Perlukah Bahasa Indonesia Menolak Pengaruh Asing?

Perlukah Bahasa Indonesia Menolak Pengaruh Asing?

Danu Damarjati - detikNews
Senin, 28 Okt 2019 20:05 WIB
Foto ilustrasi (DW Soft News)
Foto ilustrasi (DW Soft News)
Jakarta - Kelahiran bahasa Indonesia dirayakan pada momentum peringatan Sumpah Pemuda hari ini. Muncul kekhawatiran, bahasa Indonesia bakal kehilangan jati dirinya karena tergempur pengaruh bahasa asing. Haruskah Bahasa Indonesia bertahan dari pengaruh asing?

Kekhawatiran ini salah satunya diungkapkan oleh Dosen Bahasa Indonesia dari Universitas Negeri Manado, Nontje Jultje Pangemanan. Dia merasa saat ini gempuran bahasa asing dan bahasa gaul terhadap Bahasa Indonesia cukup tinggi.



Menurut penelitian Lita Meysitta dalam Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Vol 5/2/2018), kosakata serapan bahasa asing dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (terakhir edisi V), ada 1.987 kata.

Itu semua terdiri dari 893 kata serapan bahasa Arab, 215 kata serapan bahasa Inggris, 121 kata serapan bahasa Belanda, dan 88 serapan bahasa Cina. Selain itu ada pula serapan dari Denmark, Hawai, Ibrani, Italia, Jepang, Jerman, Latin, Norwegia Parsi, Portugis, Prancis, Rusia, Sanskerta, Spanyol, hingga Tsawana.



Peneliti bahasa Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Sriyanto, menjelaskan Bahasa Indonesia termasuk bahasa yang muda, lahir pada 91 tahun lalu. Maka Bahasa Indonesia perlu terus memperkaya diri.

"Bahasa Indonesia sebagai sebuah bahasa memang masih sangat muda, dibanding dengan Bahasa Inggris sudah berabad-abad, grammar-nya sudah mapan, kosakatanya sudah mencukupi. Bahasa Indonesia masih harus dikembangkan," kata Sriyanto saat berbincang, Senin (28/10/2019).
Selanjutnya
Halaman
1 2 3