detikNews
Senin 30 September 2019, 18:25 WIB

Dialog Pilu Ade Irma di Malam G30S/PKI: Papa Ade Salah Apa, Kenapa Ditembak?

Rizky Wika Shintya Devi - detikNews
Dialog Pilu Ade Irma di Malam G30S/PKI: Papa Ade Salah Apa, Kenapa Ditembak? Ade Irma Suryani Nasution. Foto: Ari Saputra
Jakarta - Ade Irma Suryani Nasution, putri bungsu Jenderal A.H. Nasution menjadi salah satu korban Gerakan 30 September. Dia menjadi perisai sang ayah, saat sejumlah tentara pasukan Cakrabirawa menyerbu rumah Nasution di Menteng Jakarta Pusat pada 30 September 1965 tengah malam menjelang 1 Oktober dini hari.

Ade Irma yang lahir 19 Februari 1960 itu terkena peluru yang dilepaskan pasukan Cakrabirawa memberondong rumahnya untuk mencari AH Nasution. Sempat dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan, Ade Irma berpulang menjadi korban G30S.

Berikut ini beberapa fakta menarik sosok Ade Irma Suryani yang dirangkum detikcom.

1. Kronologi Singkat

Ade Irma Suryani tengah digendong, Johanna Nasution sang Ibunda ketika tentara Cakrabirawa menyerbu rumahnya dan melepaskan rentetan tembakan. Saat itu Ade dipegang oleh ibunya dan masih tertidur tenang, lalu dipindahkan ke tangan adik iparnya karena berusaha melindungi A.H. Nasution.

Sayangnya, adik A.H. Nasution ini membuka pintu kamar. Rentetan tembakan yang dilepaskan pasukan Cakrabirawa pun mengenai Ade Irma dan adik Nasution. Johanna mengambil alih menggendong tubuh Ade Irma yang bersimbah darah sambil mengantar A.H. Nasution untuk menyelamatkan diri melalui pintu belakang.

2. Percakapan Pilu

Saat Johanna mengantarkan A.H. Nasution untuk pergi menyelamatkan diri dari incaran G30S sempat terjadi dialog mengharukan antara Ade Irma dan kedua orang tuanya. Padahal saat itu kondisi Ade Irma sangat lemah.

" Papa.. Ade salah apa? kenapa Ade ditembak?" kata Ade ketika dia dalam gendongan ibunya dan A.H. Nasution sedang melewati tembok untuk menyelamatkan diri.

Lalu, juga percakapan antara Johanna dengan Ade Irma yang menyayat hati, seperti

"Ade, masih hidup?" tanya Johana yang menggendong Ade dalam pelukannya.

"Hidup, Mama.." jawabnya.

"Ade hidup terus?" sekali lagi Johana bertanya.


"Hidup terus, Mama," kata Ade.


"Ade masih kuat?" Johana khawatir pada putrinya yang sudah mulai melemahkan pelukan ke lehernya itu.


"Masih, Ma.." jawab Ade sekali lagi.


Dan yang terakhir setelah Ade Irma menjalani operasi dan menenangkan hati kakaknya yang sedih melihat kondisi dirinya.


"Kakak jangan menangis, adik sehat."

Ade juga sering bertanya kepada ibunya, "Kenapa ayah mau dibunuh, mama?"


Duh, miris sekali ya detikers.


3. Tertembak Tiga Peluru

Ada tiga peluru bersarang di bagian punggung Ade Irma Suryani. Setelah para pasukan Cakrabirawa telah meninggalkan rumah A.H. Nasution, Ade Irma dibawa ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto untuk diberikan pertolongan.

Setibanya Ade Irma di rumah sakit, ia masih dalam keadaan sadar tapi sudah sangat lemah. Dokter langsung menyarankan untuk melakukan operasi kepadanya.

4. Korban Termuda di Peristiwa G30S

Ade Irma Suryani sempat menjalani perawatan di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta selama 5 hari. Pada 6 Oktober 1965 dinihari, Ade Irma berpulang ke haribaan Illahi. Dia dimakamkan di Jakarta pada 7 Oktober 1965.


5. Makam Ade Irma Suryani

Ade Irma Suryani dimakamkan di Kompleks Wali Kota Jakarta Selatan dan terdapat pula sebuah Tugu Monumen untuk mengenangnya. Monumen itu terletak di depan Kantor Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan.

Kepergian Ade Irma tak hanya duka bagi keluarga. Rakyat Indonesia pun turut meluapkan kesedihan mereka. A.H. Nasution tak kuasa menahan kesedihan ketika di depan nisan sang buah hati tercinta. Sebuah kalimat dia tulis di batu nisan Ade Irma.

"Anak saya yang tercinta, engkau telah mendahului gugur sebagai perisai ayahmu," begitu tulis Nasution.

Tiap peringatan 1 Oktober Hari Kesaktian Pancasila, akan ramai dengan para peziarah yang menaburkan bunga untuk mengenang aksi heroik Ade Irma Suryani.

6. Nama Ade Irma Suryani Diabadikan

Nama Ade Irma Suryani diabadikan menjadi sebuah nama Jalan Ade Irma Suryani, salah satunya ialah di Pekanbaru, Riau. Tak hanya itu, namanya juga dijadikan sebuah nama Taman Kanak-Kanak (TK) hingga panti asuhan di beberapa wilayah Indonesia. Hal tersebut bertujuan untuk generasi penerus bangsa untuk mengingat kejamnya G30S di masa lampau.





(lus/erd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com