KPAI: 40 Persen Massa Demo Sabtu Lalu Berusia Anak, Terpancing Ajakan Medsos

KPAI: 40 Persen Massa Demo Sabtu Lalu Berusia Anak, Terpancing Ajakan Medsos

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Rabu, 02 Okt 2019 15:59 WIB
Rapat koordinasi di KPAI soal pelibatan anak dalam aksi unjuk rasa. (Lisye Sri Rahayu/detikcom)
Rapat koordinasi di KPAI soal pelibatan anak dalam aksi unjuk rasa. (Lisye Sri Rahayu/detikcom)
Jakarta - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebut 40 persen dari massa pendemo yang menggelar aksi pada Sabtu (28/9) kemarin berusia anak. Anak-anak ini disebut mengikuti aksi karena terpancing ajakan di media sosial.

"Sehingga solidaritas teman, provokasi lewat medsos, kemudian belakangan ada narasi-narasi jihad yang kemarin juga cukup banyak anak terlibat. Hampir 40 persen anak hadir di area lokasi demonstrasi itu menunjukkan bahwa luar biasa pengaruh ajakan itu kepada anak-anak kita," kata Ketua KPAI, Susanto di kantornya, Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat, Rabu (2/10/2019).


Untuk itu, KPAI membentuk tim terpadu yang melibatkan kementerian dan lembaga untuk mencegah anak terlibat demonstrasi. Tim ini juga akan menindaklanjuti temuan yang sudah dilaporkan ke KPAI.

"Apakah anak terlibat dalam kasus ini atau ada kasus sebelumnya. Tentu apa yang viral di medsos dan tersampaikan di media menjadi pintu awal kami untuk mendalami lebih lanjut. Prinsipnya sesegera mungkin tim terpadu berbagi kewenangan," tuturnya.




Sementara itu, anggota KPAI Bidang Pendidikan, Reto Listyarti, mengatakan salah satu upaya untuk mencegah anak ikut turun ke jalan adalah mengajak berdialog. Menurutnya, anak ingin didengarkan oleh orang dewasa.

"Ruang dialog harusnya dibangun, mari mendidik anak dengan kekritisan. Jadi anak bisa mengungkapkan pendapat, bahwa yakin pendapatnya itu diproses, ada duduk bersama. Bahwa orang dewasa mendengarkan dia. Menurut saya itu penting," kata Retno.


Retno menyebut, sekolah juga dituntut membuka ruang kepada anak untuk mengemukakan pendapatnya sehingga percaya bahwa sekolah adalah salah satu ruang demokrasi dan ruang dialog.

"Jadi sekolah harusnya membuka ruang itu sekarang, setelah aksi besar ini, karena ini besar-besaran lho. Jadi mereka nggak menganggap bahwa sekolah menjadi tempat ruang demokrasi dan ruang dialog. Saya menangkap itu dari percakapan dengan anak malam itu," lanjutnya.

(lir/idn)