detikNews
Selasa 10 September 2019, 21:53 WIB

MPR: Amandemen UUD 1945 Tak Akan Melebar ke Mana-mana

Alfi Kholisdinuka - detikNews
MPR: Amandemen UUD 1945 Tak Akan Melebar ke Mana-mana Foto: MPR
Jakarta - Anggota Badan Pengkajian MPR RI Bambang Sadono meyakini amandemen terbatas UUD NRI Tahun 1945 untuk memberi kewenangan MPR menetapkan GBHN tidak akan melebar kemana-mana seperti yang dikhawatirkan oleh sejumlah pihak. Sebab, untuk melakukan amandemen UUD sudah diatur dalam Pasal 37 UUD NRI Tahun 1945.

"Dalam pasal 37 UUD NRI Tahun 1945 sudah diatur bahwa untuk amandemen UUD harus disebutkan secara jelas pasal yang akan diubah, alasan perubahan pasal, dan bagaimana perumusan perubahan pasal. Jadi tidak mungkin melebar kemana-mana," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (10/9/2019).

Hal itu disampaikannya pada saat diskusi panel bertema Evaluasi Pelaksanaan UUD NRI Tahun 1945' di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Diskusi panel yang digelar MPR ini merupakan kegiatan dalam Festival Konstitusi dan Anti Korupsi.



Bambang mengatakan kemungkinan amandemen UUD untuk memberi kewenangan MPR menetapkan GBHN itu tergantung pada kekuatan di MPR. Jika DPR dengan jumlah anggota 575 itu menyetujui MPR diberi kewenangan, maka GBHN bisa kembali dihidupkan.

"Semua fraksi di MPR sudah setuju dengan menghidupkan kembali GBHN. Sekarang tergantung pada pimpinan partai. Kalau pimpinan partai oke maka sudah selesai," imbuhnya.

Bambang mengungkapkan MPR sudah lama mengkaji reformulasi sistem perencanaan pembangunan model GBHN. Tapi bukan berarti seperti GBHN pada masa Orde Baru.

"Istilah GBHN ini menimbulkan kesalahpahaman bahwa kita akan mengembalikan GBHN seperti pada masa Orde Baru. Padahal tidak seperti itu," ujarnya.

Karena kesalahpahaman itu, kata Bambang, ada ahli hukum yang mengatakan bahwa dengan GBHN maka kembali ke masa orde baru, pemerintah anti demokrasi dan otoriter. Ada juga pengamat politik yang menyebut GBHN sebagai haluan fatamorgana.

"Ada persepsi GBHN seperti masa orde baru. Akan ada evaluasi pelaksanaan GBHN setiap lima tahun dan evaluasi terhadap presiden. Padahal bukan seperti itu," sebutnya.



Dia menjelaskan di MPR masih ada perbedaan pendapat apakah GBHN diatur melalui Ketetapan MPR atau melalui Undang-Undang. Akhirnya diputuskan bahwa Haluan Negara yang sifatnya makro dan berjangka panjang serta menyangkut seluruh aspek kehidupan bernegara ditetapkan melalui Ketetapan MPR.

"Yang diputuskan MPR adalah Haluan Negara," tuturnya.

"Haluan Negara itu isinya sangat singkat hanya sekitar 10 halaman. Isi Haluan Negara adalah program jangka panjang 25 atau 50 tahun yang akan datang dan bersifat mengikat semua lembaga negara. Haluan Negara itu akan menjadi landasan haluan pembangunan seperti GBHN pada masa lalu atau pembangunan jangka pendek dan menengah," imbuhnya.

Kesalahpahaman yang lain, lanjut Bambang, adalah istilah mengembalikan MPR sebagai lembaga tertinggi negara. Menurutnya, lembaga tertinggi negara hanyalah istilah fungsional dan soal tafsir.

"Kesimpulan yang sudah kita sepakati adalah MPR bukan sebagai lembaga tertinggi negara melainkan lembaga dengan kewenangan tertinggi karena mempunyai kewenangan mengubah dan menetapkan UUD," katanya.

"Memberi kewenangan MPR untuk menetapkan GBHN tidak berarti MPR menjadi lembaga tertinggi negara. MPR menjadi lembaga tertinggi pada waktu lalu, karena MPR memiliki kewenangan memilih presiden dan wakil presiden. Sekarang kewenangan itu sudah tidak ada sehingga tidak mungkin MPR menjadi lembaga tertinggi negara," pungkas Bambang.
(akn/prf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com