detikNews
Rabu 18 September 2019, 08:06 WIB

Jelajah Ibu Kota Baru

Menyeberangi Teluk Balikpapan, Menuju Ibu Kota Baru

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Menyeberangi Teluk Balikpapan, Menuju Ibu Kota Baru Selamat datang di Penajam Paser Utara (Ardan Adhi Chandra/detikcom)
Penajam Paser Utara - Kabupaten Penajam Paser Utara merupakan lokasi yang diputuskan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai Ibu kota baru. Untuk membuktikannya, kami menyambangi Kabupaten yang masuk dalam Provinsi Kalimantan Timur ini.

Tim Jelajah Ibu Kota Baru detikcom berangkat dari Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta menuju Bandara, Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, Balikpapan pada 5.55 WIB, Senin (9/9/2019). Tepat pukul 8.00 WIB kami sampai di bandara yang akan jadi gerbang pertama untuk masuk ke Ibu Kota Baru.



Kami semua mengatur ulang jam masing-masing menjadi jam 9.00 WITA. Ada selisih waktu satu jam antara Jakarta dan Balikpapan.

Kami yang terdiri dari lima orang ini sejenak beristirahat sembari menunggu jemputan yang dikirim langsung oleh Bupati Penajam Paser Utara.

Sekitar satu jam kemudian, sebuah mobil Alphard putih tampak terpakir di depan lobi bandara. Seorang pria bertubuh gempal turun dari mobil dan mendatangi kami.

"Wartawan detikcom ya? Maaf mas, telat," ujarnya.

Kami pun bergegas masuk mobil dan menaruh semua barang bawaan kami di jok belakang. Kami berangkat sekitar pukul 10.10 WITA. Mobil pun melaju untuk menuju kantor Bupati Penajam Paser Utara. Jika dilihat dari aplikasi GoogleMaps, perjalanan kami akan memakam waktu sekitar 3 jam 30 menit. Dengan perkiraan waktu tempuh itu, kami bisa sampai di kantor Bupati PPU pada jam 13.40 WITA.

"Oh nggak sampai segitu kok. Kita kan naik speedboat, jadi cuma makan waktu 15 menit aja," kata sang sopir menerangkan.

Kami bingung. Bagaimana caranya memasukkan mobil Alphard yang sebesar ini ke speedboat?



"Wah, nanti saya pikirkan dulu, bagaimana caranya mobil sebesar ini masuk speedboat," ujarnya.

Sepanjang perjalanan, kami melihat Balikpapan tak jauh berbeda dengan Jakarta. Jalanan mulus. Gedung kejaksaan, kampus, rumah sakit dan mal berjajar rapi di sepanjang jalan yang kami lewati. Umumnya, jenis mobil yang lalu lalang juga tak jauh berbeda dengan apa yang ada di Jakarta.

Menyeberangi Teluk Balikpapan, Menuju Ibu Kota BaruFoto: Penajam Paser Utara (Rakhmad H Permana/detikcom)


Ketika melewati perempatan, sang sopir menunjukkan kami sebuah tempat yang kerap jadi tongkrongan anak muda Balikpapan dan sekitarnya.

"Nah, di depan itu, namanya tugu Australia, biasanya kalau malam Minggu anak-anak muda seringnya nongkrong di sini, mas," ujar si sopir.



Sekitar 10 menit usai melewati tugu itu, kami sampai di Pelabuhan Semayang. Pelabuhan ini merupakan terminal penyebrangan bagi para penumpang dari Balikpapan yang ingin melewati teluk untuk menuju Pelabuhan Penajam. Jarak antar pelabuhan sekitar 5,5 km.

Kami masih bingung, apakah kami harus turun dulu dari mobil atau tetap duduk manis saja.

Sopir lantas mewanti-wanti agar merapikan barang bawaan sendiri. Pasalnya, di sana sudah menunggu porter pelabuhan yang kerap menawarkan jasa angkut barang. Menurut sang sopir, mereka kadang menawarkan jasanya dengan sedikit memaksa. Pelabuhan Semayang hari itu cukup ramai.

"Sudah semua? Ada barang yang ditinggal di mobil nggak?" tanya sang sopir.

Menyeberangi Teluk Balikpapan, Menuju Ibu Kota BaruFoto: Menyeberangi Teluk Balikpapan menuju Penajam Paser Utara. (Rakhmad HP/detikcom)


Sampai di sini, kami baru paham. Ternyata, kami harus turun dari mobil dan langsung menaiki speedboat. Mobil Alphard putih ini ditinggal di parkiran pelabuhan.

Di sandaran pelabuhan, sudah ada speedboat milik Pemkab PPU. Speedboat ini bisa memuat penumpang hingga sembilan orang. Kami beruntung bisa mendapatkan bantuan ini. Pasalnya, jika naik kapal Ferry, perjalanan menyeberangi teluk biasanya memakan waktu paling cepat satu jam. Itu pun para penumpang juga harus membayar tiket sebesar Rp 13.000 untuk orang dewasa. Sedangkan untuk anak-anak, tarifnya Rp 8.200.

Bagi mereka yang ingin menaiki speedboat, sistemnya harus menyewa. Tarif sewanya berkisar antara Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu.



Speedboat yang kami naiki melaju. Mesin speedboat memecah ombak Teluk Balikpapan. Sesekali speedboat juga bergoyang-goyang karena terganggu keseimbangannya ketika ada salah seorang dari kami yang berdiri.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba mesin mati. Kami kaget. Salah seorang dari kami yang pernah mengaku tidak bisa berenang, wajahnya tiba-tiba berubah was-was.

"Oh, itu selang bensinnya keinjak, Mas," ujar operator speedboat.

Ternyata selang bensin mesin speedboat tersumbat karena terinjak. Mesin kembali menyala, speedboat melaju lagi. Syukurlah, kami tak harus berenang untuk menyebrangi sisa jarak teluk Balikpapan ini.

Kami pun tiba di pelabuhan Penajam. Kami masuk lewat kantor Pertamina yang ada di situ. Di sana, sudah ada beberapa orang yang menawari kami jasa sewa mobil. Kami berhenti sejenak untuk sesekali mendokumentasikan aktivitas di pelabuhan Penajam ini.

Usai mengambil foto, sopir kami mengarahkan kami untuk masuk ke mobil putih. Mobil keluar dari pelabuhan. Sebelum keluar, kami disambut oleh gapura 'Selamat Datang di Penajam Paser'.



Jalan Penajam Paser Utara terbilang sama mulusnya dengan jalan yang ada di Balikpapan. Tapi, jalan lebih sepi ketimbang jalan di Balikpapan. Alur jalannya juga hanya lurus saja.

Kami melewati beberapa gedung pemerintahan, seperti kantor Kejaksaan dan kantor Polres. Sedangkan Gedung DPRD dan Kantor Bupati berada di satu kompleks. Bangunan gedung-gedung ini terlihat masih baru. Halaman gedung juga terlihat begitu luas. Kami akhirnya sampai di Kantor Bupati pada pukul 12.10 WITa. Perjalanan ini menghemat waktu hingga satu jam lebih.

Simak laporan Jelajah Ibu Kota Baru, hanya di detikcom.
(rdp/dnu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com