Berharap Dipertimbangkan Jokowi, Ini Pidato Lengkap Kontemplasi SBY

Berharap Dipertimbangkan Jokowi, Ini Pidato Lengkap Kontemplasi SBY

Marlinda Oktavia Erwanti - detikNews
Senin, 09 Sep 2019 22:18 WIB
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan pidato kontemplasi (Foto: Grandyos Zafna/detikcom)
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan pidato kontemplasi (Foto: Grandyos Zafna/detikcom)
Jakarta - Ketua Umum Partai Demokrat (PD) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan pidato kontemplasi. Dalam pidatonya, SBY mengungkapkan syukur bisa merayakan ulang tahun ke-70.

Rasa syukur dan bahagia itu dibarengi rasa haru mengingat sang ibunda, Siti Habibah, baru saja meninggal sepuluh hari lalu. SBY juga mengenang, tepat seratus hari yang lalu, istrinya, Ani Yudhoyono, juga meninggal dunia.

Selain itu, dalam pidato kontemplasi yang digelar di Cikeas, Bogor, Senin (9/9/2019) ini, SBY juga bicara soal situasi kebangsaan. Presiden ke-6 RI ini menyoroti soal persatuan dan kesatuan bangsa yang menurutnya saat ini sudah 'lampu kuning'.


Menurutnya, perlu upaya penguatan yang melibatkan seluruh pihak. Dibutuhkan rasa cinta dan kekeluargaan untuk bisa merajut persatuan dan kesatuan RI yang memiliki begitu banyak keberagaman di dalam masyarakatnya.

SBY juga meminta seluruh pihak untuk mendukung pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dia juga berharap pidato kontemplasi ini dipertimbangkan Jokowi untuk mengambil kebijakan. SBY mengatakan menciptakan masyarakat-bangsa-negara yang baik merupakan agenda yang berkesinambungan.


Berikut isi lengkap pidato kontemplasi SBY:



Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Orang bijak berkata, "Setiap hari berbeda, setiap hari punya makna" juga, "Setiap hari ibadah, setiap hari kita mencari berkah" Demikian pula hari ini 9 September 2019.

Selain itu, saya yakin kita semua, yang hadir di tempat ini, saat ini, tentulah ingin agar "Hari ini lebih baik dari hari kemarin", dan "Hari esok lebih baik dari hari ini". Karenanya, jika hari ini saya menyampaikan "Pidato Kontemplasi", saya sungguh berniat dan memohon kepada Tuhan, Allah SWT, agar hari esok dan ke depannya lagi, kita bisa melakukan sesuatu yang bermakna dan bisa berbuat yang lebih baik.

Baik sebagai umat hamba Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, maupun sebagai warga bangsa Indonesia tercinta, bahkan warga dunia yang mendambakan dunianya makin baik di masa depan.

Para Sahabat,
Lewat tengah malam, memasuki hari baru 9 September 2019 ini, saya terbangun dari tidur.

Saya yakin, hal itu bukan hanya kebetulan. Tetapi, sang Pencipta mengingatkan saya bahwa usia saya genap 70 tahun. Karenanya, saya sungguh bersyukur dan berterima kasih kepada Allah, atas segala karunia yang diberikan kepada saya. Betapa Maha Pengasih dan Maha PemurahNya Tuhan Sang Pencipta. Namun, segera saya sadari, rasa syukur dan bahagia tersebut berbarengan pula dengan rasa haru dan duka.

Sepuluh hari yang lalu, sepuluh hari menjelang hari kelahiran saya ini, Ibunda tercinta, yang melahirkan saya 70 tahun yang lalu, tepat tanggal 9 September 1949, telah dipanggil oleh Allah SWT.

Rasa duka yang lain adalah ini adalah hari ulang tahun yang pertama, yang di tengah malam yang hening, tak ada lagi yang memeluk saya, seraya membisikkan kata-kata yang indah. "Selamat Ulang Tahun, Pepo. Happy Birthday. Panjang usia, bahagia dan sukses selalu". Karena, karena orang yang setiap tahun melakukan itu, isteri tercinta, 100 hari yang lalu juga telah berpulang ke Rahmatullah. Meskipun, isteri tercinta Ani Yudhoyono, akan selalu berada di hati saya. Menyatu dengan memori indah, yang kami bangun selama 43 tahun bersamanya.

Inilah kehidupan. Penuh paradox. Satu titik, dua sisi. Dua sisi dari satu mata uang logam. Kodrat keseimbangan dalam domain kekuasaan Tuhan. Semua hukum kehidupan ini, hadir dan kita rasakan hari ini. Paling tidak untuk diri saya secara pribadi. Di satu sisi saya bersyukur, bahagia dan bergembira, karena hari ini usia saya genap 70 tahun.

Juga gembira, karena di antara yang hadir juga ada teman-teman seperjuangan dari Partai Demokrat, yang hari ini memperingati hari jadi Partai yang ke 18 tahun.

