detikNews
Minggu 13 Oktober 2019, 14:01 WIB

Cerita Diah, Balik Kampung ke Way Kanan & Kembangkan UKM Olahan Ikan

Nurcholis Maarif - detikNews
Cerita Diah, Balik Kampung ke Way Kanan & Kembangkan UKM Olahan Ikan Foto: Nurcholis Maarif/detikcom
Way Kanan - Beberapa masyarakat kampung di Kabupaten Way Kanan, Lampung memilih merantau untuk mencari pekerjaan setelah lulus sekolah atau kuliah. Mereka menjadi pekerja pabrik dan ada juga yang pembantu rumah tangga serta pekerjaan lainnya.

Selain itu, orang tua juga menjadi faktor pendorong seorang anak merantau di mana misalnya mendapat pekerjaan di kota besar seperti Jakarta menjadi privilege tersendiri buat satu keluarga di kampung.


Hal inilah yang dialami Halimatussa'diyah (40) yang kini mengelola usaha rumahan olahan ikan Dapur Way Kanan di Kampung Tiuh Balak I, Kecamatan Baradatu, Kabupaten Way Kanan, Lampung.

Diah, panggilan akrabnya, bekerja di salah satu bank swasta besar di Jakarta setelah lulus kuliah di Lampung. Sejak awal, kata Diah yang lulusan Pendidikan Kimia, ingin mencari pekerjaan di tanah kelahirannya dan baru terwujud setelah 10 tahun bekerja di Jakarta.

"Hati saya tetap kampungan, saya ingin balik ke kampung. Akhirnya saya atur waktu, butuh modal, sempat ada kendala di anak-anak.Alhamdulillah tahun 2017 bisa balik ke sini, di kota enggak banget," ucap Diah saat ditemui detikcom beberapa waktu lalu.

Cerita Diah, Balik Kampung dan Kembangkan UKM Olahan IkanFoto: Nurcholis Maarif/detikcom

Diah lalu mulai merintis wirausaha olahan ikan dengan dua brand awal cheesy fish dan lele kriuk. Ide ini terinovasi dari anak-anaknya yang sedang beradaptasi dengan kebiasaan makan antara di kota dan di kampung.

Ia juga mencoba mengajak ibu-ibu di kampungnya untuk bergabung dan bekerja sama berwirausaha dari dapur. Namun, ia kesulitan karena menurutnya mindset ibu-ibu tetangganya banyak yang lebih memilih jadi karyawan daripada mengembangkan usaha sendiri.

"Pertamanya prihatin, enam bulan di sini melihat ibu-ibu kegiatannya begitu. Ngajak itu enggak semudah itu, ada yang bilang lu enak lu lulusan bank. Oh salah, saya tidak menggunakan modal itu. Saya ibu rumah tangga, uangnya dapat dari dapur lho," ucap Diah.


"Satu tahun saya coba paksakan, tapi tidak bisa. Mindset mereka berpikir ibu-ibu di rumah bisa dapat duit itu susah, mereka maunya gajian lah, maaf-maaf kaya jadi buruh lah," imbuhnya.

Sampai saat ini Dapur Way Kanan memproduksi 10 varian olahan ikan, yang kering dan basah di antaranya abon lele, peyek lele, steak lele, ikan asap, bola-bola ikan, bakso ikan, nugget ikan, cheesy fish, dan lele kriuk.

Adapun range harganya dari Rp 10 ribu hingga Rp 70 ribu. Kata Diah, Dapur Way Kanan juga sudah mempunyai reseller dan sudah dipasarkan hingga Bandar Lampung dan Jabodetabek.

Berdasarkan evaluasi dan kalkulasinya, kata Diah, tidak sanggup menggaji banyak karyawan untuk usaha rumahan seperti Dapur Way Kanan. Namun, ia juga ingin usahanya berkembang yang berarti membutuhkan tenaga lebih banyak.

"Ngobrol lah sama teman dan ngajakin ke Dinas PMK. Maju mundur cantik tuh, nekat aja, kontak pak Ali, kebetulan ada pak kadis juga saat itu. Boleh deh kita buat BUMDes, kita sepakat dengan unit usahanya ikan," ucap Diah.

"Sudah jelas alokasi dananya, tidak hanya hilirnya saja, tetapi hulunya juga. Hilirnya sudah siap pasar, tinggal nanti tahun 2020 main di hulunya sehingga bisa semua elemen usaha. walaupun nanti penduduk tidak usaha sendiri, tapi kita sanggup menggaji mereka karena ada partner dari pemerintah karena ada cost tadi," jelasnya.

Lebih lanjut Diah menjelaskan yang dimaksud hulunya ialah budidaya ikan yang nantinya dikembangkan untuk produksi dengan memberdayakan pemuda kampung setempat. Sedangkan untuk produksi akan melibatkan ibu-ibu rumah tangga.

"Kita sudah harus cari pasar di luar sini. Lewat BUMDes, kita berharap ibu-ibu dalam satu hari bisa pegang Rp 50 ribu saja, taraf ekonomi meningkat. Rp 50 ribu itu cukup asal bisa manage uang," ujarnya.

Cerita Diah, Balik Kampung dan Kembangkan UKM Olahan IkanFoto: Nurcholis Maarif/detikcom

"Harapan saya, semua warga tidak keluar dari sini, anak mudanya ada di sini. Mindset orang tua itu kerja di Jakarta itu wah. Padahal kalau di BUMDes anak juga bisa dapat duit, mereka kerja, mereka dihargai. Akhirnya masyarakat di sini bukan tenaga operasional, tetapi manajer yang mengelola karyawan dari lain," pungkasnya.

Sementara itu, menurut Kepala Kampung Tiuh Balak I Fuad (39), gereget pembuatan unit usaha BUMDes harus datang dari masyarakat selain pemerintah kampung. Kata Fuad, siap menampung keinginan masyarakat yang ingin mengembangkan usaha lewat BUMdes.

Ia mendorong masyarakat setempat yang mayoritas petani untuk bergerak ke wirausaha. Apalagi menurutnya, Kecamatan Baradatu yang dilalui Jalur Lintas Sumatera tengah merupakan pusat ekonomi di Way Kanan.

"Selama ini toko di pinggir jalan itu dari pendatang, warung yang ada kok diisi orang luar. Kami memikirkan caranya, ibu-ibu PKK di tempat kita untuk mengisi itu semua maupun anak mudanya," ucap Fuad.

Adapun informasi lainnya dari Kemendes PDTT bisa dicek di sini.



(ega/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com