detikNews
Selasa 17 September 2019, 09:37 WIB

Menristek Hadiri IAEA di Wina, Perkuat Kerja Sama Teknologi Nuklir

Marlinda Oktavia Erwanti - detikNews
Menristek Hadiri IAEA di Wina, Perkuat Kerja Sama Teknologi Nuklir Menristekdikti Mohamad Nasir Hadiri IAEA di Wina, Austria Senin (16/9).(Foto: Dok. Istimewa)
Jakarta - Menteri Riset,Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir menghadiri sidang umum International Atomic Energy Agency (IAEA) ke-63 di Wina Austria, Senin (16/9). Indonesia turut berkontribusi dalam bidang teknologi nuklir untuk mencapai Sustainable Development Goals (SDG).

"Untuk mendukung hal ini, Indonesia telah memperkuat kemampuan safeguards nuklir yang dikembangkan IAEA di kawasan Asia-Pasifik, antara lain melalui keketuaan Indonesia pada Asia-Pacific Safeguards Network (APSN),' tegas Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI Mohamad Nasir dalam Sidang Umum IAEA ke-63 di Wina, Austria," ujar Nasir dalam keterangan tertulis dari KBRI Wina, Selasa (17/9/2019).

Nasir menyebut Indonesia saat telah memiliki Practical Arrangement dengan IAEA untuk memudahkan kerja sama teknis diantara negara berkembang. Indonesia jelasnya juga telah memposisikan diri sebagai negara pemberi bantuan.

"Sebagai bukti, Indonesia telah ditunjuk oleh IAEA sebagai Collaborating Centre for Plant Mutation Breeding, menjadi negara kontributor IAEA Peaceful Uses Initiatives, dan menjadi negara penyedia bantuan untuk meningkatkan kapasitas teknis nuklir sejumlah negara dalam kerangka Nuclear Capacity Project yang akan dimulai tahun depan," ucapnya.

Menristekdikti Mohamad Nasir Hadiri IAEA di Wina, Austria Senin (16/9).Menristekdikti Mohamad Nasir Hadiri IAEA di Wina, Austria Senin (16/9). Foto: Dok. Istimewa

Selain itu, dalam forum ini Nasir juga mempromosikan keunggulan Indonesia di sektor pertanian. Dengan teknologi nuklir, Indonesia telah berinovasi mengembangkan varietas padi dan kedelai unggul yang berkontribusi terhadap pencapaian ketahanan pangan nasional. Begitu juga dengan sektor kesehatan yang juga telah bekerja sama dengan kedokteran nuklir nasional.

"Saat ini, Indonesia dan IAEA bekerja sama mengembangkan kemampuan kedokteran nuklir nasional, khususnya untuk penanganan penyakit kanker," tegasnya.

Hal lain yang mendapat perhatian negara-negara adalah inovasi Indonesia dalam memajukan edukasi nuklir kepada generasi muda, melalui konsep 'Internet Reactor Laboratory'. Selama seminggu kedepan, Indonesia memamerkan metode distant learning dimana aktivitas reaktor riset Kartini di Yogyakarta dapat dipantau secara live melalui jaringan internet dari Markas PBB Wina.

Selain Menristekdikti dan jajaran, Delegasi RI juga diisi oleh Kemenlu, Kemenkes, BATAN, BAPETEN, KBRI/PTRI Wina dan PT. INUKI. Sidang Umum IAEA merupakan Konferensi tahunan di Markas PBB Wina sejak tahun 1956 yang diselenggarakan bagi negara-negara anggota PBB untuk menentukan arah kebijakan IAEA untuk menjamin penggunaan energi dan teknologi nuklir semata-mata untuk tujuan damai.
(eva/mae)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com