Menerawang Masa Depan PKS Vs Gelora Anis Matta

Mochamad Zhacky - detikNews
Selasa, 12 Nov 2019 13:44 WIB
Fahri Hamzah (kiri) dan Anis Matta (kanan) (Foto: instagram)
Fahri Hamzah (kiri) dan Anis Matta (kanan) (Foto: instagram)
Jakarta - Kehadiran Partai Gelombang Rakyat (Gelora) menjadi warna baru bagi kontestasi politik di Tanah Air. Pengamat politik Hendri Satrio menilai Gelora bisa menjadi batu sandungan bagi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) jika mempunyai tiga aspek ini.

Sebelum masuk ke tiga aspek yang dimaksud, Hendri lebih dulu mengulas perjalanan politik Demokrat dan NasDem pada awal kemunculannya. Hendri menilai salah satu aspek penting yang dimiliki Demokrat dan NasDem adalah tokoh sentral.



"Demokrat ini kan punya tokoh sentral, punya tokoh sentral yang namanya SBY. Bahkan kemudian SBY jadi presiden. Padahal Demokrat waktu itu cuma 7 persen (perolehan suaranya). Jadi tokoh sentral ini utama," kata pengamat politik Hendri Satrio kepada wartawan, Selasa (12/11/2019).

"Kemudian, yang kedua, kita bicara NasDem. NasDem itu kekuatannya ada dua, yaitu tokoh luar yang memperkuat NasDem dan membesarkan NasDem, misalnya seperti Ridwan Kamil, Jokowi," imbuhnya.



Tokoh sentral inilah yang menurut Hendri harus dimiliki Gelora dan PKS. Lalu, bagaimana pandangan Hendri terkait tokoh-tokoh di Gelora?

"Nah, apakah Gelora punya tokoh sentral saat ini? Ada. Tapi levelnya belum seperti SBY waktu itu. Ada Mas Fahri (Fahri Hamzah), ada Mas Anis Matta, Deddy Mizwar. (Tokoh-tokoh) ini bagus-bagus, tapi levelnya belum seperti Pak SBY," sebut Hendri.

Bicara NasDem, Hendri menyebut ada faktor lain yang ikut mendompleng nama partai besutan Surya Paloh itu. Faktor yang dimaksud adalah media massa.



"Kemudian yang kedua, kekuatannya (NasDem) adalah media massa. Nah kalau kita balik ke Gelora, apakah kemudian Gelora akan memiliki media TV atau tidak, nah ini yang belum tahu," ucapnya.

Meskipun demikian, penguatan dari tokoh luar partai dan kepemilikan media massa saja, menurut Hendri, tidak menjadi jaminan. Dia menyarankan Gelora dan PKS belajar dari Perindo.

"Dan terus kemudian yang kedua kan mesti belajar juga dari Perindo. Perindo punya TV, tapi dia nggak punya tokoh sentral yang kuat dan dia terlambat menghadirkan tokoh besar di Perindo, mendukung Jokowi-nya telat. Makanya kemarin baru dalam posisi hampir masuk Senayan (DPR)," terangnya.



Hendri menjelaskan, dari penjabaran tersebut, bisa disimpulkan bahwa ada tiga hal yang harus dimiliki, khususnya untuk Gelora, agar bisa menggebrak di awal kemunculannya.

"Jadi memang tiga hal itu harus ada, nama besar level nasional, kemudian kekuatan jaringan media massa. Kemudian yang ketiga adalah dukungan tokoh yang sudah populer, mendompleng tokoh yang sudah populer maksudnya," papar Hendri.



Soal pertarungan Gelora vs PKS, Hendri menilai akan alot. Dia menyakini Gelora akan menjadikan putusan pengadilan terkait gugatan Fahri sebagai senjata.

"Yang dimiliki Gelora saat ini kan saat ini memang keputusan pengadilan itu, yang PKS mesti bayar ke Fahri Hamzah. Menurut saya, ini akan terus, akan lama sampai salah satu pihak menyelesaikan komitmen," jelasnya. (zak/mae)