detikNews
2019/10/04 19:00:57 WIB

Ketua MPR, dari Culik Bung Karno sampai Minta Soeharto Mundur

Pasti Liberti Mappapa - detikNews
Halaman 1 dari 3
Ketua MPR, dari Culik Bung Karno sampai Minta Soeharto Mundur Foto ilustrasi: Soeharto dan Sukarno (Perpustakaan Nasional/Yayasan Idayu)
Jakarta - Hampir tengah malam, Rabu 15 Agustus 1945, sekelompok pemuda bergegas ke luar dari sebuah rumah di Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Mula-mula Chaerul Saleh dan Wikana, lalu disusul sejumlah pemuda lainnya termasuk Dipa Nusantara Aidit. Mereka aktivis pemuda dari Asrama Menteng yang sering berdiskusi di Asrama Menteng 31. Para pemuda itu baru saja mendesak Sukarno agar memproklamasikan kemerdekaan.

"Sekarang Bung! Malam ini juga kita kobarkan revolusi," ujar Chaerul Saleh. Bung Karno menolak dan marah. Kemarahan itu diakui Sukarno dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Gagal mendesak Bung Karno, para pemuda itu pulang dalam keadaan marah juga. Kamis dini hari, para pemuda termasuk Chaerul nekat menjalankan rencana cadangan, yakni menculik dan membawa Sukarno-Hatta ke Rengasdengklok, Karawang.



Aksi tersebut dilakukan karena Sukarno-Hatta ngotot proklamasi dilakukan melalui Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Sedangkan pemuda ingin merdeka tanpa campur tangan Jepang. Setelah berdebat di Rengasdengklok, Sukarno-Hatta akhirnya bersedia meneken proklamasi yang disiapkan di rumah Laksamana Maeda. Namun, setelah kemerdekaan Chaerul justru berada di luar pemerintahan.

Pemuda dari Minangkabau itu bergabung dengan Persatuan Perjuangan (PP) yang didirikan Tan Malaka di Purwokerto 4 Januari 1946. Sebagai oposisi, PP menuntut kemerdekaan Indonesia seratus persen. Karena kedekatannya dengan Tan pula, dia kembali bergabung dengan Gerakan Rakyat Revolusioner. Kelompok ini menentang perundingan Indonesia-Belanda yang merugikan Indonesia. Chaerul juga mendirikan Laskar Bambu Runcing, kelompok pejuang rakyat bersenjata.

Saat dikeluarkan kebijakan restrukturisasi-renasionalisasi untuk mengurangi jumlah personel angkatan perang. Chaerul menolak. Rezim Sukarno akhirnya menangkapi Chaerul dan anggota laskarnya. Dalam buku Muhammad Yamin dan Cita-cita Persatuan karya Restu Gunawan, Chaerul ditangkap setelah melawan tentara Indonesia dan tentara Belanda di daerah Banten. Chaerul lantas dijebloskan ke Nusakambangan.

Ketua MPR, dari Culik Bung Karno sampai Minta Soeharto MundurSukarno (Perpustakaan Nasional)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com