detikNews
Jumat 18 Oktober 2019, 07:15 WIB

Round-Up

Kode-kode di 'Telepon Tergantung' Jokowi Soal Menteri

Tim detikcom - detikNews
Kode-kode di Telepon Tergantung Jokowi Soal Menteri Foto: (Instagram Jokowi)
Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengeluarkan kode-kode misterius terkait pengumuman susunan Kabinet Kerja II. Kode-kode itu terselip dalam sebuah unggahan foto gagang telepon tergantung berwarna hitam dan putih. Foto itu juga dilengkapi kalimat 'sabar! sebentar lagi...'. Lantas, apa maknanya?

Mulanya, melalui akun Instagram-nya, Jokowi mengunggah foto gagang telepon yang tergantung. Warna gagang telepon ini hitam dan putih. Warna putih ada di bagian gagang telinga yang biasa dipakai untuk mendengarkan suara. Di foto tersebut, juga dilengkapi kalimat 'sabar! sebentar lagi...'.


Tak lupa, disertakan pula penjelasan soal pengumuman susunan kabinetnya. Jokowi menyebut susunan itu akan segera diumumkan.

"Yang jelas, susunan kabinet untuk pemerintahan periode mendatang sudah rampung. Saya akan umumkan segera setelah pelantikan Presiden dan Wakil Presiden RI 2019-2024 pada 20 Oktober, bisa di hari yang sama, atau setelahnya," kata Jokowi dalam tulisan yang diunggah pada Kamis (17/9/2019).

Jokowi juga mengatakan, calon-calon menterinya itu bisa berasal dari semua bidang. Menurutnya, tak sulit untuk menemukan mereka.

"Mereka terserak di semua bidang pekerjaan dan profesi: akademisi, birokrasi, politisi, santri, juga TNI dan polisi. Tidak sulit menemukan mereka," lanjut Jokowi.


Kode-kode ini pun kemudian menimbulkan teka-teki. Direktur Eksekutif Indonesia Political Review Ujang Komarudin menilai foto telepong tergantung itu artinya ialah soal komunikasi menteri yang belum tuntas.

"Telepon tergantung itu simbol-simbol modern. Kalau menurut hemat saya, bisa jadi artinya masih ada yang harus dikomunikasikan dengan partai-partai yang sedang berkoalisi, atau pun dengan partai oposisi. Jadi komunikasinya belum tuntas," kata Direktur Eksekutif Indonesia Political Review Ujang Komarudin saat dihubungi, Kamis (17/10/2019).

Selain itu, Ujang menyoroti pernyataan Jokowi yang menyebut menemukan menteri itu tak sulit. Ujang menganggap pernyataan tersebut dimaksudkan untuk membangun semangat optimis.

"Itu untuk membangun keoptimisan. Kalau memang merasa tidak kesulitan, saya justru memandang hal yang berbeda. Pak Jokowi justru nampak kesulitan. Karena sekarang Pak Jokowi beda sama yang dulu. Konsistensinya dalam memilih menteri hilang. Saya contohkan, dulu melibatkan KPK, sekarang tidak," tuturnya.

Tak berhenti pada gambar gagang telepon tergantung saja, warna hitam-putih gagang telepon pun turut disorot. Peneliti Komunikasi Semiotika dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Kunto Adiwibowo menduga warna putih itu identik dengan simbol moncong putih banteng PDIP, partai yang menaungi Jokowi.

"Menurut saya itu mungkin justru yang paling ngepush Jokowi itu PDIP. Itu warna putih, itu moncong putihnya (banteng simbol PDIP) kan. Perlambang putih itu artinya Pak Jokowi tidak mau terkontaminasi dengan apa yang dibicarakan oleh orang-orang di sekitarnya. Yang paling maksa ya PDIP. Yang terbuka minta jatah paling banyak kan PDIP," kata Kunto Adiwobo saat dihubungi, Kamis (17/10/2019).


Kode-kode di 'Telepon Tergantung' Jokowi Soal MenteriFoto: Simbol banteng PDIP (Rifkianto Nugroho)

Selain itu, Kunto juga mengatakan gagang telepon yang tergantung bisa dimaknai sebagai gagang telepon yang dipegang oleh Jokowi. Dia menjelaskan, alasan gagang telepon itu tergantung karena Jokowi tidak mau dihubungi soal jatah-jatah menteri.

"Kalau menurut saya, itu gagang teleponnya di Pak Jokowi. Artinya, beliau nggak mau dihubungi soal menteri-menteri. Beliau, seolah-olah bilang 'udahlah sabar aja, saya sudah punya nama-namanya'. Teleponnya bukan dari lawan bicaranya. Ini artinya seperti memberitahu, sekarang banyak loh yang menghubungi Jokowi soal nama-nama menteri itu. Di tengah-tengah lobi. Pak Jokowi ingin menghindari crowded," tuturnya.


Kalimat 'sabar! sebentar lagi...' juga turut memunculkan misteri. Pasalnya, ada tanda seru usai kata 'sabar'. Jokowi seperti menekankan sesuatu.

