Beda Cerita Mahfud Md Dulu dan Kini

Round-Up

Beda Cerita Mahfud Md Dulu dan Kini

Tim detikcom - detikNews
Senin, 21 Okt 2019 20:32 WIB
Mahfud Md tiba di Istana pada bulan Oktober 2019 jelang pengumuman kabinet (Foto: Andhika Prasetia/detikcom)
Mahfud Md tiba di Istana pada bulan Oktober 2019 jelang pengumuman kabinet (Foto: Andhika Prasetia/detikcom)
Jakarta - Menjelang magrib pada awal bulan Agustus 2018, seorang Mahfud Md menanti keputusan besar. Dalam hitungan menit setelahnya apa yang dinanti Mahfud berbanding terbalik.

Jokowi memilih Ma'ruf Amin sebagai pendampingnya menghadapi Pemilu 2019. Padahal saat itu santer terdengar kabar bila Mahfud yang seharusnya berdiri di samping Jokowi.

Ada apa?

Beda Cerita Mahfud MD Dulu dan KiniMahfud Md bersama politikus PSI Guntur Romli menjelang pengumuman cawapres Jokowi pada Agustus 2018 (Foto: Twitter Guntur Romli)


Padahal malam sebelumnya Mahfud mengaku sudah menyerahkan curriculum vitae sebagai calon wakil presiden. Pun Mahfud saat itu sudah bersiap mengenakan kemeja putih yang menjadi salah satu ciri khas Jokowi dan orang-orang di sekitar lingkaran dalamnya.

Namun pada akhirnya pilihan Jokowi jatuh pada Ma'ruf. "Saya putuskan dan telah mendapatkan persetujuan dari parpol Koalisi Indonesia Kerja bahwa yang akan mendampingi saya sebagai cawapres 2019-2024 Profesor Ma'ruf Amin," kata Jokowi saat mengumumkan hal itu di Restoran Plataran Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (9/8/2018).

Beberapa hari setelahnya Mahfud buka-bukaan dalam program Indonesia Lawyers Club (ILC) di tvOne. Seperti apa ceritanya?



Dalam acara itu Mahfud legawa menceritakan drama politik yang dihadapinya sebagai realitas yang tidak terhindarkan. Mahfud mengawali cerita dari pertama kali ia ditemui orang-orang Istana.

"Pada tanggal 1 Agustus pukul 23.00 malam, saya diundang oleh Menteri Sekretaris Negara Pak Pratikno, saya ditemui bersama Pak Teten Masduki lalu saya diberi tahu, 'Pak Mahfud, sekarang pilihan sudah mengerucut ke Bapak, Bapak harap bersiap-siap, nanti pada saatnya akan diumumkan,' oke," ungkap Mahfud.

Saat itu Mahfud sempat heran karena diminta pula untuk menjalin komunikasi dengan PKB, sedangkan dirinya bukan cawapres yang diusulkan partai itu. Sepekan setelahnya Mahfud mengaku kembali diundang ke kediaman Pratikno.




"Ada Pak Teten, asisten Pak Pratikno, 'Pak Mahfud besok akan diumumkan,'" ungkap Mahfud.

"Detail sudah diputuskan Pak Mahfud sekarang semua sudah disiapkan upacaranya nanti berangkat dari Gedung Joang, Pak Mahfud naik sepeda motor bersama Pak Jokowi. Pak Mahfud bonceng, Pak Jokowi yang di depan," sambung Mahfud.

Persiapan deklarasi Jokowi-Mahfud pun sudah begitu detail. Sampai-sampai itu membuat Mahfud tersenyum jika mengingatnya.




Hingga pada menit-menit akhir bukan nama Mahfud yang disampaikan Jokowi. Mahfud mengaku sempat dihubungi Pratikno lagi soal perubahan rencana tersebut. Pada akhirnya Mahfud merasa apa yang dialaminya tidak membuatnya berkecil hati.

"Itu yang terjadi. Nah kemudian ya yang terjadi akhirnya diumumkan Kiai Ma'ruf Amin, kenapa itu berubah sudah ada analis di depan, bukan saya. Lalu saya diburu wartawan, 'Gimana, Pak,' ya nggak apa-apa saya bilang saya menerima sebagai realitas politik begitu," katanya.



Waktu berlalu berbulan-bulan setelahnya. Mahfud kembali mengenakan kemeja putih lengan panjang melangkah ke halaman Istana sehari setelah Jokowi dilantik menjadi Presiden untuk periode keduanya atau tepatnya pada Senin, 21 Oktober 2019.

"Saya dipanggil (Jokowi)," kata mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu singkat sembari terus berjalan ke Istana.

Santer sebelumnya bila Jokowi segera mengumumkan susunan menteri dalam kabinet yang akan membantunya bersama Ma'ruf Amin sebagai wakil presiden. Tak berapa lama Mahfud mengamini bila kedatangannya menemui Jokowi adalah perihal jabatan pembantu presiden tersebut.

"Intinya saya diminta membantu beliau untuk menjadi salah seorang menteri," kata Mahfud.

Mahfud menyatakan bersedia meski belum tahu akan dijadikan sebagai menteri apa. Namun Mahfud menyebut dirinya mendiskusikan sejumlah hal bersama Jokowi.




"Yang agak dalam kami diskusi masalah pelanggaran HAM, hukum yang kurang menggigit," sebut Mahfud.

"Bapak Presiden memperhatikan sungguh-sungguh tadi hasil survei di bidang penegakan hukum yang pada tahun terakhir ini agak turun sehingga kita diminta bekerja keras untuk benar benar berusaha menegakkan hukum sebaik-baiknya," imbuh Mahfud.

Sampai akhirnya meninggalkan Istana, Mahfud tidak membocorkan apa posisi barunya itu. Dia hanya mengatakan pengumuman menteri akan dilakukan Rabu, 23 Oktober pagi lusa. (dhn/zap)