ADVERTISEMENT

Penyebab Jatuhnya Lion Air PK-LQP Diungkap, Ini Kilas Balik Peristiwanya

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 25 Okt 2019 18:13 WIB
Ilustrasi Pesawat Lion Air (Rifkianto Nugroho/detikcom)

Mencari Kotak Hitam

Kemudian, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengerahkan Kapal Riset (KR) Baruna Jaya I. Kapal ini memiliki alat untuk mencari kotak hitam, baik CVR (cockpit voice recorder) maupun FDR (flight data recorder). Kotak hitam inilah yang akan jadi diselidiki untuk mengetahui penyebab jatuhnya pesawat.


Ada Multi-Beam Echo Sounder yang berfungsi melakukan pemetaan biometri dalam laut. Kedua adalah Side Scan Sonar. Prinsip alat ini serupa dengan Multi Beam Echo Sonar, namun memiliki jangkauan dan berfungsi untuk melakukan pemetaan yang lebih tajam. Ketiga adalah Megato Meter atau alat deteksi logam.

Penyebab Jatuhnya Lion Air PK-LQP Diungkap, Ini Kilas Balik PeristiwanyaBima Endaryono (Dok. Pribadi)

Keempat adalah Remote Operated Vehicle (ROV). Alat ini berupa kendaraan bawah laut yang dikendalikan dari jarak jauh, untuk menampilkan gambar video secara langsung dari dasar laut. Dengan alat ini, pencarian sebuah objek di dasar laut akan lebih cepat dilakukan.

Pada 30 Oktober, pencarian diperluas hingga ke Indramayu karena arus air laut bergerak ke timur. Sebanyak 854 personel gabungan dari Basarnas, TNI/Polri, dan sukarelawan masyarakat yang dikerahkan dari Posko Pantai Tanjungpakis, Karawang.

FDR ditemukan

Pada 1 November 2018 sekitar pukul 10.30 WIB, ping detector berhasil menangkap sinyal kotak hitam di sekitar 400 meter dari kontak terakhir pesawat pada koordinat 05 derajat 46 menit 15 detik selatan-107 derajat 07 menit 16 detik timur dengan kedalaman 32 meter. FDR ditemukan. Alat ROV diturunkan untuk memastikan objek di dasar laut itu.


Selanjutnya, Tim Penyelam Batalion Intai Amfibi TNI AL Sertu Hendra memastikan FDR telah ditemukan. Alat berisi rekaman data penerbangan itu diangkut penyelam dan dipindahkan ke KR Baruna Jaya milik BPPT untuk dibawa ke Tanjung Priok.

Hingga hari ke-7, yakni 4 November 2018, badan utama (main body) pesawat belum juga ditemukan. Yang ada hanyalah serpihan, roda, dua turbin pesawat, dan bagian-bagian lainnya yang tercerai berai.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT