Pemprov Jambi: Banyak Buka Lahan Dibakar, Kesadaran Harus Ditingkatkan

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Senin, 23 Sep 2019 17:26 WIB
Suasana Kota Jambi yang diselimuti kabut asap di Jambi, Jumat (13/9) (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)
Suasana Kota Jambi yang diselimuti kabut asap di Jambi, Jumat (13/9) (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)

Diskusi 'Tanggap Bencana Karhutla' di KemkominfoDiskusi 'Tanggap Bencana Karhutla' di Kemkominfo (Lisye Sri Rahayu/detikcom)

"Banyak masyarakat melakukan pembakaran, karena dengan cara membakar lebih murah dibandingkan dengan alat-alat berat," imbuhnya.


Sementara itu, Deputi Bidang Sistem dan Startegi BNPB Bernandus Wisnu Widjaja menyebut mayoritas penduduk yang merupakan petani masih membuka lahan dengan cara membakar. Akibatnya timbul karhutla hingga terjadinya kabut asap. Dia mengatakan pola membuka lahan tersebut mesti diubah.

"Permasalahan yang sangat mendasar adalah masalah mata pencaharian masyarakat. Untuk itu kami juga menggandeng beberapa pengusaha untuk bagaimana mengubah pola hidup masyarakat supaya mereka tidak membakar," kata Wisnu.

Wisnu mengatakan saat ini BNPB tengah berusaha mencari tanaman yang cocok di lahan gambut. Seperti pertanian sagu.


"Kita sesuaikan tanaman yang harus ditanam di sana sesuai dengan tanaman yang memang habitat di gambut. Ada penelitian bahwa sagu bisa dirubah menjadi gula yang lebih baik daripada jagung," lanjutnya.

Wisnu juga mencontohkan pertanian sagu di Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau. Menurutnya dengan adanya tanaman sagu sebagai salah satu mata pencaharian masyarakat, sehingga dapat mengurangi pembukaan lahan pertanian dengan membakar hutan.

"Kemudian Meranti yang tahun 2015 kami sepakat mereka menghasilkan sagu mata pencaharian mereka dirubah mereka tidak membakar hutan. Hal ini akan kita dorong supaya bisa mengatasi secara permanen mengatasinya harus dengan permanen," kata dia.
Halaman

(lir/jbr)