Terus Berputar, Gasing Natuna Menolak Punah

Terus Berputar, Gasing Natuna Menolak Punah

Mustiana Lestari - detikNews
Senin, 28 Okt 2019 16:31 WIB
Foto: Mustiana Lestari
Foto: Mustiana Lestari
Sabang Mawang -

Umurnya tak lagi muda, namun jangan ragukan tenaga Zulkarnaen (53) sang pemain gasing legendaris asal Natuna. Saat mengadu gasing, putaran gasing milik Zulkarnaen nyaris selalu berhenti paling akhir karena kokoh berputar dibanding lawannya.

Dia mengaku sudah lama menggeluti permainan tradisional ini sejak umurnya 8 tahun. "Memang dari orangtua sudah ahli main gasing. Kakak adik pemain gasing semua. Umumnya gasing sudah merakyat khususnya untuk Kecamatan Pulau Tiga ini," kata dia kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Bukan cuma asal main, Zulkarnaen juga sudah mengikuti beragam lomba dan keluar sebagai juara. "Kami ikut pertandingan yang dilaksanakan di kecamatan dan kabupaten.Sudah pernah juara 1 kecamatan 3 kali. Kalau se-kecamatan Pulau Tiga memang rekornya di sini. Lawan beratnya Ranai Darat sama grup Pak wakil bupati," tandas dia.

Zulkarnaen menjelaskan permainan gasing di Natuna berbeda dari gasing lainnya. Dari bahan baku saja, gasing Natuna menggunakan bahan-bahan alami seperti talinya terbuat dari serat melinjo, kayu palawan dan sebagainya.

Terus Berputar, Gasing Natuna Menolak PunahFoto: Mustiana Lestari

Sementara cara mainnya pertama, kedua lawan saling adu ketahanan gasing berputar di atas kaca atau disebut mengamban. Kedua, pemain yang paling lama bertahan bisa menjadi mangkak atau pengadu dan menyerang yang pemain yang kalah. Dari adu gasing inilah akan didapat pemenangnya.

Zulkarnaen mengaku banyak faktor yang menentukan kemenangan termasuk hitung-hitungan arah angin sampai kekuatan magis.

"Kalau tanding itu kita harus lihat kita keluar rumah jam berapa. Kalau jam nggak bagus jangan keluar rumah, bahaya. Misalnya kita akan main jam 7, kita harus hitung jam berapa kita turun (keluar) dari rumah," jelas dia.

"Bisa saja yang kelihatan lemah malah menang karena arah mata anginnya, 20 persen angin membantu kegiatan kita," tandasnya. Dia juga mengatakan jadwal main pun menentukan nasib di pertandingan. Selain itu, tentu diperlukan tenaga dalam dan batin serta bergantung mata angin.

Meski perkasa di medan perang gasing, nyatanya Zulkarnaen memendam pilu. Pasalnya, semakin berkurang peminat gasing di kalangan muda.

"Agak berkurang minatnya bagi pemuda kan yang main umurnya yang tua-tua saja. Harapan kita ingin gasing tak hilang dari bumi Natuna," tutupnya penuh harap.

Zulkarnaen dan kawan-kawan bermain gasing sanggar desa yang kini telah terang benderang berkat hadirnya PLN 24 jam di Sabang Mawang. Dalam 5 tahun terakhir, demi mewujudkan program 35 ribu MW PLN bergerak ke penjuru Indonesia, termasuk pulau-pulau di Natuna.

Detikcom bersama PLN mengadakan program Tapal Batas yang mengulas mengenai perkembangan infrastruktur listrik, perekonomian, pendidikan, pertahanan dan keamanan, hingga budaya serta pariwisata di beberapa wilayah terdepan. Ikuti terus berita tentang ekspedisi di pulau-pulau terdepan Indonesia di tapalbatas.detik.com!



(mul/mpr)