detikNews
2019/10/04 17:57:47 WIB

Buzzer Robot dan Manusia di RI Dukung Pemerintah dan Serang Oposisi

Danu Damarjati - detikNews
Halaman 1 dari 3
Buzzer Robot dan Manusia di RI Dukung Pemerintah dan Serang Oposisi Ilustrasi (Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Penelitian dari Universitas Oxford menelisik pasukan siber atau buzzer politik di 70 negara. Buzzer politik di Indonesia disebut terdiri atas robot dan manusia.

"Propaganda lewat komputasi, penggunaan algoritme, automasi, dan big data untuk membentuk kehidupan publik--kini menjalar ke seluruh bagian keseharian hidup," tulis penelitian itu, dilansir dari situs resmi Oxford Internet Institute, Jumat (4/10/2019).


Penelitian itu bertajuk 'The Global Disinformation Order: 2019 Global Information of Organized Social Media Manipulation' atau 'Orde Disinformasi Global: Informasi Global tentang Manipulasi Media Sosial Terorganisir 2019'. Penelitian ini adalah karya Samantha Bradshaw dan Philip N Howard dari Universitas Oxford.

Pasukan siber dalam penelitian ini dimaknai sebagai "Aktor-aktor pemerintah atau parpol yang ditugasi untuk memanipulasi opini publik secara online." Berikut ini paparan terkait jenis akun dan pesan yang dibawa pasukan siber atau 'buzzer' dalam bahasa populer belakangan ini.


Jenis akun

Soal teknik manipulasi medsos, 87% negara menggunakan akun manusia, 80% negara menggunakan akun bot (robot), 11% negara menggunakan akun cyborg (akun otomatis yang dikurasi manusia), dan 7% negara menggunakan akun curian atau retasan. Bagaimana dengan di Indonesia?

Di Indonesia, pasukan siber menggunakan akun bot dan akun manusia. Di Amerika Serikat, Inggris Rusia, dan Jerman misalnya, pasukan siber yang memanipulasi medsos menggunakan akun bot, akun manusia, dan akun cyborg.

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com