Cerita Petani Cibarusah yang 2 Kali Gagal Panen Akibat Kekeringan

Cerita Petani Cibarusah yang 2 Kali Gagal Panen Akibat Kekeringan

Adinda Purnama Rachmani - detikNews
Rabu, 30 Okt 2019 23:01 WIB
Foto: Adinda Purnama Rachmani
Foto: Adinda Purnama Rachmani
Jakarta - Omah, istri dari petani padi di Desa Cibarusah, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat hanya bisa pasrah. Dia dan suaminya harus menerima kenyataan karena gagal panen padi hingga dua kali akibat kekeringan sejak enam bulan lalu.

Tidak ada air yang mengalir dari kali, bahkan sumur yang dibuat oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Bekasi dan PDAM tidak cukup untuk mengairi ratusan hektar lahan sawah di Desa Cibarusah. Air yang bersumber dari sumur bor itu juga tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari 1.700 warga Cibarusah.

Omah bercerita, biasanya dalam satu tahun Desa Cibarusah berhasil memproduksi 4.000 kwintal benih padi sebanyak dua kali. Namun, tahun ini sama sekali tidak ada panen padi yang dihasilkan dari desa tersebut.

"Pendapatannya dari nyawah (panen sawah) kalau musim hujan pada ke sawah nanem padi. Setahun dua kali panennya itu kalau ada air, kalau nggak pake mesin air dari kali ke sawah. Tapi kalau sekarang sudah dua kali gagal panen karena kering nggak ada hujan sama sekali," ucap Omah, saat ditemui detikcom di Desa Cibarusah, Kabupaten Bekasi, Rabu (30/10/2019).


Omah pun bercerita, biasanya setiap September sudah mulai turun hujan, sehingga ia bersama warga Cibarusah lainnya bisa memanen padi.

Untuk biaya hidup sehari-hari kini Omah mengandalkan gaji dari anaknya yang bekerja di pabrik sekitar Jonggol, Kabupaten Bogor.

"Biasanya kan September sudah turun hujan kan, cuma kemarin doang dua kali itu juga nggak lama hujannya. Untuk makan mah ada sekarang dari anak saya kerja di pabrik, bapaknya juga sudah mulai kerja serabutan karena belum bisa manen kan," ucapnya.

Selain itu Omah bercerita, pada saat hujan turun, warga Desa Cibarusah menampung air hujan didalam ember. Pada saat hujan beberapa waktu yang lalu, Omah berhasil mengumpulkan 4 ember air yang bisa ia pergunakan untuk mencuci pakaian dan mandi.

"Iya kemarin warga di sini nampung air, saya juga dapat empat ember lah. Bisa buat cuci baju, mandi sama bisa buat masak," tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Camat Cibarusah Enop Can mengatakan di wilayahnya terdapat dua sawah yang berbeda jenisnya, yaitu sawah dengan tadah hujan dan sawah tegalan.

"Di Cibarusah ada tiga wilayah yang terkena dampak kekeringan ekstrim yaitu, Sirnajati, Ridomanah dan Ridogalih. Warga tiga desa tersebut mayoritas adalah petani, jadi saya kira 40% perekonomian di Cibarusah terkena dampak dari kekeringan ini" ucap Enop Can.


Enop mengatakan pihaknya bersama Pemerintah Daerah Kabupaten Bekasi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Baznas dan Aksi Cepat Tanggap (ACT) sudah melakukan segala upaya untuk memberikan air bersih kepada warga Cibarusah dan untuk mengairi sawah.

"PDAM membuat 9 titik turet umum untuk jangka panjang. BPBD, Baznas juga sudah memberikan suplai air bersih untuk warga Cibarusah," ucap Enop.

Menanggapi kekeringan ekstrim yang terjadi di Desa Cibarusah, Aksi Cepat Tanggap (ACT) mengirimkan bantuan air bersih. Direktur Program ACT Wahyu Novyan mengatakan pihaknya mengirimkan 14 water truk dan membuat dua sumur wakaf untuk membantu warga Cibarusah.

"Masyarakat Ridogalih dan warga Cibarusah lainnya bisa terbantu dengan adanya 14 water truk dan ditambah 120rubu liter. Kita juga sudah bikin dua sumur wakaf kedalaman lebih dari 80 meter. Semoga ini akan secara optimal untuk membantu masyarakat disini," ucapnya.

Aksi pendistribusian air bersih ini juga dilakukan ACT secara serentak di 20 daerah Indonesia lainnya seperti Sumatera, Jawa, Bali, NTB, NTT, dan Sulawesi. Secara total hampir satu juta liter air bersih didistribusikan. (ujm/ujm)