detikNews
Rabu 11 September 2019, 09:29 WIB

Kontur Cipularang Dinilai Menurun Panjang, Pemerintah Diminta Batasi Truk

Ibnu Hariyanto - detikNews
Kontur Cipularang Dinilai Menurun Panjang, Pemerintah Diminta Batasi Truk ilustrasi Tol Cipularang KM 91 (Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)
Jakarta -
Pengamat Transportasi Deddy Herlambang meminta pemerintah segera menerapkan sejumlah program baru untuk menekan angka kecelakaan di Tol Cipularang, Jawa Barat. Ia mengatakan Tol Cipularang merupakan ruas tol yang rawan kecelakaan.

"Kalau di situ (ruas Tol Cipularang) memang konturnya menurun panjang, dari BPJT itu ada 46 kejadian (kecelakaan) jadi sangat rawan, jadi memang seharusnya pemerintah sudah turun Kemen PUPR, Bappenas, Kemenhub, Kementerian Kesehatan mereka harus mulai memikirkan. Masak harus menunggu benturan lagi. Sebaiknya, seyogjanya dalam waktu 3 bulan ke depan sudah menerbitkan program untuk masalah keselamatan Tol Cipularang ini," kata Deddy saat dihubungi, Selasa (10/9/2019).



Deddy mengatakan program yang mungkin bisa dilakukan pemerintah antara lain, melakukan pelarangan truk ODOL (overdimension and overload) melintas di Tol Cipularang. Sebab, menurutnya truk ODOL sangat beresiko tinggi mengakibatkan kecelakaan.

"Pelarangan truk ODOL. Jadi selain truk yang membawa sembako, BBM dilarang lewat tol kan juga bisa. Dengan tidak adanya truk-truk itu (ODOL) tadi selain resiko remnya blong dan mengurangi kecepatan flow jalan. Itukan truk kalau jalan di pinggir dan tengah lambat sekali sehingga melambat flow tol," ucapnya.

Lalu, Deddy juga meminta pemerintah membuat jembatan timbang sebelum masuk tol. Jembatan timbang itu berguna untuk melakukan pengawasan rutin hingga ramp check terhadap truk-truk yang masuk tol.



"Pengawas truk-truk harus diawasi untuk kelayakan truknya. Kan kalau bus bisa dilakukan ramp check di terminal, setiap hari Dishub kan bisa lakukan di terminal-terminal. Nah kalau truk siapa yang mau uji? meski truk itu tidak bawa penumpang tapi bisa membuat kecelakaan penguna jalan yang lain, contoh di Cipularang itu. Seharusnya truk pun harus dikenakan ramp check, kondisi remnya, muatannya berapa bearti jembatan timbang harus diadakan di setiap masuk tol," sebut Deddy.

Menurut Deddy kedua program itu bisa dilakukan segera. Selain itu, Deddy juga meminta pemerintah melakukan program untuk jangka panjang yakni melalukan revisi terhadap UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

"Kalau ini memang jangka panjang, ini regulasi, yakni perubahan UU Lalu Lintas Jalan UU Nomor 22 tahun 2009," katanya.

Ia berharap dalam UU yang baru nanti bila terjadi kecelakaan bukan hanya sopir, namun pengusaha dan penyewa truk tersebut juga dikenai jeratan hukuman. Menurutnya, dengan cara itu diharapkan lebih memberikan efek jera.

"Karena kalau terjadi kecelakaan apapun yang jadi tersangka sopirnya, nah ini kan tidak ada efek jera dan pengusaha truk tidak kena dan yang menghire tidak kena. Misal kalau yang di Cipularang ini itukan kelebihan muatan dan kontraktornya memaksakan, itu kan resiko di jalan. Kan UU itu baru pengemudi truk yang tersangka, tidak pengusahanya yang tersangka, juga siapa yang menyewa tidak ditersangkakan," tuturnya,

"Jangka panjang UU-nya tadi, jadi semua bisa tersangka bukan hanya sopir, bisa pengusaha dan penyewa itu bisa adil, bisa ada efek jera, truk jadi tidak asal-asalan," imbuhnya.



Untuk diketahui, dalam tempo 8 hari terjadi dua kecelakaan di ruas Tol Cipularang. Peristiwa pertama, terjadi pada Senin (2/9) di KM 91 Tol Cipularang. Delapan orang tewas dan sejumlah orang terluka dalam kecelakaan itu.

Polisi telah menetapkan dua tersangka dalam kecelakaan maut di Jalan Tol Cipularang. Kedua tersangka disangka lalai sehingga mengakibatkan kematian orang lain. Kedua tersangka adalah pengemudi truk, yakni Dedi Hidayat (DH) dan Subana (S). Polisi juga mengatakan truk yang dikemudikan tersangka kelebihan muatan.

Yang teranyar, kecelakaan kembali terjadi lokasi yang sama pada Selasa (10/9/2019) sore. Kecelakaan ini melibatkan lima kendaraan yaitu dua truk dan tiga minibus. Dua orang terluka akibat insiden tersebut.
(ibh/nvl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com