Abdullah si Pengayuh Becak, Petempur di Palagan Surabaya

Pasti Liberti Mappapa - detikNews
Minggu, 10 Nov 2019 18:55 WIB
Foto: Ilustrasi perobekan bendera Belanda di Surabaya (dok. detikcom)
Foto: Ilustrasi perobekan bendera Belanda di Surabaya (dok. detikcom)
Jakarta - Kapal perang Inggris mulai membombardir kota Surabaya beberapa menit setelah pukul 6 pagi, batas waktu yang diberikan pasukan Sekutu agar seluruh senjata di Surabaya diserahkan.

Koresponden Reuters seperti yang dikutip harian berbahasa Belanda Het Dagblad tanggal 12 November 1945 melaporkan empat pesawat "Thunderbolts" dan satu "Mosquito" dari Royal Air Force atau Angkatan Udara Kerajaan Inggris turut mengebom sejumlah gedung fasilitas publik. Gedung ini diduga dijadikan tempat berkumpulnya laskar bersenjata dan pemuda Surabaya.


Empat jam digempur habis-habisan, kota Surabaya terbakar hebat. Pasukan Inggris dari Divisi India ke-5 kemudian diberi tugas menyisir kota. Dalam perspektif media Belanda pasukan Inggris ini disebut diberi tugas membersihkan kota dari elemen kelompok ekstrimis bersenjata.

Dibombardir tak membuat Surabaya langsung takluk. Perlawanan rakyat Surabaya malah justru berkobar hebat. Dari berbagai cerita dari pertempuran sengit tersebut terselip kisah tentang Abdullah seorang pengayuh becak yang kemudian menjelma menjadi petempur dan komandan pasukan.

Abdullah berasal dari Gorontalo. Sewaktu masih anak-anak, dia diambil sebagai anak angkat oleh keluarga pelaut asal Madura. Keluarga dari MAdura inilah yang kemudian membesarkannya.

Abdullah si Pengayuh Becak, Petempur di Palagan SurabayaFoto: Mayor Abdullah (Dok. buku Sedjarah Bataljon Y)

Tak ada catatan kapan Abdullah lahir. Surat kabar Merdeka, edisi 12 Oktober 1950, dalam artikel berjudul Tewas dalam Melakukan Tugas untuk Ibu Pertiwi : Letkol Sudiarto dan Mayor Abdullah hanya menyebut semasa kecil sampai remaja Abdullah tak pernah mengenyam pendidikan formal.


Pekerjaannya hampir mirip ayah angkatnya. Abdullah disebut berlayar keluar masuk pelabuhan Surabaya. Masa pendudukan Jepang dia lantas bekerja sebagai pengendara becak. Tak hanya sekedar mengayuh becak, Abdullah turut dalam organisasi pengemudi becak di kota itu.

Semasa itu pula mengikuti pemuda-pemuda lainnya, Abdullah mengenal latihan-latihan dasar kemiliteran dengan bergabung Jibakutai. Jibakutai merupakan pasukan berani mati organisasi paramiliter atau milisi bentukan Jepang.

Proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 tak mengubah nasib Abdullah. Dia masih setia pada becaknya. Hanya saja, setiap tentara republik yang saat itu masih bernama Badan Keamanan Rakyat (BKR) naik becaknya, Abdullah selalu menggratiskan.

Suatu ketika, dia bertemu dengan Andi Ahmad Aries seorang pelaut yang juga komandan Pangkalan di Surabaya. Andi Ahmad Aries bekas anggota Angkatan Laut Kerajaan Belanda sebenarnya tidak diangkat resmi pemerintah Indonesia yang baru lahir sebagai komandan pangkalan.


Namun Ahmad Arief berinisiatif untuk sementara tampil di depan sebagai pimpinan. Dia juga mengambil tanggung jawab melucuti dan merampas senjata tentara Jepang yang berada di Surabaya. Ahmad Arief ini yang kemudian mengajak Abdullah turut bergabung dalam BKR Laut.

Radik Djawardi dalam buku Sedjarah Bataljon "Y" menyebut BKR Laut di Surabaya terbentuk pada 10 September 1945. Di dalamnya terdapat pasukan-pasukan yang dipimpin oleh pemuda-pemuda seperti Abdullah, Soelaeman Goerni, Lastirah, dan lain-lain.

