detikNews
Jumat 20 September 2019, 19:30 WIB

MPR Minta Pengetahuan Pancasila Bagi Generasi Muda Jangan Terputus

Akfa Nasrulhak - detikNews
MPR Minta Pengetahuan Pancasila Bagi Generasi Muda Jangan Terputus Foto: MPR
Jakarta - Sekretaris Jenderal MPR RI Ma'ruf Cahyono mengungkapkan generasi muda Indonesia saat ini dan ke depan mesti lebih memahami kembali nilai-nilai Pancasila dan wawasan kebangsaan. Sebab, pasca reformasi bergulir ada gambaran kekhawatiran bangsa tentang ke-Indonesiaan, terutama internalisasi pemahaman Pancasila dan wawasan kebangsaan yang hilang.

Ma'ruf menjelaskan panduan pengamalan Pancasila seperti Eka Prasetya Pancakarsa yang dibentuk dengan TAP MPR Nomor II Tahun 1978 kini sudah tidak ada. Selain itu, BP7 dibubarkan dan seluruh perangkat yang terkait dengan TAP tersebut sudah tidak ada lagi sejak tahun 1999 sampai 2009.

"Cukup lama vakum. Sehingga ada sesuatu yang terputus yakni metode menginternalkan Pancasila itu hilang. Sehingga hampir sekian tahun generasi muda tidak mendapatkan pemahaman nilai-nilai Pancasila dan wawasan kebangsaan," kata Ma'ruf, Jumat (20/9/2019).



Hal tersebut diungkapkannya saat menjadi keynote speech Dialog Wawasan Kebangsaan dalam rangka Dies Natalis Ke-56 Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) di Aula Justitia 3 Fakultas Hukum Unsoed, Purwokerto, Jawa Tengah.

"Pertanyaan besarnya adalah kenapa hal itu (hilangnya internalisasi Pancasila dan wawasan kebangsaan) sampai terjadi. Itu yang mesti direnungkan semua pihak terutama generasi muda," ujarnya.

Padahal, lanjut Ma'ruf, pemahaman wawasan kebangsaan sangat penting. Wawasan kebangsaan adalah satu cara bangsa ini dan satu cara pandang bangsa ini untuk meraih cita-cita yakni Cita-cita kemerdekaan Indonesia yang tertuang dalam alinea ke empat Pembukaan UUD NRI Tahun 1945.

"Sekali lagi, generasi muda mesti memahami betapa pentingnya pemahaman wawasan kebangsaan," tegasnya.

Ma'ruf menekankan, sangat disayangkan apabila sebagai generasi muda kehilangan aspek kognisi atau pengetahuan dan pemahaman Pancasila serta wawasan kebangsaan. Jika itu terjadi, bagaimana generasi muda akan bergerak kepada aspek selanjutnya yakni aspek afeksi yakni sikap dan kesadaran, belum lagi dalam tataran implementasi di kehidupan sehari-hari.

Menurut Ma'ruf, semua hal tersebut adalah 'pekerjaan rumah' dan tanggung jawab semua anak bangsa terutama generasi muda yang harus paham. Selain itu juga mereka harus cepat mengambil peran agar nilai-nilai Pancasila yang bangsa ini semua yakini sebagai ideologi itu dan wawasan kebangsaan jangan sampai surut dan menghilang.

Dalam kesempatan yang sama, Rektor Unsoed Prof Suwarto mengatakan pemahaman wawasan kebangsaan mesti terus ditanamkan kepada rakyat Indonesia, terutama generasi muda sebagai pemegang tampuk kepemimpinan bangsa di masa depan.

"Penanaman wawasan kebangsaan adalah tanggung jawab kita semua sebagai anak bangsa termasuk para civitas akademika di perguruan tinggi kepada generasi muda yakni para mahasiswa, sebab merekalah nanti yang akan memegang tampuk kepemimpinan di negeri ini nanti," ujarnya.



Menurut Prof Suwarto, mengingat Indonesia adalah negara yang sangat luas dan besar dan beragam, maka sangat diperlukan sosok masa depan yang mamahami wawasan kebangsaan secara baik dan benar.

Hal tersebut diamini Muhammad Hamdan Fatah mahasiswa Fakultas Hukum Unsoed 2019. Hamdan sangat mengapresiasi kerja sama MPR dan Unsoed menggelar dialog tentang wawasan kebangsaan.

"Wawasan kebangsaan sangat penting, saya tahu itu, tapi saya bertambah paham bahwa begitu pentingnya wawasan kebangsaan dipahami oleh generasi muda bangsa setelah mengikuti dialog ini, tidak main-main, ini sangat serius," ujar Hamdan.

Pemahaman wawasan kebangsaan yang benar akan semakin memperkokoh rasa kebangsaan, nasionalisme dan rasa persaudaraan dalam diri setiap warga negara, dan itu sangat baik untuk membentengi diri dari serbuan negatif globalisasi," tandasnya.

Dialog Wawasan Kebangsaan kerjasama MPR dengan Fakultas Hukum Unsoed ini berlangsung selama setengah hari dengan metode interaktif. Acara dialog tersebut menampilkan dua narasumber utama yakni Prof Rubijanto Misman dan Nasihin Masha yang mengupas tema sentral 'Peningkatan Pemahaman Nilai-Nilai Wawasan Kebangsaan'.
(akn/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com