Riset Oxford: Buzzer di Indonesia Bekerja untuk Politikus dan Swasta

Danu Damarjati - detikNews
Jumat, 04 Okt 2019 17:23 WIB
Foto ilustrasi (Edi Wahyono/detikcom)
Foto ilustrasi (Edi Wahyono/detikcom)

Untuk negara lain, bentuk organisasi dan jumlahnya berbeda-beda. Misalnya Israel, manipulasi media sosial juga ada yang dilakukan oleh organisasi pemerintah, namun jumlah organisasi pemerintahnya lebih banyak ketimbang Indonesia yakni ada lebih dari tiga. Ada juga manipulasi media sosial yang dilakukan politikus dan parpol dalam jumlah satu organisasi saja. Manipulasi medsos oleh organisasi masyarakat sipil juga ditemukan di Israel, ada lebih dari tiga organisasi.

Di Amerika Serikat, ada lebih dari tiga organisasi pemerintah dan swasta yang melakukan manipulasi medsos. Dua organisasi politikus dan parpol juga melakukannya. Di negara tetangga, Malaysia, manipuasi medsos dilakukan oleh dua organisasi dari pihak pemerintah, politikus parpol, dan swasta, serta satu organisasi sipil dan satu influencer.



Ada 70 negara yang menjadi objek penelitian, yakni Angola, Argentina, Armenia, Australia, Austria, Azerbaijan, Bahrain, Bosnia dan Herzegovina, Brazil, Cambodia, China, Colombia, Croatia, Cuba, Czech Republic, Ecuador, Egypt, Eritrea, Ethiopia, Georgia, Germany, Greece, Honduras, Guatemala, Hungary, India, dan Indonesia.

Ada juga Iran, Israel, Italy, Kazakhstan, Kenya, Kyrgyzstan, Macedonia, Malaysia, Malta, Mexico, Moldova, Myanmar, Netherlands, Nigeria, North Korea, Pakistan, Philippines, Poland, Qatar, Russia, Rwanda, Saudi Arabia, Serbia, South Africa, South Korea, Spain, Sri Lanka, Sweden, Syria, Taiwan, Tajikistan, Thailand, Tunisia, Turkey, Ukraine, United Arab Emirates, United Kingdom, United States, Uzbekistan, Venezuela, Vietnam, and Zimbabwe.



Tahapan metodologi penelitian ini adalah analisis konten berita yang dipakai pasukan siber, ulasan literatur, penyusunan studi kasus negara, dan konsultasi ahli. Peneliti juga mengaku bekerja sama dengan BBC.

Pasukan siber dalam penelitian ini dimaknai sebagai, "Aktor-aktor pemerintah atau parpol yang ditugasi untuk memanipulasi opini publik secara online." Jadi penelitian ini memang mengkhususkan diri pada buzzer yang spesifik, yakni buzzer politik.
Halaman

(dnu/fjp)