BKR Laut kemudian bersalin nama jadi TKR Laut pada 5 Oktober 1945. "Pasukan Abdullah yang tidak begitu besar jumlahnya bertempur dengan gigih," tulis Radik. Karena kegigihannya melawan pasukan Sekutu itu, pasukan Abdullah jadi kondang sepanjang pertempuran Surabaya. Pasukannya lalu mendapat julukan Bajak Laut.

Abdullah si Pengayuh Becak, Petempur di Palagan SurabayaFoto: Sekutu membumihanguskan Surabaya (Photo by Keystone/Getty Images)


Pertempuran berlangsung sekitar tiga minggu. Awal bulan Desember 1945 tentara Inggris dan Belanda mulai menduduki Surabaya. Pemuda-pemuda terpaksa mundur meninggalkan kota.

Analisis Abdul Haris Nasution terkait pertempuran Surabaya yakni tidak adanya garis politik militer yang jelas dan tegas serta susunan organisasi bersenjata dari berbagai kelaskaran saat menyerang musuh.

Sebelum menembak sudah berteriak-teriak menantang yang akibatnya hanya memperbesar korban. "Serangan pada posisi musuh sebelum dimulai sudah digembor-gemborkan melalui corong radio atau pers. Sehingga musuh dapat mengetahui rencana penyerangan dengan percuma," ujar Nasution.

Mundur dari Surabaya, pasukan TKR Laut menempati daerah-daerah di pinggiran Surabaya seperti Gresik, Mojokerto, dan Sidoarjo. Pasukan yang dipimpin Abdullah berposisi di Sidoarjo. Karena kecakapannya memimpin pasukan Abdullah kemudian diberi pangkat kapten.

Bersama pasukannya, Abdullah diperintahkan mengamankan ibu kota Yogyakarta saat terjadi peristiwa 3 Juli 1946. Pada akhir tahun yang sama dia memimpin langsung pasukannya mengamankan delegasi Indonesia saat perundingan Linggarjati. Namun Belanda melanggar perjanjian Linggarjati itu dengan melakukan agresi militer.

Pertempuran meletus di berbagai kota termasuk Jawa Timur. Abdullah membawa pasukannya bergerilya di daerah Blitar. Pasukannya juga dilebur dalam Brigade I Divisi I TNI. Dia lalu didapuk jadi Komandan Batalyon XVII dengan pangkat mayor.

Soehario Padmodiwirio atau Hario Kecik yang saat pertempuran Surabaya 10 November 1945 memegang tugas sebagai Polisi Tentara Keamanan Rakyat (PTKR) menyebut Abdullah sebagai komandan yang tidak "gila" hormat.


Abdullah juga disebut mempunyai wibawa untuk mengendalikan para anak buahnya yang berasal dari rakyat biasa, yaitu pemuda-pemuda yang telah mengalami masa pahit di jaman kolonial Belanda dan penjajahan Jepang, yang berjiwa keras, tertempa oleh perjuangan hidup di lapisan terbawah dalam masyarakat.

"Tuntutan Abdullah pada anak buahnya hanyalah loyalitas kepada revolusi," ujar Hario Kecik seperti yang diutarakan anaknya Bimo Satrio pada detikcom, Jumat (9/11/2019) lalu. Gerilya kembali dijalani Abdullah dan pasukannya di lereng Gunung Arjuna ketika meletus Agresi Militer Belanda II.

Setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia melalui Konferensi Meja Bundar di akhir 1949 meletuslah sejumlah pemberontakan. Mayor Abdullah besarta pasukannya turut dikirim ke Sulawesi Selatan memadamkan pemberontakan Andi Aziz.

Hanya berselang bulan, dia lalu ditugaskan ke Maluku melawan Republik Maluku Selatan (RMS). RMS didukung banyak pasukan Belanda yang terlatih dan berpengalaman. Mayor Abdullah gugur dalam salah satu pendaratan pukul 2 dini hari di Seram Selatan pada 25 September 1950. Jenazahnya tak pernah dibawa kembali ke Surabaya. Abdullah dimakamkan di Pulau Geser. (pal/rdp)