detikNews
2019/10/22 15:57:32 WIB

Ragukan Temuan Polda, Walhi Sumut Minta Kasus Golfrid Diusut Mabes Polri

Budi Warsito - detikNews
Halaman 1 dari 2
Ragukan Temuan Polda, Walhi Sumut Minta Kasus Golfrid Diusut Mabes Polri Foto: Dewan Nasional Walhi Mualimin Pardi Dahlan. (Budi Warsito-detikcom)
Medan - Tim Investigasi Walhi mengungkap kejanggalan-kejanggalan dalam kasus kematian Golfrid Siregar. Walhi meminta kasus Golfrid ditangani Mabes Polri.

Hal itu disampaikan Dewan Nasional Walhi Mualimin Pardi Dahlan.Tim Investigasi menyusuri rute yang dilalui Golfrid Siregar hingga ditemukan tewas.

"Proses selama di sini saya coba ikuti rute perjalanan, mulai dari titik dia berkumpul hingga keluar dari tempat itu hingga ditemukan di underpass. Kejanggalan pertama ada rentang waktu yang dimungkinkan dia tidak dapat prematur langsung disebut kecelakaan," ujar Mualimin di Medan, Sumatera Utara, Selasa (22/10/2019).


Kejanggalan itu, katanya, berdasarkan rekaman cctv di persimpangan Jalan Suka Bakti tempat menuju Jalan Alfalah. Di mana warung tempat Golfrid duduk berada di Jalan Suka Bakti.

"Berdasarkan CCTV ada rentang waktu, dia tertangkap kamera 22.30 WIB di simpang (Jalan Suka Bakti dan Jalan Alfalah). WA dia aktif terakhir di 22.36 WIB, artinya dua petunjuk itu bisa didalami mulai dari waktu terakhir hingga ditemukannya yang bersangkutan sekitar pukul 01.00 WIB. Itu masih ada spare waktu satu jam setengah," bebernya.

Mualimin melanjutkan, polisi yang mengatakan Golfrid keluar pukul 22.36 WIB. Namun, dia menegaskan tidak ada yang bisa memastikannya.

"Memang betul dia keluar di atas pukul 23.00. Tapi saya ingin menegaskan, apakah ada yang bisa memastikan? Ternyata tidak ada satupun yang bisa memastikan. Artinya tangkapan CCTV di simpang depan dengan WA terakhir bisa jadi bukti yang bisa diperdalam," imbuhnya.

Selain itu, pihak Walhi juga menyayangkan soal bukti lain yang tidak disampaikan secara utuh oleh pihak kepolisian saat rilis kasus. Salah satunya soal hasil autopsi.

"Kedua, kami merasa terlalu cepat polisi menyimpulkan ini sebagai kecelakaan. Tapi ada bukti lain yang tidak secara utuh diungkap dalam rilis. Di antaranya terkait hasil autopsi, itu tidak satupun pihak kepolisian menerangkan secara rinci. Terkait luka tempurung kepala yang diduga paling mematikan," urainya.

"Kami menilai, Polisi tidak profesional mengungkap secara utuh. Kami ingin terlepas dari penyelidikannya, paling tidak prosesnya bisa diurai utuh dan lengkap," tuturnya.
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com