detikNews
Kamis 31 Oktober 2019, 08:20 WIB

Apa Benar Asal Muasal Suku Kei dari Bali?

Mustiana Les - detikNews
Apa Benar Asal Muasal Suku Kei dari Bali? Foto: Mustiana Lestari
Maluku Tenggara -

Saat datang ke Kepulauan Kei di Maluku Tenggara sudah terbayang eksotisme khas tanah Maluku, dengan Baju Cele atau sarung seperti daerah Maluku lainnya. Namun, ada hal menarik dibandingkan dengan Baju Cele, baju adat Maluku Tenggara justru amat mirip dengan pakaian adat Bali, contohnya Udeng dan kebaya Bali.

Hans Watratan, Kepala Desa Rumadian mengenalkan bahwa ikat kepala mirip Udeng itu adalah Rikrikat. Lebih lanjut ternyata buka hanya soal pakaian, makanan khas Kei yaitu enbal atau embal juga usut punya hubungan dengan Bali juga.

"en itu artinya umbi, bal itu bali jadi artinya umbi yang dibawa satu keluarga dari Bali. Mereka adalah kita punya moyang dahulu kala," jelas pembuat embal, Berta Fofid kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Apa Benar Asal Muasal Suku Kei dari Bali?Foto: Mustiana Lestari



Budhi Toffi Kabid selaku Promosi Dispar Maltra pun menjelaskan memang ada unsur budaya Bali yang masuk ke Kei. Hal itu terjadi karena dulu nenek moyang Kei, yaitu Nen Dit Sakmas adalah seorang yang lahir dari orang tua berdarah Bali.

"Dia yang mencetuskan hukum adat. Dia memang orang tua dari bali tapi ada juga nenek moyang masyarakat asli dari sini. Selain dari Bali, (nenek moyang) juga ada dari Sumbawa, Ternate dan Tidore tapi jumlahnya tak terlalu banyak," terang dia.

Saat ditanya perihal baju adat, Budhi menjelaskan baju adat Kei yang mirip baju adat Bali tersebut merupakan bentuk penghargaan terhadap Nen Dit Sakmas.

"Padahal dulu pakaian adat Kei mirip Papua menggunakan koteka, dulu bahkan masih menggunakan cawat namun berproses lalu masuk Belanda ke sini baru modernisasi jadi betul memang kurang lebih seperti Bali," tukasnya.

Keterikatan dengan Bali pun makin terlihat saat Bupati Maluku Tenggara sebelumnya Anderias Rentanubun berkunjung ke suatu desa di Buleleng, Bali dan berniat menelusuri jejak Nen Dit Sakmas. Selain embal dan baju adat beberapa lainnya juga tampak mirip, seperti perahu dan rumah adat.

Sebagai informasi, desa-desa di Maluku Tenggara terus berbenah termasuk untuk mengelola peninggalan leluhur mereka dengan dana kabupaten yang digulirkan sebanyak Rp 146 M. Untuk mengetahui informasi lainnya dari Kemendes PDTT klik di sini.


(mul/mpr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com