detikNews
Rabu 23 Oktober 2019, 00:58 WIB

Viral Video Larangan Bendera Tauhid di HSN Cianjur, Ini Penjelasan Panitia

Syah - detikNews
Viral Video Larangan Bendera Tauhid di HSN Cianjur, Ini Penjelasan Panitia Foto: Tangkapan Layar Video Viral
Jakarta - Sebuah video bernarasikan larangan pengibaran bendera tauhid oleh panitia Hari Santri Nasional (HSN) di Kabupaten Cianjur beredar di media sosial. Panitia pun memberikan penjelasan.

Video berdurasi 1 menit 32 detik tersebut memperlihatkan seorang pria yang berdebat dengan beberapa remaja beredar di media sosial. Dalam narasi postingan, disebut adu mulut itu dipicu larangan pengibaran bendera tauhid oleh panitia peringatan HSN yang berlokasi di sekitar Masjid Agung Cianjur, pada Selasa (22/10/2019).



Dalam video yang beredar, terlihat salah seorang panitia HSN terlihat memegang bendera putih diduga bertuliskan kalimat tauhid yang dia ambil dari serombongan remaja. Pria dalam video tersebut diketahui bernama Hafid, anggota Banser sekaligus salah seorang panitia HSN Kabupaten Cianjur.

Hafid kemudian memberi penjelasan. Dia membantah aksinya itu merupakan perampasan bendera tauhid. Dia mengungkapkan, saat itu dirinya hanya memberikan imbauan agar santri yang datang ke lokasi HSN tidak mengibarian bendera selain bendera NU dan merah putih.

"Kita ada intruksi dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), ketika hari santri seluruh indonesia itu tidak boleh ada bendera selain merah putih dan bendera NU. Hal itu juga diumumkan oleh pihak panitia, saya juga kan salah satu panitia," kata Hafid, panitia HSN Cianjur kepada detikcom, Selasa (22/10/2019) malam.



Saat itu sekitar pukul 11.00 WIB, ia melihat ada sekitar 7 bendera berkibar, dua di antaranya adalah bendera bertuliskan kalimat tauhid dengan ukuran besar dan bendera palestina juga bertuliskan kalimat yang sama. Saat itu Hafid mengaku sudah meminta izin kepolisian untuk meminta pihak yang mengibarkan bendera-bendera itu menghargai panitia acara.

"Bendera ukurannya 7 meter lebih, saya koordinasi izin kepada pihak kepolisian saya kan atas nama panitia. Memohon dengan hormat, hargai acara ini kan hajat NU. Bukan kami tidak cinta kalimat tauhid, warga nahdiyin itu sangat cinta kalimat tauhid bahkan dalam setiap salat 5 waktu, kalimat tauhid itu selalu dibaca," lanjut pria yang juga anggota Ormas Banser tersebut.

Saat itu Hafid mengaku sempat memberikan pengertian ke para pihak yang membawa bendera. Menurutnya aksinya itu semata hanya bentuk permintaan kepada mereka yang mengibarkan bendera di luar aturan panitia HSN.

"Saya hanya berikan pengertian, lalu persoalannya saya pasrahkan kepada petugas keamanan yang ngepos disekitar lokasi acara. Saya bilang kepada mereka yang bawa (bendera tauhid) itu, adik kan santri mungkin pernah dengar fatwa Hadratusyaikh Hasyim Ashari pendiri NU kata beliau adik kan santri mungkin pernah dengar fatwa Hadratusyaikh Hasyim Ashari pendiri NU Hubbul Wathon minal iman, tujuannya untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme dan patriotisme kepada NKRI," jelasnya.

"Saya bilang ke meraka kenapa adik ini membawa bendera Palestina. Saya amankan, kemudian setelah menjelang shalat dzuhur ada pengibaran lagi bendera itu lagi," imbuh Hafid.



Hafid memastikan masalah itu tidak berlanjut. Terkait videonya saat adu mulut dengan sekelompok remaja yang viral ia mengaku tidak mengetahui soal itu.

"Masalah enggak berlanjut, damai sudah. Saya juga enggak tahu ada yang merekam, saya juga enggak tahu itu diviralkan. Dari tadi engga buka-buka ponsel karena sibuk," tandasnya.

Dihubungi terpisah, A Ahmad Yani Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Cianjur membenarkan kejadian tersebut. Menurutnya masalah itu sudah selesai dan ia meminta semua pihak bertabayun dan menyikapinya dengan kepala dingin.



"Saya sudah mendapat informasi kejadian tersebut, kebetulan saya tidak ada di lokasi saat ada pengibaran bendera (Tauhid) itu lalu diambil oleh Banser. Pemicunya ada kesalahpahaman, saya datang ke kantor DKM masjid agung alhamdulillah sudah diselesaikan," ungkapnya.

Ahmad Yani juga meminta video saat adu mulut itu disikapi dengan bijak dan tidak dipelintir setelah tersebar di media sosial. "Harapannya sama-sama tabayun, tidak dibesar besarkan, lebih baik menjaga kondusifitas wilayah. Kalau ada apa-apa umat islam juga yang akan dirugikan," tandasnya.
(sya/mae)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com