Ketua MPR, dari Culik Bung Karno sampai Minta Soeharto Mundur

Pasti Liberti Mappapa - detikNews
Jumat, 04 Okt 2019 19:00 WIB
Foto ilustrasi: Soeharto dan Sukarno (Perpustakaan Nasional/Yayasan Idayu)

Tak berapa lama ditahan, suami dari Johanna Siti Menara Saidah ini "dibuang" ke Jerman untuk kuliah hukum di Universitas Bonn, Jerman Barat, dari 1952 hingga 1955. Dia melanjutkan studi hukum yang tidak diselesaikannya di Recht Hooge School (RHS) Betawi. Pulang dari Jerman, sebagai tokoh dari Partai Murba Chaerul dipercaya menjadi Menteri Negara Urusan Veteran, Kabinet Djuanda pada 1957 dan kemudian Menteri Muda Perindustrian Dasar dan Pertambangan, Kabinet Kerja I (1959-1960).

Saat berada di Kabinet Kerja I itu, Sukarno juga mengeluarkan Dekrit Presiden pada 5 Juli 1959. Salah satu isinya, pembentukan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara, yang terdiri atas anggota-anggota Dewan Perwakilan Rakyat ditambah dengan utusan dari daerah-daerah dan golongan-golongan. Chaerul pun diangkat jadi ketua pertama lembaga tersebut.




MPRS bertahan sampai 1971 dengan ketuanya Abdul Haris Nasution. Setelah itu jabatannya digabung dengan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Tokoh Nahdlatul Ulama Idham Chalid jadi ketuanya. Setelah itu praktis sepanjang Orde Baru, Ketua DPR/MPR jatuh ke Golongan Karya (Golkar). Harmoko jadi tokoh Golkar terakhir duduk di posisi tersebut di era Orba.

Terpilihnya Harmoko tak lepas dari jabatannya sebagai Ketua Umum Golkar pada 1993. Menteri Penerangan tiga periode itu ditunjuk mempimpin MPR pasca Pemilu 1997. Tentu saja atas restu Soeharto. Ternyata pilihan itu jadi bumerang bagi penguasa Orba itu. Di bawah tekanan besar massa pada 16 Mei 1998 pagi, Harmoko membawa para pimpinan DPR ke Istana Merdeka.

Saat itu Soeharto menyaksikan anak didiknya itu berpaling. Harmoko meminta Presiden Soeharto mundur. Dalam sebuah wawancara dengan detikcom sekitar 10 tahun lalu, Harmoko mengungkapkan pernyataannya pada Soeharto. "Rakyat memohon Bapak untuk mengundurkan diri," ujar Harmoko. Soeharto menjawab, "Silakan. Terserah fraksi-fraksi di DPR".

Ketua MPR, dari Culik Bung Karno sampai Minta Soeharto MundurHarmoko di kursi roda (Rengga Sancaya/detikcom)