detikNews
Jumat 11 Oktober 2019, 11:37 WIB

Tentang JAD Dalang Penikam Wiranto: Antek ISIS yang Dibentuk di Nusakambangan

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Tentang JAD Dalang Penikam Wiranto: Antek ISIS yang Dibentuk di Nusakambangan Foto: Abu Rara, anggota JAD yang tusuk Menko Polhukam Wiranto (Dok. Polsek Pandeglang)
Jakarta - Syahrial Alamsyah alias Abu Rara, tersangka penusukan Menko Polhukam Wiranto merupakan bagian dari Jamaah Ansharut Daulah (JAD). JAD sendiri diketahui punya afiliasi dengan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

Sebagaimana diketahui, menurut keterangan Karo Penmas Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo, Wiranto ditusuk oleh Abu Rara di pintu gerbang Alun-alun Menes, Desa Purwaraja, Kabupaten Pandeglang sekitar pukul 11.55 WIB. Selain Abu Rara, polisi juga mengamankan perempuan yang ikut dengan Abu Rara.


Badan Intelijen Negara (BIN) sudah bisa memastikan bahwa Abu Rara merupakan bagian dari JAD. Abu Rara merupakan kelompok JAD Bekasi. "Bahwa dari dua pelaku ini kita sudah bisa mengidentifikasi bahwa pelaku adalah kelompok JAD Bekasi," ujar Kepala BIN Budi Gunawan di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, Kamis (10/10/2019).

Selain itu, Abu Rara terdeteksi intelijen berpindah ke Bogor dari Kediri. Dari Bogor, Abu Rara bergerak ke Menes, Pandeglang, Banten, setelah bercerai dengan istri pertama. Di Menes, Abu Rara kembali menikah.

Tentang JAD

JAD diduga merupakan kelompok antek ISIS di Indonesia. JAD terbentuk atas inisiatif Aman Abdurrahman di Nusakambangan. Sebagaimana dikutip dari laman resmi Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS), JAD dinyatakan sebagai bagian dari jaringan teroris global lewat Perintah Eksekutif (E.O.) 13224.

AS juga memastikan bahwa JAD bertanggung jawab atas tragedi bom bunuh diri di Jakarta pada Januari 2016. Sebagaimana diketahui, peristiwa terorisme pada saat itu dikenal sebagai peristiwa bom Sarinah, lokasinya di Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat.


JAD mendapat dukungan finansial dari militan ISIS yang berbasis di Suriah. Sementara itu, cerita awal terbentuknya JAD dituturkan jaksa Anita Dewayani dari surat tuntutan yang dibacakan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jl Ampera, Jumat (18/5/2018).

Tentang JAD Dalang Penikam Wiranto: Antek ISIS yang Dibentuk di NusakambanganFoto: Aman Abdurrahman, pendiri JAD (Lamhot Aritonang)

Dituturkan bahwa meski ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Kembang Kuning Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, namun pendiri JAD, Aman Abdurrahman, masih bisa berkomunikasi dengan jemaahnya, termasuk jemaah dari luar Lapas yang menjenguknya.

"Adalah fakta, bahwa sekitar Oktober 2014, Aman Abdurrahman memanggil Marwan alias Abu Musa, Zainal Anshori alias Abu Fahry untuk datang menjenguknya di Lembaga Pemasyarakatan Kembang Kuning Nusakambangan, dan pada saat itu terdakwa menyampaikan tentang Daulah Islamiyah ISIS pimpinan Abu Bakar Al Baghdadi, dan umat Islam wajib mendukungnya," kata jaksa.

Saat itu wadah organisasi belum dinamakan JAD, namun yang sudah jelas bahwa organisasi itu mendukung ISIS. Aman menyarankan Marwan alias Abu Musa, Zainal Anshori, dan Abu Khatib membentuk organisasi yang mewadahi para pendukung Daulah atau Khilafah Islamiyah atau ISIS dari Suriah.


Tujuannya ada beberapa poin, yakni sebagai wadah menyatukan para pendukung ISIS di Indonesia yang berasal dari berbagai organisasi Islam, mempersiapkan kaum muslimin Indonesia untuk menyambut kedatangan Khilafah Islamiyah, menyatukan pemahaman dan manhaj dari para pendukung Anshar Daulah, dan mempersiapkan orang-orang yang hendak pergi berjihad.

"Bahwa kemudian wadah tersebut oleh Marwan alias Abu Musa dinamakan Jamaah Ansharut Daulah atau JAD yang maknanya adalah jamaah pendukung daulah," kata jaksa.

Jadi yang memberi nama wadah pendukung ISIS di Indonesia sebagai JAD adalah Marwan alias Abu Musa. Kemudian, Aman Aburrahman menunjuk Marwan sebagai pimpinan pusat JAD, dan Zainal Anshori ditunjuk Aman sebagai pimpinan JAD wilayah Jawa Timur. Pertimbangannya, dua orang itu punya banyak jemaah.

Mereka bahkan telah melaksanakan program kerja seperti melaksanakan pelatihan militer alias tadrib asykari di Gunung Panderman, Malang, Jawa Timur pada awal 2015. Kegiatan pelatihan militer itu diisi latihan bela diri, push up, dan tausiah pemberi semangat jemaah untuk berjihad.
(dnu/fjp)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com