detikNews
Senin 21 Oktober 2019, 22:16 WIB

Round-Up

Habis-habisan Lawan Jokowi, Gerindra Dapat 2 Menteri

Tim detikcom - detikNews
Habis-habisan Lawan Jokowi, Gerindra Dapat 2 Menteri Prabowo Subianto dan Edhy Prabowo (Andhika Prasetia/detikcom)
Jakarta - Suasana politik pascapilpres benar-benar berubah. Partai Gerindra, yang melawan Joko Widodo (Jokowi) habis-habisan, kini mendapat jatah dua menteri.

Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto bersama Waketum Gerindra Edhy Prabowo datang ke Istana setelah mendapat panggilan dari Jokowi. Prabowo mengungkap pada Minggu (20/10) malam dirinya diminta Jokowi datang ke Istana.

"Saudara-saudara sekalian, saya baru saja menghadap Bapak Presiden RI yang baru kemarin dilantik. Saya bersama Saudara Edhy Prabowo, kami diminta untuk memperkuat kabinet beliau," kata Prabowo di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (21/10/2019).


"Dan saya sudah sampaikan keputusan kami dari Partai Gerindra, apabila diminta, kami siap membantu dan hari ini resmi meminta dan kami sudah sanggupi membantu," tambahnya.

Prabowo mengungkap dia diminta membantu Jokowi di bidang pertahanan. Dia memberi sinyal Gerindra diberi dua kursi. Soal posisi menteri Edhy, Prabowo meminta publik menunggu Jokowi yang mengumumkan.

"Beliau izinkan saya untuk menyampaikan, saya membantu beliau diminta di bidang pertahanan," kata Prabowo.


Jokowi secara resmi akan mengumumkan kabinetnya pada Rabu (23/10) nanti. Hari ini ada 11 orang yang bertemu Jokowi. Pemanggilan masih akan berlangsung hingga Selasa (22/10) besok.



Isu Gerindra akan mendapat jatah kursi menteri sudah berembus beberapa waktu ini. Rumor mulai beredar setelah Prabowo melakukan serangkaian pertemuan dengan ketum parpol pengusung Jokowi-Ma'ruf Amin. Diketahui Prabowo sempat bertemu Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri, Ketum NasDem Surya Paloh, Ketum PPP Suharso Monoarfa, Ketum Golkar Airlangga Hartarto, hingga Ketum PKB Muhaimin Iskandar.

Para ketum tidak ada yang menyatakan keberatan jika Gerindra masuk koalisi. Meski berulang kali Gerindra menyatakan tak pernah membahas, apalagi meminta kursi, rumor terus menguat.


Awalnya dirumorkan ada tiga kader Gerindra yang mendapat kursi. Gerindra menyatakan tahu diri tapi siap membantu pemerintah jika diminta.

"Itu semua hak prerogatif Presiden ya. Kita juga tahu, kita adalah partai pendukung yang bukan mendukung beliau pada saat pilpres. Jadi kita juga tahu diri," kata Waketum Gerindra Edhy Prabowo di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Minggu (20/10).

Sebelum Gerindra masuk koalisi, rivalitas Prabowo-Jokowi memang begitu terlihat. Prabowo, yang berpasangan dengan Sandiaga Uno, mengajukan gugatan hasil Pilpres 2019. Prabowo-Sandi menuding terjadi kecurangan yang sistematis, terstruktur, dan masif. Mereka menolak hasil Pilpres 2019.


Namun akhirnya, MK menolak seluruh permohonan gugatan hasil Pilpres 2019 yang diajukan Prabowo-Sandiaga pada 27 Juni 2019. Hingga akhirnya Jokowi-Ma'ruf ditetapkan sebagai presiden-wapres terpilih oleh KPU pada 30 Juni 2019. Prabowo-Sandiaga tidak hadir dan diwakili saksi kubu mereka dalam rapat pleno tersebut.

Jauh sebelum itu, perlawanan habis-habisan Gerindra terhadap Jokowi berlangsung sejak mereka secara resmi mengumumkan mengusung Prabowo sebagai capres pada 11 April 2018. Meski belum masuk masa kampanye, serangan kedua kubu sudah berjalan.

Masa kampanye berjalan panjang selama tujuh bulan. Terhitung sejak 3 September 2018 hingga 13 April 2019, kedua pasangan kampanye berkeliling Indonesia, melakukan kampanye terbuka. Rivalitas itu terus berlangsung, termasuk di debat Pilpres 2019.
(jbr/idn)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com