detikNews
Sabtu 09 November 2019, 09:53 WIB

Bimbingan Belajar Suprarasional, Bayar Les Seikhlasnya yang Penting Ibadah

Erwin Dariyanto - detikNews
Bimbingan Belajar Suprarasional, Bayar Les Seikhlasnya yang Penting Ibadah Bimbingan Belajar Suprarasional, Bayar Les Seikhlasnya yang Penting Ibadah/Foto: dokumentasi 20detikcom
Jakarta - Lazimnya seseorang mendirikan lembaga bimbingan belajar adalah untuk mendapatkan keuntungan. Ada tarif-tarif tertentu dikenakan kepada siswa-siswa yang belajar di sana. Namun tidak dengan Ridwan Hasan Putra.

Pria kelahiran Bogor, 16 April 1975 itu justru memberikan bimbingan belajar kepada pelajar-pelajar tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama dengan bayaran seikhlasnya. Awalnya pada 2001 Ridwan mendirikan les berbayar, lazimnya lembaga bimbingan belajar. Musabab ketika itu dia ditimpa sakit lalu diberi kesembuhan, Ridwan ingin mensyukuri itu dengan menerapkan les bayar seikhlasnya.



Maka mulai Februari 2003 dia membuka Klinik Pendidikan MIPA (KPM) di rumahnya di Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kepada siswa yang belajar di situ tidak ditetapkan tarifnya. Siswa yang les cukup memasukkan bayaran seikhlasnya ke dalam kotak yang telah disediakan.

Namun, anehnya ketika diterapkan les bayar seikhlasnya, siswa yang belajar tambahan di tempat Ridwan justru berkurang. "Waktu diterapkan berbayar siswa yang belajar 40 orang, pas les bayar seikhlasnya justru tinggal 2. Nambah kemudian jadi 10," kata Ridwan saat berbincang dengan detikcom, Kamis, 7 November 2019 di kantornya, Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Menurut Ridwan, kurun waktu 2003 sampai 2007 merupakan perjuangan terberat dia dan keluarganya. Sebab bimbingan belajar ini adalah satu-satunya sumber penghidupan keluarga. Sementara orang tua siswa yang anaknya belajar di situ, karena diterapkan bayar seikhlasnya, membayarnya terkadang kelewatan.

"Ada yang membayar dua ribu, lima ratus rupiah. Ada juga yang membayar dengan bungkus permen," kenang pria yang pernah mendapatkan Satyalancana Wirakarya dari Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono tahun 2007 itu.

Ridwan juga kesulitan mengajak kerja sama dengan sekolah-sekolah. Hampir semua sekolah yang diajak kerja sama tak bersedia. "Mungkin karena bayar seikhlasnya mereka jadi ragu, ini beneran kagak ya?," kata dia.

Barulah pada 2007, terjadi titik balik. Klinik Pendidikan MIPA (KPM) yang didirikan Ridwan mulai dilirik orang tua siswa juga sekolah-sekolah di Jabodetabek. Penyebabnya ketika itu, Ridwan bersama KPM berhasil mengirimkan 4 pelajar untuk mengikuti kompetisi 1st Wizard of Mathematics International Competition (WIZMIC) 2007 di Lucknow, India, pada 28-31 Oktober 2007.



WIZMIC merupakan kompetisi internasional untuk pelajar usia maksimal 14 tahun. Ketika itu kompetisi ini diikuti oleh 26 tim dari 8 negara, yaitu Bulgaria, India, Indonesia, Iran, Nepal, Thailand, Taiwan, dan Filipina. Indonesia yang diwakili KPM mengirimkan 4 pelajar.

Mereka adalah Laila Muhibah, siswa SMPN 1 Bogor dan Atika Almira, siswa SMPIT Ummul Quro Bogor yang meraih medali emas. Kemudian Firstio Ahmad Sepriadi dari SMPI Al-Azhar 8 Kemang Pratama Bekas yang meraih medali perak dan Ghiffari Haekalnoor Tujuanto dari SMPN 115 Jakarta meraih medali perunggu. "Saat itulah kemudian ramai diberitakan oleh media, dan banyak yang mulai belajar ke KPM ini," kenang Ridwan.

Mulai saat itu, banyak siswa yang orang tuanya mampu belajar di KPM, bimbingan belajar yang didirikan Ridwan. Sejak itulah kotak bayaran les mendapat masukan berlebih sehingga bisa menutup semua biaya operasional. KPM dengan menerapkan bayaran seikhlasnya pun bisa bertahan dan berkembang hingga sekarang.

Saat ini KPM yang berpusat di Kabupaten Bogor ini sudah memiliki beberapa cabang di Indonesia. Antara lain di Depok, Surabaya, Jombang, dan Tulungagung Jawa Timur. Di Kabupaten Bogor saja saat ini ada 700 siswa reguler dan 500 siswa khusus.

Di KPM, kata Ridwan, siswa tak hanya diberikan latihan mengerjakan soal mata pelajaran. Mereka juga ditekankan untuk meningkatkan ibadahnya. Bagi yang beragama Islam sangat ditekankan agar siswa rajin menjalankan sholat dhuha, sholat tahajud dan puasa sunnah di hari Senin dan Kamis. Bagi yang beragama selain Islam, mereka juga dianjurkan beribadah sesuai agama mereka masing-masing. Dalam pengamatan Ridwan, anak-anak yang ibadahnya rajin cenderung cerdas dan sukses. "Ini namanya kita belajar dengan teknik suprarasional," kata dia.


Simak Video "Klinik Suprarasional, Les Bayar Seikhlasnya"

[Gambas:Video 20detik]


(erd/nwy)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com