detikNews
Sabtu 09 November 2019, 19:40 WIB

Penjelasan Imigrasi Bali soal Kaburnya Buron Interpol Skimming Rp 7 T

Aditya Mardiastuti - detikNews
Penjelasan Imigrasi Bali soal Kaburnya Buron Interpol Skimming Rp 7 T Buron Interpol Rabi Ayad Abderahman (Foto: dok. Istimewa)
Denpasar - Buron Interpol Rabie Ayad Abderahman (30) alias Patistota disebut kabur saat akan dieksekusi ke Lapas Kerobokan, Bali. Pihak Imigrasi memberikan penjelasan.

Berdasarkan putusan Pengadilan Negeri Denpasar Nomor : 1/Pid-Ex/2019/PN.Dps tanggal 22 Oktober 2019, Rabie Ayad dinyatakan dibebaskan dari tahanan. Tim kejaksaan yang menyampaikan surat berisi putusan tersebut ke pihak Imigrasi dan ditindaklanjuti dengan melakukan penjemputan Rabie Ayad dari Kerobokan ke kantor Imigrasi.

"Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Ngurah Rai melakukan penjemputan dan pemindahan warga negara asing atas nama Rabie Ayad Abderahman alias Rabie Ayad alias Patistota dari LP Kelas II-A Kerobokan ke Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Ngurah Rai," kata Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Ngurah Rai Amran Aris dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (9/11/2019).





Amran menjelaskan, berdasarkan putusan tersebut, status hukum Rabie Ayad terhitung Selasa (22/10) dinyatakan bebas. Mengacu pada pasal 116 Peraturan Pemerintah No 31 Tahun 2013 tentang Peraturan Pelaksanaan UU No 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian, ada beberapa opsi tentang pemberian izin tinggal.

"Pertama orang asing yang dihentikan penyidikannya dan dinyatakan tidak terbukti melakukan tindak pidana berdasarkan putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap atau dilepaskan dari tuntutan hukum dapat diberikan kembali izin tinggalnya. Kedua, izin tinggal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diberikan sesuai dengan izin tinggal sebelumnya dan jangka waktunya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan," terang Amran.

"Ketiga dalam hal izin tinggal tidak diberikan, orang asing sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus meninggalkan wilayah Indonesia," sambungnya.

Amran menuturkan keberadaan Rabie Ayad tidak diketahui sejak Senin (28/10). Tidak dijelaskan keberadaan Rabie Ayad sebelum dinyatakan 'menghilang'.

"Keberadaan warga negara asing atas nama Rabie Ayad Abderahman alias Rabie Ayad alias Patistota mulai tidak diketahui tanggal 28 Oktober 2019," jelasnya.

Amran memaparkan pada Rabu (29/10) pihak kejaksaan menyampaikan berkas pemberitahuan atas perlawanan putusan Pengadilan Negeri Denpasar soal Rabie Ayad. Berdasarkan putusan tersebut, status Rabie menjadi tahanan Kejaksaan Tinggi Bali.

"Tanggal 29 Oktober 2019 Pengadilan Negeri Kelas I-A Denpasar menyampaikan berkas Relaas Pemberitahuan Permohonan Perlawanan Nomor 1/Pen.Eks/2019/PN Dps ke Kantor Imigrasi Ngurah Rai yang berisi tentang pemberitahuan kepada termohon ekstradisi an Rabie Ayad Abderahman bahwa penuntut umum telah mengajukan perlawanan pada 28 Oktober 2019 terhadap putusan Pengadilan Negeri Denpasar Nomor 1/Pid.Ex/2019/PN Dps, tanggal 22 Oktober 2019 sehingga status hukum warga negara asing atas nama Rabie Ayad Abderahman alias Rabie Ayad alias Patistota terhitung mulai 29 Oktober 2019 adalah tahanan Kejaksaan Tinggi Bali," paparnya.

"Saat ini kami melakukan penyelidikan dengan berkoordinasi dengan instansi terkait," tutur Amran.

Sebelumnya, Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi (Wakajati) Bali Didik Farkhan menyebut pihaknya tak bisa mengeksekusi Rabie Ayad alias Patistota. Alasannya, buron Interpol Amerika Serikat itu dinyatakan kabur.

"Kami tidak bisa mengeksekusi penetapan hakim Pengadilan Tinggi karena tahanan kabur saat dititipkan di Imigrasi," kata Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi (Wakajati) Bali Didik Farkhan Ali saat dimintai konfirmasi via telepon, Jumat (8/11).
(ams/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com