Letda Herry Putra Asal Papua Penjaga Pulau Terdepan Indonesia

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews
Kamis, 31 Okt 2019 15:03 WIB
Foto: TNI
Natuna -

Salah satu pulau terdepan Indonesia adalah Pulau Sekatung, Kecamatan Pulau Laut, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepri. Pulau di wilayah Luat China Selatan itu dijaga oleh prajurit TNI di bawah komandan Letda (TNI AL) Herry A Numberi.

Pria lajang ini kelahiran 25 Agustus 1993 dari anak laut juga tepatnya di Serui Kabupaten Yapen, Papua. Tak asing baginya soal kehidupan laut, karena dia dibesarkan dari daerah laut di Papua.

Herry merupakan anak kedua dari enam bersaudara buah hati dari pasangan Sokaria Numberi (45) dan ibunya Fani A. Herry merupakan jebolan Akademi Militer (Akmil) tahun 2012 silam. Begitu lulus, pria lajang ini mendapat tugas di Marinir 10 Batam. Kini tugas yang diemban menjaga kedaulatan NKRI di wilayah perbatasan tepatnya di Pulau Sekatung nan jauh di Laut Utara Natuna.

Letda Herry Putra Asal Papua Penjaga Pulau Terdepan IndonesiaFoto: Mustiana Lestari

Tim Tapal Batas detikcom, berkesempatan berkenalan dengannya dalam program listrik PLN menerangi Pulau Sekatung di wilayah perbatasan. Sosok pria rendah hati ini, mendampingi tim dari Ranai ibu kota Kabupaten Natuna, menuju ke Pulau Sekatung.

Menuju ke wilayah tugasnya, dari Ranai dengan menggunakan kapal membutuhkan waktu sekitar 7 jam di atas laut. Di Sekatung, pria yang akan yang sudah bertunangan dengan belahan jiwanya ,Greselin ini memimpin personel TNI.

Para prajurit yang bertugas di sana, mayoritas sudah berkeluarga. Salah satu hiburan di pulau tanpa ada penduduk itu tentunya berkomunikasi lewat seluler. Namun kondisinya, seluler mereka hanya bisa sekedar berkomunikasi tanpa bisa menggunakan aplikasi pesan singkat seperti WhatsApp.

Itu pun, untuk mendapatkan sinyal tidak sembarang tempat. Hanya ada pada titik tertentu baru mendapatkan sinyal. Di titik itulah mereka dirikan pos sekedar untuk duduk sembari menjejerkan HP di atas meja. Mereka menunggu, kalau-kalau sinyal nempel di HP-nya.

Di pos itu mereka akan bercengkrama lewat telepon ke sana keluarganya. Jangan coba-coba beranjak dari posisi itu, karena sinyal akan terputus mendadak. Sehingga pos ini dijadikan tempat bersama untuk berkomunikasi.

Personel TNI hanya akan keluar dari pulau tersebut, saat waktu salat Jumat, atau saat mereka akan membuat laporan dan untuk kebutuhan logistik. Mereka membuat laporan harus menyeberang ke Pulau Laut yang posisinya di depan pulau Sekatung. Untuk menyeberang dengan kapal ini membutuhkan waktu sekitar 45 menit.

"Jadi saban hari kita harus menyeberang ke Pulau Laut, hanya untuk mendapatkan sinyal. Karena di Sekatung tidak ada sinyal untuk bisa WA," kata Herry yang berencana Mei 2020 mengakhiri masa lajangnya.

Dulunya di sana diberikan sinyal Wifi dengan sistem satelit. Kehadiran satelit ini sangat membantu para personel TNI yang bertugas di sana. Mereka bisa menggunakan HP pintarnya untuk berkomunikasi lewat aplikasi WA dan bisa menggunakan medsos.

Sayangnya, hanya hitungan 3 bulan saja, satelit yang diperuntukkan di wilayah perbatasan tersebut putus kontrak tanpa alasan yang jelas. Sejak April 2019, hingga kini di wilayah yang dijaga TNI ini tidak memiliki jaringan internet. Mereka hanya mengharapkan sisa jaringan seluler dari pulau di sebelahnya. Kondisinya pun, sinyal kadang dapat, kadang tidak. "Itulah kondisi kita di lapangan ini," kata Herry.

Walau demikian, hal itu tidak menyurutkan para prajurit yang menjaga wilayah perbatasan. Mereka tetap bertugas semaksimal mungkin demi menjaga kedaulatan NKRI. Tak ada sinyal seluler, bukan penghalang untuk menjaga perbatasan dari gangguan dari negara lain.

Detikcom bersama PLN mengadakan program Tapal Batas yang mengulas mengenai perkembangan infrastruktur listrik, perekonomian, pendidikan, pertahanan dan keamanan, hingga budaya serta pariwisata di beberapa wilayah terdepan. Ikuti terus berita tentang ekspedisi di pulau-pulau terdepan Indonesia di tapalbatas.detik.com!



(mul/mpr)