detikNews
Kamis 24 Oktober 2019, 18:51 WIB

Saksi Polisi Bilang Habil Marati Beri Uang Rp 50 Juta Beli Senpi Ilegal

Zunita Putri - detikNews
Saksi Polisi Bilang Habil Marati Beri Uang Rp 50 Juta Beli Senpi Ilegal Habil Marati (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Jaksa penuntut umum (JPU) menghadirkan saksi dari kepolisian dalam sidang lanjutan kasus kepemilikan senjata api (senpi) ilegal dan peluru tajam dengan terdakwa Habil Marati. Saksi ini menjelaskan peran Habil dan Kivlan Zen dalam kasus ini.

Saksi bernama Ipda Mada Dimas dari Unit 1 Jatanras Subdit 4 Polda Metro Jaya bertugas memeriksa tersangka kasus kepemilikan senpi ilegal. Tersangka yang diperiksa adalah Helmi Kurniawan alias Iwan dan Kivlan Zen.

Mada awalnya menceritakan proses penangkapan Habil dan Iwan. Dia mengaku lebih dulu menangkap Iwan. Setelah Iwan diperiksa, pada 29 Mei barulah ia menangkap Habil.

"Kami dapat informasi mengarah pada seseorang yang belum kami ketahui siapa namanya. Dari rangkaian itulah muncul nama Pak Habil. Pak Habil kami tangkap sekitar tanggal 29 (Mei). Dari situ kami lakukan kegiatan-kegiatan dan sampailah ke sini," kata Mada saat bersaksi di PN Jakarta Pusat, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (24/10/2019).



Dia menjelaskan
perbedaan peran antara Habil dan Kivlan. Menurut Mada, Habil sebagai pemberi dana untuk membeli senjata api ilegal. Sedangkan Kivlan sebagai penadah senpi yang dibeli Habil melalui orang suruhannya bernama Helmi Kurniawan alias Iwan.

"Setelah kami memeriksa Pak Kivlan, senjata itu memang dipersiapkan, pengakuan Pak Kivlan senjata itu digunakan untuk pembunuhan terhadap tokoh nasional. Nah, dari mana sumber itu dibeli dan sumber senjata didapat, yaitu dari Pak Habil Marati," jelasnya.

"Jadi peran terdakwa apa?" tanya hakim ketua Hariono kepada saksi Mada.

"Memberikan uang, pengakuan dari Iwan, untuk membelikan senjata," jawab Mada.

Mada mengatakan Iwan, orang suruhan Habil, mengaku pernah diberi uang Rp 50 juta. Uang itu kemudian digunakan Iwan membeli senjata.

"Dari pengakuan Iwan yang kami lakukan interogasi, memang Iwan sempat bertemu dengan Habil di restoran Padang, dan ada pemberian uang yang disampaikan, pemberian cash Rp 50 juta. Iwan memang katakan nggak kenal Pak Habil, tapi Iwan tahu siapa Pak Habil," ucapnya.

"Pak Kivlan meminta Iwan untuk dipersiapkan senjata, uangnya dari terdakwa (Habil)," imbuhnya.

Sementara itu, Habil, yang duduk sebagai terdakwa, membantah keterangan Mada. Menurut Habil, tak ada pertemuan Iwan dengan dirinya di rumah makan Padang. Ia juga membantah telah memberikan uang Rp 150 juta kepada Kivlan.

"Fakta rekonstruksi, saya sama sekali nggak ada di rumah makan Padang. Jadi saya kira itu keterangan nggak benar. Kedua, saksi tidak pernah tanyakan ke saya untuk apa uang itu diberikan ke Kivlan," ucap Habil.

Pengusaha Habil Marati didakwa atas kepemilikan senjata api (senpi) ilegal dan peluru tajam. Senpi dan peluru dibeli dari sejumlah orang tanpa dilengkapi surat.

Atas perbuatan itu, Habil Marati didakwa dengan Pasal 1 ayat (1) UU Nomor 12/drt/1951 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP atau Pasal 1 ayat (1) UU Nomor 12/drt/1951 juncto Pasal 56 ayat (1) KUHP. Tapi Habil mengajukan eksepsi atau nota keberatan atas dakwaan itu.




(zap/fdn)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com