan. Total mencapai Rp 44,9 miliar. (asp/aan)