Kemenag Tulis Ulang Buku Pelajaran Agama untuk Tangkal Radikalisme

Dwi Andayani - detikNews
Senin, 11 Nov 2019 16:14 WIB
Dirjen Pendidikan Islam Kemenag Komaruddin Amin (tengah) dalam diskusi di Forum Merdeka Barat 9 di Kementerian Komunikasi dan Informatika. (Dwi/detikcom)

Komaruddin menyebutkan salah satu contoh kesalahan dalam buku pelajaran agama terkait khilafah. Menurutnya, pengertian 'khilafah' bisa disalahpahami oleh murid ataupun guru bila tidak dijelaskan dengan baik.

"Seperti tadi saya sampaikan bahwa khilafah itu kan bisa disalahpahami oleh anak-anak kita, oleh guru-guru kita, juga bisa salah paham kalau tidak dijelaskan secara baik," kata Komaruddin.

"Khilafah itu kan pernah ada dalam sejarah Islam sampai runtuhnya Turki Usmani kan, pada tahun 1923 ya. Sebelumnya, khilafah artinya pemerintahan global seluruh dunia, itu nggak mungkin sekarang negara bangsa itu seperti ini nggak mungkin dong masa pemerintahannya di Indonesia, meng-cover seluruh dunia, itu kan mustahil," sambungnya.


Selain di sekolah, pencegahan dilakukan di perguruan tinggi. Seluruh perguruan tinggi diminta membuat pusat kajian moderasi beragama.

"Kita minta pada seluruh perguruan tinggi agar membuat sebuah pusat kajian moderasi beragama, di situ nanti bisa menjadi tempat diskusi kemudian memproduksi kontranarasi terhadap radikalisme. Membuat kontranarasi terhadap isu-isu terorisme atau membuat diskursus keilmuan yang berorientasi pada moderasi beragama di samping bentuk kurikulum," tuturnya.
Halaman

(dwia/idh)