Orang Utan Mama Sifa dan Anaknya Diselamatkan dari Karhutla di Kalbar

Orang Utan Mama Sifa dan Anaknya Diselamatkan dari Karhutla di Kalbar

Faiq Hidayat - detikNews
Senin, 14 Okt 2019 00:43 WIB
Foto: orang utan mama sifa dan bayinya di kalimantan barat (dokumen tim IAR Indonesia)
Foto: orang utan mama sifa dan bayinya di kalimantan barat (dokumen tim IAR Indonesia)
Jakarta - Tim Interntional Animal Rescue (IAR) Indonesia dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat menyelamatkan dua orang utan di desa Tempurukan, Kalimantan Barat. Orang utan itu berada di dekat kebakaran hutan dan lahan di wilayah Ketapang.

Ketua tim penyelamatan IAR Indonesia, Argitoe Ranting, mengatakan penyelamatan orang utan itu dilakukan bersama BKSDA Kalbar, Babinsa serta dibantu warga sekitar. Dua orang utan itu berusia bayi (8 bulan) dan dewasa (20 tahun), diberi nama Mama Sifa dan Sifa.

"Evakuasi dan translokasi orang utan selalu menjadi pilihan terakhir dan jika bisa, kita akan menghindarinya dan memastikan orang utan dapat bertahan hidup di habitatnya. Namun kali ini tidak ada pilihan lain, keduanya terjebak hanya di beberapa bidang pohon yang tersisa. Setelah kebakaran, kawasan hutan besar telah terbakar dan orang utan ini tidak dapat kembali ke habitatnya. Jika kita tidak ada di sini, orang utan ini tidak akan selamat," ujar Argitoe Ranting dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Senin (14/10/2019).



Kedua orang utan itu, dikatakan Argitoe masuk ke area perkebunan warga untuk mencari makan. Kondisi dua orang utan itu kurus dan dehidrasi karena kekurangan nutrisi selama beberapa hari. Tim dokter menilai keduanya bisa segera ditranslokasi ke wilayah hutan. Setelah diberikan perawatan kesehatan dengan segera, keduanya pun dibawa kembali ke hutan dengan menggunakan traktor dikarenakan jarak dari perkebunan warga ke batas hutan, cukup jauh.

"Kami sangat menghargai perhatian dan kepedulian masyarakat setempat serta pihak berwenang seperti polisi dan TNI di Ketapang yang membantu kami dalam upaya penyelamatan orang utan," kata Argitoe Ranting yang membuka kandang Mama Sifa bersama Koptu Andi S dari Babinsa Sungai Awan Kiri/Tempurukan yang membuka kandang.





Ketika kebakaran hutan dan lahan melanda daerah Ketapang, sambung dia IAR Indonesia bersama para mitra pemerintah dan warga masyarakat, telah menyelamatkan enam individu orang utan termasuk Mama Sifa dan bayinya. Hilangnya habitat tempat mereka hidup menjadikan Unit Perlindungan Orang utan dan Tim Penyelamat dari IAR Indonesia harus siap 24 jam setiap hari ketika menerima laporan masyarakat.

"Ketika Anda melihat mata Sifa, Anda menyadari ketakutan dan keputusasaan orang utan yang melihat bagaimana rumah mereka hancur," ujar Direktur Program IAR Indonesia Karmele Llano Sanchez.



Orang Utan Mama Sifa dan Anaknya Diselamatkan dari Karhutla di KalbarFoto: dokumen tim IAR Indonesia


Kejadian ini, menurut Sanchez sama seperti yang terjadi pada tahun 2015, di mana operasi penyelamatan berlangsung berbulan-bulan setelah kebakaran, dan dampak buruk yang ditimbulkan kebakaran hutan pada orang utan dan satwa liar lainnya.

"Mereka yang berhasil diselamatkan, adalah yang beruntung karena masih mendapatkan kesempatan untuk bertahan hidup. Tetapi masih banyak orang utan yang mungkin mati dalam kebakaran dan yang tidak bisa selamat karena kekurangan makanan atau dibunuh manusia. Kita perlu bekerja sangat keras untuk memastikan bahwa tidak akan ada lagi kebakaran hutan. Jika tidak, akan sangat sulit untuk memastikan kelangsungan hidup hewan-hewan ini di alam liar," tuturnya. (fai/dnu)