Ngaku Bendahara Partai, Hilda Bicara soal Perencanaan Gagalkan Pelantikan

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 25 Okt 2019 12:45 WIB
Foto: Hilda Rachman Salamah (Samsuduha Wildansyah)
Foto: Hilda Rachman Salamah (Samsuduha Wildansyah)
Jakarta - Seorang wanita bernama Hilda Rachman Salamah (50) ikut ditangkap polisi atas dugaan keterlibatan dalam perencanaan penggagalan pelantikan presiden. Wanita yang mengaku sebagai bendahara di sebuah partai ini dituding mendanai pembuatan 'bom' bola karet.

"(Saya ditangkap) karena mentransfer Rp 400 ribu ke Pak Samsul," kata Hilda dalam wawancara khusus dengan detikcom di Polda Metro Jaya, Selasa (22/10/2019).

Hilda menjelaskan awal mula pertemuannya dengan Samsul Huda--tersangka utama di kasus yang sama--di Masjid Baitul Rahman, Saharjo, Tebet beberapa waktu lalu. Hilda baru sekali-dua kali bertemu saja.

"Pertama kali ketemu waktu pengajian mau buka puasa. Setelah buka puasa pertemuan lagi di sekitar Saharjo, tapi saya nggak ketemu di masjid, di sebelahnya kan ada restoran," katanya.

Hilda diperkenalkan kepada Samsul oleh tersangka Edawati. Edawati juga sering mengikuti pengajian di Masjid Baitul Rahman, Saharjo, Tebet.

Pada saat pertemuan itu, menurut Hilda, Samsul meminta diperkenalkan dengan TS, tokoh partai politik. Samsul meminta dipertemukan dengan TS lantaran tahu posisi Hilda di partai politik tersebut.

"(Saya) wakil ketua bendahara (menyebutkan partai). Jadi banyak orang yang kadang-kadang ngejar saya itu, ya ujung-ujungnya saya dimanfaatkan aja gitu," paparnya.

"Dia minta bantuan uang dan pengen ketemu Mas TS," sambung Hilda.






Sementara Hilda mengaku mengetahui soal adanya perencanaan penggagalan pelantikan itu di grup WA. Namun Hilda mengaku tidak tahu banyak soal perencanaan-perencanaan tersebut.

"Saya paham perencanaan itu. Tapi kan bola karet, yang mau dilawan bahaya asing yang mau ancam pribumi di Indonesia, itu ceritanya. Saya teringat istilahnya 'benarkah?'. Terus setelah saya sadar mana juga?, terus siapa?, terus apa yang dibuat, saya nggak tahu. Dibuat ya di mana terus tahu-tahu di Polda baru tahu itu ada barbuk segala macam," bebernya.

Kepada Hilda, Samsul juga menyebut bahwa uang tersebut adalah untuk 'perjuangan' melawan orang asing yang akan menguasai Indonesia.

"Katanya (untuk) melawan orang yang akan membahayakan orang pribumi, ceritanya," ujarnya.

Hilda sendiri sempat melihat Samsul memperlihatkan beberapa bahan untuk membuat 'bom' bola karet. Namun dia mengaku tidak pernah mengetahui bahwa bola karet itu bisa meledak.

"Saya nggak tahu bikinnya di mana, gimana caranya nggak tahu demi Allah nggak tahu, tahunya yang kemarin itu. Tahunya ketapel, kalau mesiu nggak tahu untuk apa. Saya kurang mudeng sama semua itu. Tahunya ketapel sama kelereng itu aja," jelasnya.

Hilda juga dimasukkan ke dalam grup WhatsApp 'Fisabilillah' oleh Samsul. Namun, Hilda mengaku tidak pernah berkomentar apa-apa di grup WhatsApp itu.

"Saya gabung di grup itu nggak pernah comment. Tahu juga enggak, siapa yang masukin juga nggak tahu karena kan di WA itu ujug-ujug ada," tuturnya.

Hilda ditangkap polisi di rumahnya di kawasan Saharjo, Tebet, Jakarta Selatan pada 19 Oktober 2019. Saat ini Hilda ditahan bersama Samsul Huda Cs.

(mea/mea)