'Hilal' dari Istana Belum Terlihat, Gerindra Sempat Mendua

Pasti Liberti Mappapa, Deden Gunawan, Ibad Durohman - detikNews
Sabtu, 19 Okt 2019 05:56 WIB
Prabowo Subianto di mimbar Gerindra (Adhi Wicaksono/CNN Indonesia)

Dinamika internal Gerindra tersebut bisa selesai kalau Prabowo sudah memutuskan. Gerindra menurut Adi sangat tergantung pada ketokohan mantan Panglima Komando Strategis Angkatan Darat itu. "Kalau Ketum kecenderungannya mau merapat semua tidak bisa berkutik. Begitu juga dengan partai lain yang sami'na wa atho'na apa yang diputuskan oleh ketum. Cuma Golkar yang tidak seperti itu," kata Adi.

Kemungkinan lain sikap ragu-ragu Gerindra itu karena dinamika komposisi kabinet Jokowi masih dinamis. Menurut Adi parpol pendukung utama Jokowi pun belum punya kepastian terkait jumlah menteri yang akan didapatkan. Ini bisa menjelaskan kenapa sikap politik Gerindra mendua, siap menjadi oposisi dan siap juga masuk pemerintahan jika dibutuhkan.

"Memang belum ada angin surga yang bisa dipastikan sebagai bagian yang bisa dikapitalisasi oleh Gerindra untuk merapat ke Jokowi," kata Adi. "Jadi memang hilal politik dari Istana belum tampak. Abu-abu semua masih tertutup awan."



Hilal di sini adalah metafora. Bila dalam arti sebenarnya adalah bulan sabit penanda datangnya bulan baru, seringnya dinantikan sebagai penanda bulan Ramadan, namun di sini 'hilal' dimaknai sebagai tanda-tanda terbukanya pintu pemerintahan Jokowi untuk Gerindra.

Analis politik dari Exposit Strategic, Arif Susanto menyebut perbedaan pandangan dalam tubuh Gerindra untuk memilih apakah akan beroposisi ataukah berkoalisi merupakan hal wajar. Namun, perbedaan tersebut belum sampai membelah partai tersebut dalam suatu friksi yang kuat. "Sejauh ini terlihat bahwa kendali Prabowo atas partai masih mampu menjaga soliditas organisasi," ujarnya. "Meski resistansi lebih kuat muncul dari pendukung di luar partai."