detikNews
Senin 21 Oktober 2019, 17:29 WIB

Buat Minyak, Bule-bule Parut Kelapa sampai Masak di Tungku Kayu Bakar

Faidah Umu Sofuroh - detikNews
Buat Minyak, Bule-bule Parut Kelapa sampai Masak di Tungku Kayu Bakar Foto: Faidah Umu Sofuroh
Lombok Timur -

Desa wisata di Pulau Lombok, Desa Kembang Kuning, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur terus berinovasi. Salah satu inovasi yang diprakarsai oleh kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Desa Kembang Kuning yaitu wisata Coconut Oil Process.

Usaha Coconut Oil Process merupakan salah satu inovasi dari Pokdarwis yang berkolaborasi dengan masyarakat untuk menjual pelatihan pembuatan minyak kelapa secara tradisional dari awal hingga menjadi minyak kelapa yang siap jual.

Buat Minyak, Bule-bule Parut Kelapa sampai Masak di Tungku Kayu BakarFoto: Faidah Umu Sofuroh

Masuk ke dalam salah satu unit kegiatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), wisata pembuatan minyak kelapa secara tradisional ini menjadi salah satu wisata ikonik dan banyak diminati oleh turis mancanegara.

"Di Kembang Kuning ini saya ada usaha coconut oil process, yang saya kelola sendiri dengan proses yang sangat sederhana yang begitu diminati sama bule-bule," ungkap salah satu anggota Pokdarwis Desa kembang Kuning, Suparman kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Dalam kesempatan itu, detikcom turut mengikuti proses pembuatan minyak kelapa yang dipraktikan oleh Suparman. Pertama, ia mengupas dua buah kelapa yang sudah tua dan diambil daging buahnya.

Setelah kelapa dikupas, proses selanjutnya adalah pemarutan secara tradisional. Menurut Suparman, bagian ini merupakan bagian favorit para turis asing dalam rangkaian pembuatan minyak kelapa.

Parutan kelapa kemudian dicampur dengan air hangat lalu diperas menggunakan sebuah kain tipis untuk diambil santannya. Santan itulah yang kemudian disaring dan dimasukkan ke dalam wajan untuk dimasak. Proses memasak ini juga menjadi tahap yang unik karena menggunakan tungku dan kayu bakar.

"Masaknya pakai tungku, pakai api, karena akan lebih tahan, lebih lama untuk kita simpan, kualitasnya lebih bagus ketimbang pakai gas," ujarnya.

Menurut Suparman, waktu yang dibutuhkan untuk mengubah santan kelapa menjadi minyak kelapa sekitar 30-60 menit, tergantung dengan besar api yang dihasilkan oleh tungku. Santan yang dimasak itu, lama kelamaan akan menyusut dan berubah menjadi ampas serta minyak kelapa.

Untuk 2 buah kelapa tua, dapat menghasilkan 100 ml minyak kelapa yang biasa dijual Rp 50 ribu untuk wisman dan Rp 25 ribu untuk wisatawan domestik. Namun, sejatinya proses pembuatan minyak kelapa inilah yang dijual kepada wisatawan. Untuk satu kali proses, para wisatawan mancanegara biasanya akan memberikan donasi sebesar Rp 250-300 ribu.

Arnaud Alamartine, seorang turis asal Lille, Perancis menceritakan pengalamannya mengikuti proses pembuatan minyak kelapa tradisional kepada detikcom.

"Sangat menarik, bagus, karena kita bisa mencoba santan ini yang seperti susu dari proses pembuatan minyak kelapa, dan proses yang paling menarik itu yang ini saat memasak," kata Arnaud.

Sedangkan istrinya Marie Charlote Chopin mengungkapkan bahwa mereka berdua sedang liburan di Indonesia. Satu minggu mereka berdua akan berkeliling Lombok, sementara minggu berikutnya akan menyeberang ke Pulau Bali.

"Ini pertama kali kami ke Indonesia, kami ke sini lagi liburan. Kalau ditanya mau balik lagi ke sini, kenapa tidak? Indonesia itu sangat besar, kita ingin mengelilingi semuanya," pungkasnya.

Ikuti terus berita-berita tentang kabar desa dari desa-desa di seluruh Indonesia. Informasi lainnya dari Kemendes PDTT bisa dilihat di sini.


Simak juga video "Cara Unik Desa Kembang Kuning Lombok Timur Pikat Wisatawan Untung Berlipat" :

[Gambas:Video 20detik]




(mul/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com