Viral Aksi Bule Duduk di Pelinggih, Dinilai Lecehkan Tempat Suci Bali

Aditya Mardiastuti - detikNews
Rabu, 16 Okt 2019 12:52 WIB
Foto: dok istimewa
Denpasar - Foto seorang turis mancanegara duduk di area pelinggih (tempat suci umat Hindu) di Bali ramai dibahas di media sosial. Aksi turis itu dinilai melecehkan adat dan budaya Bali.

Dalam foto tersebut terlihat seorang turis wanita duduk di atas pelinggih sambil mengacungkan kedua tangannya ke arah kamera membentuk tanda V. Turis itu memakai kamen warna merah dan berfoto menghadap ke kamera, sementara di sebelah kanan terlihat turis pria yang berdiri menginjak pelinggih di bagian belakang.

Turis pria itu terlihat memakai kamen kotak-kotak warna hitam, putih, dan merah (tri datu). Belum diketahui di mana lokasi dan waktu foto tersebut diambil.




"Bali itu kan dijuluki thousand of temple banyak tempat suci di Bali, sementara bule tidak tahu adat istiadat di Bali ini. Ini perlu pengawasan, announcement yang perlu dipasang baik dalam Bahasa Inggris macem-macemlah supaya tidak terulang lagi di tempat-tempat suci ini," kata Plt Kepala Dinas Pariwisata Bali Putu Astawa ketika dihubungi via telepon, Rabu (16/10/2019).

Astawa berpendapat pemasangan rambu-rambu atau papan larangan dengan berbagai bahasa asing harus diperbanyak. Dia juga berharap agar masyarakat di desa bisa lebih memperhatikan dan melakukan pengawasan.

"Jadi harus diperbanyaklah papan pengumuman, papan-papan larangan dalam berbagai bahasa karena turis yang datang ke Bali tidak semuanya paham Bahasa Inggris," tuturnya.

"Sudah ada (anggaran) cuma saking banyaknya pura, dan perlu pengawasan dari bendesa adat. Pariwisata Bali pariwisata budaya, dan kebanyakan agama Hindu jadi masyarakat desa adat ini yang harus lebih berperan," sambung Astawa.



Saat ini pemerintah Provinsi Bali juga tengah menyusun aturan mengenai etika wisatawan yang berkunjung ke Bali. Ditargetkan akhir tahun ini bisa rampung dan diusulkan ke dewan untuk menjadi Perda.

"Sedang disusun belum jadi, target akhir tahun jadi nanti baru diajukan ke dewan. Sanksi terhadap ini kan susah, karena ini kan sanksinya sanksi adat. Jadi semacam kalau di atas namanya upacara guru piduka (meminta maaf), adat yang menyelesaikan dia, untuk menyucikan ini perlu dana, ini termasuk pelecehanlah sama dengan kasus yang di Ubud itu," tuturnya.




"Pelinggih-pelinggih itu kan stana dari betara-betari yang disucikan. Ini pelecehan terhadap simbol kesucian agama Hindu," ucap Astawa.

Kasus pelecehan di tempat suci di Bali bukan kali ini terjadi. Agustus lalu ada dua turis asal Ceko yang dinilai melecehkan pura di kawasan Monkey Forest Ubud, karena menggunakan tirta suci untuk 'cebok'. Pasangan tersebut akhirnya minta maaf dan melakukan upacara guru piduka. (ams/dhn)