Namun, di sisi lain, saya bersedih, bersedih, karena, kedua orang yang amat saya sayangi, tidak bisa lagi ikut bersyukur dan berbahagia di hari yang istimewa ini, 9 September 2019.

Para sahabat, dengan mukadimah seperti itu, Ijinkan saya untuk menyampaikan Pidato Kontemplasi saya. Semoga hadirin sekalian berkenan mendengarkannya.

Kontemplasi yang hendak saya sampaikan ini berangkat dari apa yang saya dapatkan dalam perjalanan hidup saya selama ini. Dalam bentangan waktu 70 tahun usia saya, saya hidup dalam 3 penggal sejarah yang berbeda. Era Presiden Sukarno, Era Presiden Soeharto, dan Era Reformasi. Kita tahu, masing-masing era memiliki semangat zaman, kehidupan, dan corak sejarah yang berbeda-beda.

Dari sisi profesi dan pengabdian, 20 tahun saya menjadi warga sipil dan seorang pemuda yang menempuh pendidikan awal, 30 tahun menjadi prajurit dan perwira militer yang bertugas menjaga kedaulatan dan keutuhan negara, 15 tahun mengabdi di jajaran pemerintahan, baik sebagai menteri maupun presiden, dan kemudian, 5 tahun terakhir ini saya kembali ke pangkuan masyarakat sipil. Dalam kurun waktu yang panjang inilah, saya mengarungi berbagai ragam kehidupan yang dinamis, sarat dengan pasang dan surut, suka dan duka, serta sukses dan gagal. Namun, saya bersyukur karena dapat memetik berbagai hikmah dan pelajaran, dan menjadikan perjalanan hidup saya sebagai universitas yang abadi. Mungkin para sahabat akan bertanya ~ lantas apa hikmah dan pelajaran yang saya petik?



Jawaban saya, tentu banyak. Banyak sekali.

Karena banyak, dalam kontemplasi ini saya ingin memilih beberapa. Dan, pilihan saya adalah hikmah dan pelajaran apa yang saya dapatkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di negeri tercinta ini, baik dalam kapasitas saya sebagai rakyat, maupun sebagai pemimpin. Pemimpin dalam berbagai tingkatan, mulai dari tingkat bawah hingga puncak. Juga pemimpin dalam berbagai cabang kehidupan, militer, politik dan pemerintahan.

Berbicara tentang kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, cakupannya bisa sangat luas, elemennya juga banyak. Karenanya, saya ingin mendekatinya dengan pikiran dan pertanyaan yang sederhana. Mari kita renungkan bersama, dan apa jawaban kita terhadap pertanyaan seperti ini "Ingin menjadi manusia seperti apa diri kita?"

Hampir pasti setiap orang punya jawabannya sendiri-sendiri. Yang jelas, apapun narasinya, setiap orang pasti ingin menjadi manusia yang baik, hidupnya baik, dan membawa pula kebaikan bagi yang lain.

Kalau kita lebarkan dan tingkatkan cakupannya, misalnya "Lantas masyarakat seperti apa yang kita inginkan?" Jawabannya, pastilah kita ingin memiliki dan menjadi masyarakat yang baik,"A Good Society".

Demikian juga kalau kita lanjutkan, bangsa dan negara seperti apa yang kita tuju dan kita bangun, jawabannya akan serupa "A Good Nation, A Good Country". Kalau kita membaca literatur dan mempelajarai definisi dan kriteria apa itu masyarakat yang baik (good society) dan negara yang baik (good country), akan kita dapati bahwa rumusannya ada yang sifatnya universal, namun ada juga yang khas negara tertentu. Tentu, kontemplasi saya ini tidak hendak menguraikan apa rumusan yang sering
dirujuk oleh banyak negara itu. Bukan.

Justru di sinilah, saya ingin menyampaikan apa yang saya pelajari dan dapatkan sendiri, dari berbagai pengalaman dan pelajaran kehidupan dan pengabdian di negeri ini.

Untuk mempersingkat uraian saya, saya ingin langsung memberi judul dan rumusan seperti ini: "Nilai-nilai dan perilaku kehidupan seperti apa yang sepatutnya kita anut dan jalankan, agar masyarakat kita menjadi "the good society", dan agar pada gilirannya, Indonesia menjadi "the good country".

Yang ingin saya kedepankan ini adalah pandangan dan pendapat saya, berangkat dari pengamatan dan pengalaman yang panjang. Tentulah, hadirin bisa bersetuju atau tidak.



Saya akan mulai dari yang pertama, yaitu tentang bagaimana masyarakat yang baik dapat kita hadirkan. Kita tahu, masyarakat dan bangsa Indonesia amat majemuk. Majemuk dari segi identitas, misalnya berbeda agama, suku, etnis dan kedaerahan. Juga majemuk dari segi paham dan aliran, baik politik maupun ideologi, serta dari segi strata sosial-ekonomi.

Sejarah menunjukkan, bahwa kemajemukan ini di satu sisi adalah anugerah kekayaan dan kekuatan. Namun, di sisi lain adalah kerawanan, sumber konflik dan juga kelemahan.