Pakar bahasa dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Hilmi Akmal, menjelaskan, tanda seru digunakan untuk menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan atau emosi yang kuat. Hal ini pun sudah diatur dalam PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia).

Hilmi mengatakan tanda seru yang digunakan dalam kalimat tersebut untuk menggambarkan emosi yang kuat. Emosi itu disampaikan kepada lawan tuturnya, dalam hal ini rakyat Indonesia.

"Terkait dengan gambar posting-an Pak Jokowi di media sosial beliau terkait 'bocoran' nama-nama menteri di kabinet periode 2019-2024 yang berupa gambar gagang telepon menggantung ke bawah dan ada tulisan 'sabar! Sebentar lagi...' bisa dimaknai, bahwa Pak Jokowi sedang bertutur kepada lawan tuturnya, dalam hal ini rakyat Indonesia, dengan memakai kalimat perintah yang ditandai dengan adanya tanda seru (!) Di akhir kata sabar. Itu menunjukkan adanya emosi yang kuat dari beliau," kata Hilmi saat dihubungi, Kamis (17/10/2019).

Dia juga menyoroti tanda baca 'titik tiga' atau elipsis di akhir kalimat tersebut. Menurutnya, tanda elipsis menandakan kalimat yang belum selesai.

"Lantas untuk tanda elipsis di akhir kalimat sebentar lagi... menandakan bahwa kalimat itu belum selesai. Kalimat itu masih menggantung. Bisa saja kalimat lengkapnya adalah sebentar lagi diumumkan," ujarnya.

Dari dua tanda baca tersebut, dia menyimpulkan bahwa Jokowi menyampaikan kalimat perintah dengan emosi yang kuat.

"Bisa disimpulkan beliau meminta dengan kalimat perintah yang dipenuhi emosi yang kuat dan yang ditegaskan oleh penggunaan tanda seru (!) agar rakyat Indonesia bersabar menanti pengumuman nama-nama menteri beliau," lanjutnya.


Sementara itu, pemerhati bahasa Indonesia, Ivan Lanin pun ikut menyoroti tanda seru dalam kalimat Jokowi tersebut. Menurutnya, tanda seru setelah kata sabar tidak bertentangan, karena tanda seru bukan hanya untuk menyampaikan emosi.

"Tidak (bertentangan dengan kata sabar). Coba baca definisi penggunaan tanda seru itu. Tanda seru dipakai untuk menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, atau emosi yang kuat. Tanda seru pada kata sabar bisa dipakai untuk menggambarkan kesungguhan," kata Ivan Lanin, saat dihubungi, Kamis (17/10/2019).

Dia menjelaskan bahwa emosi bukan hanya untuk rasa marah. Bisa juga untuk mengungkapkan rasa kagum atau terkejut.

"Kalaupun sebagai emosi, yang disebut emosi bukan hanya rasa marah. Misalnya, mengungkapkan kekaguman lewat 'kamu cantik sekali!' atau menyampaikan rasa terkejut 'Waduh!'. Saya pikir banyak orang yang keliru mengartikan tanda seru. Mereka pikir itu hanya untuk perintah atau kemarahan," tuturnya.

Istana Ungkap Kode 'Telepon Tergantung'

Tenaga Ahli Kedeputian IV Kantor Staf Presiden, Ali Mochtar Ngabalin, megungkapkan filosofi di balik kode tersebut. Ada dua pengertian dalam kode itu.

"Maklumat membaca filosofi gagang telepon yang tergantung dan tagline 'sabar sebentar lagi' dua pengertian mendasar. Satu, presiden akan telepon dan memastikan nama yang yang telah beliau cantumkan calon anggota kabinet beliau," kata Ngabalin, Kamis (17/10/2019).

"Dua, beliau akan menghubungi masing-masing calon menteri yang beliau yakini bisa dan dapat bekerja membantu beliau di pemerintahan," imbuh Ngabalin.

Ngabalin mengatakan Jokowi ingin calon pembantunya memiliki kompetensi ideal sesuai latar belakang keilmuan serta pengalaman yang selaras dengan pos kementerian terkait. Jokowi juga disebut ingin menterinya memiliki visi misi sejalan dan berani membuat kebijakan yang menyejahterakan rakyat.

"Siapapun Anda dan dari manapun Anda datang berasal setelah dilantik dan diambil sumpah oleh Presiden, maka hanya ada satu matahari dalam menjalankan roda pemerintahan yakni Presiden Joko Widodo," tegas Ngabalin.



Ngabalin berharap para menteri Jokowi di Kabinet Jilid II bisa menjaga amanah yang diberikan. Dia menekankan tugas seorang menteri adalah membatu presiden dan tidak membuat kebijakan yang menyimpang dari visi misi kepala negara.

"Tidak boleh ada seorang pun yang berpaling dari perintah presiden. Harus konsisten dalam menjalankan semua perintah dari orang yang memberi amanah," ucap Ngabalin.
(rdp/idn)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com