Karhutla di Kalteng, 3 Orang Utan Dievakuasi dan Sejumlah Ular Mati Terbakar

Karhutla di Kalteng, 3 Orang Utan Dievakuasi dan Sejumlah Ular Mati Terbakar

Tim detikcom - detikNews
Senin, 16 Sep 2019 16:42 WIB
Bangkai seekor ular piton yang ditemukan di salah satu lokasi kebakaran lahan di Kabupaten Kotawaringin Timur, belum lama ini. (ANTARA/HO-Dokumen Warga)
Bangkai seekor ular piton yang ditemukan di salah satu lokasi kebakaran lahan di Kabupaten Kotawaringin Timur, belum lama ini. (ANTARA/HO-Dokumen Warga)
Kotawaringin Timur - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah (Kalteng), membuat sejumlah orang utan harus dievakuasi. Kebakaran hutan juga membuat sejumlah ular mati terpanggang api.

Seperti pada Minggu (1/9), BKSDA melakukan rescue atau penyelamatan tiga orang utan (Pongo pygmaeus) di Desa Bagendang Hilir, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, dini hari. Perlu dua jam bagi petugas untuk melumpuhkan dan mengevakuasi orang utan jantan berusia 25 tahun tersebut.

Minggu siang, petugas kembali menerima laporan dari Tri bahwa ada orang utan lain yang dievakuasi berjumlah dua ekor yang merupakan induk dan bayinya. Induk orang utan itu berusia 15 tahun, sedangkan bayi orang utan berusia 6 bulan.



Tim BKSDA kembali melakukan penyelamatan pada Senin (2/9/), setelah mereka membawa orang utan seberat 90 kg yang dievakuasi sehari sebelumnya ke kantor SKW II BKSDA di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat. Selain orang utan, petugas menemukan sejumlah bangkai ular saat melakukan pemadaman.

"Banyak bangkai hewan yang ditemukan petugas saat memadamkan kebakaran lahan, di antaranya ular, tupai, dan lainnya. Yang banyak itu bangkai ular berbagai jenis," kata Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kotawaringin Timur Rihel di Sampit, yang dikutip dari Antara, Senin (16/9/2019).



Kebakaran lahan masih terjadi di Kotawaringin Timur. Petugas cukup kewalahan karena kebakaran terjadi sporadis di banyak titik meski pemadaman terus dilakukan melalui darat dan udara. Petugas mengumpulkan bangkai-bangkai hewan yang ditemukan di lokasi kebakaran lahan. Selanjutnya, bangkai-bangkai tersebut dikuburkan di lokasi sekitar yang dinilai aman dari kebakaran lahan.

Menurut Rihel, kebakaran lahan dan asap yang terjadi saat ini sudah cukup parah. Sebarannya yang sporadis juga berdampak terhadap habitat satwa liar hingga akhirnya banyak yang ikut terbakar.



"Kondisi seperti ini, jangankan hewan, kita manusia saja juga kewalahan. Bahkan beberapa kali warga di sekitar lokasi kebakaran kami minta keluar dari rumah karena kebakaran lahan cukup dekat dari rumah mereka. Untungnya kemudian kebakaran lahan itu berhasil dipadamkan," jelas Rihel. (rvk/asp)