Karenanya, tak ada resep ajaib untuk menjaga persatuan dan kerukunan, kecuali secara sadar kita memperkuat 2 nilai fundamental dan kemudian menjalankannya dengan sungguh-sungguh. Apa itu?

Pertama adalah kasih sayang (love) di antara kita, dan bukan kebencian (hatred). Kedua adalah rasa persaudaraan (brotherhood) yang kuat di antara kita, sesama bangsa Indonesia,dan bukan membangun jarak dan permusuhan (hostility) di antara masyarakat yang berbeda identitas.

Terus terang, tahun-tahun terakhir ini kasih sayang dan rasa persaudaraan ini melemah, sementara kebencian, jarak dan permusuhan di antara komponen bangsa yang berbeda identias menguat. Ini lampu kuning. Ini sebuah fenomena dan arus buruk yang membahayakan masyarakat dan bangsa kita.

Kita semua, harus mengambil tanggung jawab untuk menghentikan dan membalikkan fenomena dan arus yang salah ini, Untuk selanjutnya kembali ke arah yang benar.

Ini yang pertama, yang berkaitan dengan kehidupan sosial kita. Berikut ini adalah yang berkaitan dengan kehidupan ekonomi. Para pendiri republik, para "founding fathers", menggariskan sebuah cita-cita besar untuk membangun masyarakat dan bangsa yang adil dan makmur.

Nilai dan perilaku kehidupan penting yang mesti kita anut adalah marilah kita berikhtiar seraya bergandengan tangan, agar bisa makmur bersama-sama. Kalau semua makmur, semua sejahtera, rasa keadilan akan datang dan bersemi di negeri ini. Realistiknya adalah yang miskin makin berkurang, dan ketimpangan sosial ekonomi tidak semakin menganga. Yang kaya mesti ingat yang miskin, yang kuat mesti ingat yang lemah. Sementara itu, di arena kehidupan politik, ada pula yang harus kita jaga secara bersama.

Esensinya, Ke depan, politik kita harus makin menjadi politik yang baik Bagi bangsa yang majemuk, Yang juga menganut sistem demokrasi multi partai, politik kita harus makin guyub, makin inklusif, dan makin teduh. Demokrasi tak harus selalu diwarnai dan diselesaikan dengan "one person one vote", tapi juga ada semangat yang lain.

Kompromi dan konsensus yang adil dan membangun bukanlah jalan dan cara yang buruk. Prinsip "the winner take all" yang ekstrim, seringkali tidak cocok dengan semangat kekeluargaan dan keterwakilan bagi masyarakat dan bangsa yang majemuk. Nilai-nilai dan perilaku kehidupan seperti itulah, yang menurut pandangan dan pendapat saya mesti dibangun dan dimekarkan di negeri ini. Jika sungguh kita lakukan, insya Allah, kita akan benar-benar bisa menghadirkan "Masyarakat yang baik", "Ekonomi yang baik" dan "Politik yang baik".



Terakhir, ini adalah forum dan kesempatan yang baik bagi saya untuk menyampaikan satu hal yang harus menjadi pemahaman bersama. Membangun bangsa dan negara bukanlah pekerjaan sekali jadi, apalagi instan. Diperlukan waktu yang panjang, serta ikhtiar dan kerja besar yang mesti dilakukan secara terus menerus. Tak ada perjalanan dan pembangunan bangsa yang bebas dari rintangan, termasuk dinamika dan pasang surutnya. Karenanya, kita harus bersabar, tak putus asa dan lekas menyerah.

Namun, kita harus sungguh gigih, dan bekerja sekuat tenaga, agar Indonesia semakin maju dan berjaya di masa depan. Pemilihan Umum baru selesai kita lakukan. Rakyat telah memberikan mandatnya kepada kepemimpinan yang baru.

Dalam kapasitas saya selaku pribadi dan pemimpin Partai Demokrat, saya mengajak saudara-saudara kami rakyat Indonesia, untuk memberikan kesempatan dan dukungan kepada pemimpin dan pemerintahan yang baru, agar sukses dalam mengemban amanah rakyat. Melalui mimbar kecil di Cikeas ini, saya menitipkan harapan kepada Bapak Presiden Jokowi beserta jajaran pemerintahan yang beliau pimpin, agar kiranya materi kontemplasi yang saya sampaikan malam ini, dapat melengkapi agenda, kebijakan dan langkah tindakan yang diambil oleh negara dan pemerintahan mendatang.

Saya tahu, membangun nilai dan perilaku menuju terciptanya masyarakat yang baik, bangsa yang baik, dan negara yang baik, adalah merupakan agenda berkesinambungan, dari satu pemimpin ke pemimpin berikutnya, dan dari satu generasi ke generasi yang lain, namun, semuanya harus dimulai dari sekarang.

Demikian pidato kontemplasi saya, atas kesabaran dan perhatian hadirin saya ucapkan terima kasih. (jbr/idn)