Ketua MPR, dari Culik Bung Karno sampai Minta Soeharto Mundur

Pasti Liberti Mappapa - detikNews
Jumat, 04 Okt 2019 19:00 WIB
Foto ilustrasi: Soeharto dan Sukarno (Perpustakaan Nasional/Yayasan Idayu)

Aksi mahasiswa semakin besar. Ribuan mahasiswa menduduki gedung DPR/MPR, Sabtu, 18 Mei 1998. Tuntutan utama mereka Soeharto mundur. Harmoko didampingi pimpinan parlemen lainnya, yaitu Ismail Hasan Metareum, Abdul Gafur, Fatimah Achmad, dan Syarwan Hamid mengadakan konferensi pers. "Dalam menanggapi situasi seperti tersebut di atas, pimpinan dewan, baik ketua maupun wakil-wakil ketua mengharapkan demi persatuan dan kesatuan bangsa, agar Presiden secara arif dan bijaksana sebaiknya mengundurkan diri," ujar Harmoko saat itu.



Kisah Harmoko berulang pada Amien Rais yang terpilih jadi Ketua MPR pada 3 Oktober 1999. Berkat dukungan yang kuat dari Poros Tengah yang dimotori Amien Rais, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur terpilih sebagai presiden keempat. Namun masa mesra Gus Dur dan Amien Rais tak berlangsung lama. Belum genap dua tahun, Amien lalu menggalang Sidang Istimewa MPR untuk memberhentikan Gus Dur.

Akhir Juli 2001, Sidang Istimewa itu benar-benar berjalan. Gus Dur mengeluarkan dekrit membubarkan DPR dan MPR, namun tak mendapat dukungan. Amien akhirnya memimpin pemakzulan Gus Dur dan mengangkat Megawati Sukarnoputri sebagai penggantinya.

Ketua MPR, dari Culik Bung Karno sampai Minta Soeharto MundurAmien Rais (Rengga Sancaya/detikcom)

(pal/dnu)