6 Bulan Kekeringan, Warga Cibarusah Harus Jalan 5 Km demi Air Bersih

6 Bulan Kekeringan, Warga Cibarusah Harus Jalan 5 Km demi Air Bersih

Adinda Purnama Rachmani - detikNews
Rabu, 30 Okt 2019 22:48 WIB
Foto: Adinda Purnama Rachmani/detikcom
Foto: Adinda Purnama Rachmani/detikcom
Jakarta - Warga Desa Cibarusah, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, harus berjalan sejauh 5 kilometer untuk mendapatkan air bersih akibat dampak kekeringan selama enam bulan.

Desa yang berjarak 50 kilometer dari Jakarta ini memiliki lahan sawah seluas ratusan hektare. Namun sayangnya ratusan hektare sawah harus menguning hingga mengering karena tidak adanya aliran air yang membasahi Desa Cibarusah.

Meskipun pemerintah daerah sudah membuat sumur PDAM dan mengirimkan tangki air bersih, hal itu tidak mencukupi kebutuhan 1.700 orang di wilayah tersebut.

Selain itu, waktu tempuh sekitar tiga jam dari Ibu Kota dengan medan jalan yang hancur membuat daerah tersebut sulit dijangkau.

Salah satu yang merasakan dampak adalah Ati (47), seorang ibu rumah tangga yang memiliki empat anggota keluarga. Dalam kesehariannya, Ati mengatakan hanya mengandalkan air tangki yang ia beli saat supplier air datang ke Desanya.


"Susah di sini nyari air buat mandi, buat nyuci. Di sini kalau nggak hujan nggak ada air. Saya harus nyari air ke kampung sebelah bisa 5 kilo dari sini. Kalau nggak paling nunggu tukang tangki air yang jualan dateng, itu juga rebutan sama warga yang lain," ucap Ati saat ditemui detikcom di Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi, Rabu, (30/10/2019).

Sejak enam bulan yang lalu, desa ini baru diguyur hujan dua kali. Ati juga bercerita, kebiasaan lain yang dilakukan warga Cibarusah adalah mengambil air dari empang atau sumur yang sudah digali oleh Pemerintah Kabupaten Bekasi.

Namun sayangnya, air dalam sumur tersebut sangat tidak layak untuk dipakai mandi ataupun dikonsumsi sebagai air minum karena keruh bahkan sampai hijau.

"Iya air kobak, itu air empang karena itu dipakai buat nyuci, dipake mandi. Tapi sekarang lagi nggak ada airnya juga. Di sini nggak ada sumur susah, bikin sumur walaupun beratus-ratus meter juga suka nggak ada airnya, harus pake jet pump," tambahnya.

Ati pun berharap pemerintah mau membuat alternatif lain untuk menangani krisis air di wilayah ini dengan cara membuat bendungan ataupun penampungan air yang besar sehingga, pada musim kemarau tiba, wilayah Desa Cibarusah tidak terkena dampak kekeringan ekstrem.

"Harapannya bisa dibikinin bendungan jadi pas musim hujan airnya bisa ketampung. Jadi pas musim kemarau punya air ditampung yang bisa dialirkan ke rumah warga sama sawah," tutupnya.

Kesusahan itu juga dirasakan Eem (39), yang harus selalu berebut air jika ada suplai air datang. Eem juga bercerita bahwa ia tidak memiliki jeriken sehingga cukup sulit untuk membawa air ke rumahnya.


"Susah nyari air, jadi beli ada yang jual keliling Rp 60 ribu 1 toren untuk 1.000 liter. Itu paling cukup buat empat hari. Bikin sumur udah, tapi nggak ada airnya. Kalau ke kali ambil airnya antre satu keluarga satu gayung, kalau nggak sabar mah pada berantem, tapi kalau sabar mah bisa dua jeriken, kan banyak yang mau ngambil-nya," ucap Eem.

Menanggapi hal tersebut, Aksi Cepat Tanggap (ACT) memberikan bantuan berupa armada air tangki yang sebelumnya sudah beroperasi, yaitu water truck. Armada tersebut bisa difungsikan sebagai memaksimalkan pendistribusian air bersih dan kebutuhan lainnya.

Peluncuran Water Truck 2.0 untuk warga Desa Cibarusah dihadiri oleh Ketua Dewan Pembina ACT Ahyudin, Kepala Camat Desa Cibarusah Enop Can, dan Kapolsek Cibarusah Sukarman.

Dalam kesempatan yang sama, Ahyudin mengatakan peluncuran water truck ini ditujukan untuk meluaskan jangkauan pendistribusian air bersih untuk wilayah kekeringan dan krisis air.

Armada ini menjadi satu solusi yang diberikan ACT untuk mengatasi kebutuhan air masyarakat. Selain itu, ACT telah membangun sumur wakaf di wilayah ini.

"Kami luncurkan water truck kedua ini untuk mendukung program pendistribusian air bersih. Air yang merupakan kebutuhan mendasar manusia, sementara kondisi kekeringan dan krisis air bersih masih menghantui warga di sejumlah wilayah Indonesia," ucap Ahyudin.

Untuk diketahui, water truck ini memiliki kapasitas tampung air sebanyak 20 ribu liter. (ujm/ujm)