Pakar Ekspresi: Emosi Nyinyir Saat Jokowi Bicara Pelukan di Depan Paloh

Pakar Ekspresi: Emosi Nyinyir Saat Jokowi Bicara Pelukan di Depan Paloh

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Selasa, 12 Nov 2019 11:55 WIB
Presiden Jokowi di HUT ke-8 NasDem. (Andhika/detikcom)
Presiden Jokowi di HUT ke-8 NasDem. (Andhika/detikcom)
Jakarta - Kecurigaan politik sempat muncul usai Presiden Jokowi menyoroti pelukan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh dengan Presiden PKS Sohibul Iman. Jokowi mengaku ucapannya terkait itu tak perlu dibesar-besarkan karena itu hanya soal kecemburuan. Namun, ucapan Jokowi dinilai mengandung emosi nyinyir.

Pakar ekspresi Handoko Gani mulanya mengingatkan publik tak hanya fokus pada pelukan yang disampaikan Jokowi. Pasalnya, pelukan Jokowi-Surya Paloh dan Paloh-Sohibul punya perbedaan. Handoko merupakan satu-satunya trainer Interview dan Analisis Perilaku (Human Lie Detector) dari latar belakang Sipil yang memiliki otorisasi penggunaan alat layered voice analysis (LVA).

"Pesannya bukan di pelukan. Ini jangan terpaku pada pelukan. Ini justru mengingatkan. Ketika kita melihat pelukan antara Surya Paloh-Sohibul Iman versus Surya Paloh-Jokowi, sesungguhnya kita melihat dua jenis pelukan yang memang berbeda. Surya Paloh-Sohibul Iman tentunya spontan. Sedangkan, Surya Paloh-Jokowi tentunya tidak spontan," kata Handoko kepada wartawan, Selasa (12/11/2019).


Handoko menduga perbedaan pelukan ini ada karena faktor emosi itu sendiri. "Hipotesis saya, perbedaan kedua adalah pada emosinya itu sendiri. Kita tahu bahwa berpelukan antarpria di Indonesia itu sesuatu hal yang bukan budaya. Kebiasaan pun hanya dilakukan bila kedua belah pihak terbiasa dengan berpelukan," ujarnya.

"Kita melihat bahwa pelukan Paloh-Sohibul adalah pelukan bermakna keakraban, dengan perasaan pertemanan yang gembira. Sementara, pelukan Paloh-Jokowi adalah pelukan yang lebih bermakna 'saling memaklumi, saling memaafkan, saling guyup kembali'," lanjutnya.


Handoko lantas menyoroti ucapan Jokowi ketika bicara soal tidak ada yang salah dengan pelukan atau rangkulan. Menurutnya, ketika berbicara soal itu, ada emosi nyinyir di dalamnya.

"Pak Jokowi tidak fokus di pelukannya, tapi di niat. Buktinya ketika bicara 'apa yang salah...?' kembali pada niatnya. Di saat mengatakan 'apa yang salah' di menit 0:51, terlihat adanya gerakan Action Unit R14B, yang merupakan gerakan emosi nyinyir," ungkapnya.
Selanjutnya
Halaman
1 2