detikNews
2019/09/19 16:02:39 WIB

Habil Marati Didakwa Kepemilikan Senpi Ilegal dan Peluru Tajam

Faiq Hidayat - detikNews
Halaman 1 dari 2
Habil Marati Didakwa Kepemilikan Senpi Ilegal dan Peluru Tajam Sidang dakwaan Habil Marati (Faiq/detikcom)
Jakarta - Pengusaha Habil Marati didakwa atas kepemilikan senjata api (senpi) ilegal dan peluru tajam. Senpi dan peluru dibeli dari sejumlah orang tanpa dilengkapi surat.

"Terdakwa Habil Marati sebagai orang yang melakukan atau turut melakukan perbuatan tindak pidana yaitu tanpa hak menerima, menyerahkan, menguasai, membawa, mempunyai persediaan padanya atau mempunyai dalam miliknya, menyimpan, mengangkut, menyembunyikan, mempergunakan sesuatu senjata api, amunisi, atau sesuatu bahan peledak, yakni berupa 4 pucuk senjata api dan 117 peluru tajam," kata jaksa membacakan surat dakwaan dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jl Bungur Raya, Rabu (19/9/2019).



Perbuatan Habil Marati tersebut dilakukan bersama-sama dengan purnawirawan TNI Kivlan Zen, Helmi Kurniawan (Iwan), Tajudin (Udin), Azwarmi, Irfansyah (Irfan), Adnil, dan Asmaizulfi alias Vivi.

Pada 2004, jaksa mengatakan Habil Marati selaku kader PPP selalu mengikuti diskusi kebangsaan yang dilakukan Gerakan Musyawarah Bangsa Indonesia (GMBI) yang dihadiri tokoh militer, termasuk Kivlan Zen. Setelah itu, Habil Marati saling mengenal dengan Kivlan Zen hingga berkomunikasi pada saat ini.



Dalam surat dakwaan, jaksa memaparkan Habil Marati memberikan uang kepada Kivlan Zen yang digunakan untuk membeli senjata ilegal. Awalnya Habil Marati bertemu dengan Kivlan Zen di Mal Pondok Indah untuk meminta uang bantuan kegiatan. Ketika itu, Kivlan Zen juga memerintahkan Helmi Kurniawan mengikuti kegiatan, yang mana Habil Marati menjadi narasumber di Rumah Makan Aljazera, Jalan Polonia, Jakarta Timur, agar bisa berkenalan.

"Lalu Kivlan Zen memberikan nomor HP terdakwa kepada saksi Helmi Kurniawan dengan maksud untuk mempermudah komunikasi antara saksi Helmi Kurniawan dengan terdakwa. Setelah itu, saksi Helmi Kurniawan ke terdakwa, sejak itu terdakwa berkomunikasi dengan Helmi Kurniawan adapun kepentingan menyampaikan pesan dari Kivlan Zen," kata jaksa.

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com